Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Mengendalikan diri


__ADS_3

Ustad Zaki memilih tidur sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Zahra. Sengaja menghindari gejolak itu, pesona Zahra berhasil mengoyakkan pertahanan ustad Zaki.


Selain ustad Zaki, rupanya ciuman singkat tadi berhasil membekas begitu dalam pada diri Zahra, hingga ia terus memegangi bibirnya itu. Ia tidak tahu sensasi apa yang keluar dari tubuhnya, rasanya panas meskipun berada di ruangan yang dingin, tapi panas itu sungguh beda. Sensasinya sungguh membuatnya ingin merasakan kembali, lagi dan lagi. Tapi untuk memintanya langsung pada pemilik bibir ranum itu, rasanya enggan. Logikanya masih menang, benarkah begitu? Tapi nyatanya saat ini tangannya tidak mampu untuk ia tahan, tangannya sudah menggantung di udara.


"Tidur dek,"


Suara ustad Zaki membuat Zahra mendongakkan kepalanya, ia pikir pria di sampingnya itu sudah tidur pulas. Tapi rupanya gerakan sehalus apapun itu, berhasil membuat pria itu tidak bisa tidur.


"Belum tidur ya?" tanya balik Zahra pada sang suami, rupanya bukan hanya dirinya.


Terlihat anggukan halus dari pria itu, "Hmmm! Tidurlah!" ucapnya pelan tampan membalik badannya.


Zahra tidak lagi menjawab, ia segera merubah posisi tidurnya, memilih memiringkan tubuhnya menghadap punggung sang suami, ia menatap punggung bidang itu sekali lagi bayangan ciuman singkat terngiang di benaknya, tanpa sadar jari-jari lentiknya mulai menyentuh punggung itu, membuat lukisan absrak di sana.


"Dek!?" ternyata ustad Zaki cukup terusik dengan keadaan ini, jangankan menyentuh hanya hembusan nafas dari Zahra saja sudah membuat sang ustad ketar-ketir apalagi ini sampai menyentuh.


Rupanya apa yang di lakukan oleh Zahra bereaksi pada tubuh ustad Zaki, sentuhan yang di berikan oleh Zahra, walaupun sedikit memberi dampak luar biasa pada tubuhnya. Apalagi ciuman yang sempat ia lakukan, ternyata bukan hanya Zahra yang tidak bisa melupakan. Itu ciuman pertama mereka. Sensasi itu masih begitu nyata menempel di bibir mereka.


"Mas, Zahra nggak bisa tidur!" suara Zahra terdengar begitu lembut di telinga ustad Zaki, selembut itu juga menyusup ke dalam hati ustad Zaki hingga ia tidak bisa lagi mengendalikan gejolak luar biasa yang tiba-tiba mengalir dengan sempurna ke tubuhnya seperti sengatan listrik dengan tegangan tinggi.


Ustad Zaki memejamkan matanya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari hal lain, tapi nyatanya tidak bisa. Semakin ia mencoba rasanya semakin nyata.


"Dek, hentikan itu di punggung mas!" bahkan suara sang ustad sekarang sudah begitu berat.


"Kenapa?" tanya Zahra dengan polosnya, ia tidak tahu pria di depannya tengah memejamkan matanya dan berusaha keras untuk menahan sesuatu yang berusaha bangkit dalam dirinya.


Ya Allah, sampai kapan hamba bisa menahan godaan ini ...

__ADS_1


Hanya bisa mengadu pada Allah yang bisa di lakukan oleh ustad Zaki.


"Tidurlah!" lagi-lagi hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir ustad Zaki. Membuat Zahra mendengus kesal, ia benar-benar belum bisa tidur tapi sang suami malah terus memintanya untuk tidur.


"Aku beneran nggak bisa tidur!" ucap Zahra kali ini bukan hanya menusuk-nusuk punggung ustad Zaki tapi ia dengan berani menyusupkan tangannya ke balik kaos ustad Zaki dan mengusap perut sang suami.


Srekkkkk


Tiba-tiba tubuh ustad zaki berbalik dan menindih tubuh mungil Zahra.


"Ahhhhh!?" Zahra benar-benar terkejut. Ia sampai memejamkan matanya karena gerakan tiba-tiba dari ustad Zaki.


"Ini kamu ya yang minta!?" ucapnya yang tidak mampu menahan lagi.


Zahra perlahan membuka matanya, "Memang Zahra minta apa?"


Sekali lagi bibir ustad Zaki menempel sempurna ke bibir Zahra membuat Zahra terdiam dengan mata yang terbuka sempurna.


Ini beneran ciuman kedua aku?


Zahra menikmati sentuhan itu, ia merasakan hangatnya bibir sang ustad. Melihat Zahra tidak menolak apa yang ia lakukan, ustad Zaki pun memperdalam ciumannya.


Sepertinya sudah hukum alam, walaupun sama-sama tidak berpengalaman dalam hal ini, ternyata keduanya bisa saling mengimbangi hingga ciuman itu berlangsung cukup lama.


Setelah cukup lama, ustad Zaki menarik bibirnya dan menatap Zahra yang tengah mendamba sentuhan lebih dari sang ustad.


"Sudah ya!" ucap ustad Zaki sambil mengusap bibir Zahra yang basah. Ia tidak mau sampai kebablasan, ia sudah berjanji akan benar-benar meminta haknya saat Zahra sudah lulus SMA.

__ADS_1


Setengah tahun lagi, sabar Zaki ..., ustad Zaki tengah berusaha menasehati dirinya sendiri. Ia tidak mau membuat masalah untuk sang istri.


"Kenapa?" rupanya Zahra juga tidak ingin hal itu berakhir.


"Mas takut kebablasan. Tidurlah, mas ke kamar mandi dulu!" ustad Zaki meninggalkan kecupan di kening Zahra kemudian beranjak ke kamar mandi, ia harus mengguyur tubuhnya dengan air dingin, menidurkan yang sudah terlanjur bangun.


"Suka sekali dia ke kamar mandi." gerutu Zahra sambil menatap punggung sang suami yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Meskipun sedikit kecewa, tapi juga ada perasaan lega. Sebenarnya itu juga belum benar-benar siap jika apa yang mereka lakukan sampai berlanjut.


"Ehhh tunggu, tadi kayaknya ada yang keras-keras di bawah, apa itu yang namanya_!" tiba-tiba Zahra malu sendiri membayangkan apa yang keras dan mengganjal tepat mengena di antara kedua pahanya.


"Ahhhh nggak mungkin!" Zahra segera menutup wajahnya dengan tangan, rasanya malu sendiri membayangkannya. Apalagi saat ini pikiran joroknya telah mendominasi.


"Ini benar-benar gila, nggak boleh kayak gini terus aku harus tidur!"


Selagi Zahra sibuk dengan pemikirannya sendiri, ustad Zaki tengah sibuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin meskipun saat ini udara sedang cukup dingin.


Sesekali nampak bibirnya beristigfar, mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2