
"Ustad Zaki kenapa wajahnya jadi dingin gitu ya?" bisik Nana pada Zahra yang kebetulan duduk di sebelahnya,
"Nggak tahu, mungkin takut kali sama istrinya."
Mendengar ucapan Zahra tiba-tiba Nana menutup mulutnya yang terbuka sempurna, kembali ia menarik lengan baju Zahra,
"Jadi rumor yang aku denger bener kalau ustad Zaki sudah punya istri?"
"Bukan rumor, itu kenyataannya." jawab Zahra dengan santainya, tidak ada yang tahu jika Zahra adalah istri salah satu dosen di kampus tempatnya kuliah, apalagi dosen itu menjadi idola bagi banyak mahasiswa. Zahra sengaja me.jnta syarat pada sang suami untuk tidak menyebutkan identitasnya di kampus agar ia tetap leluasa dan tidak merasa canggung dengan yang lainya.
"Issstttt, kamu mah santai, udah ada yang jagain jadi nggak ikutan patah hati kalau gini."
Ucapan Nana berhasil membuat Zahra menoleh padanya,
"Apaan?"
"Bapaknya tuh yang ada di perut." ucap Nana sambil menunjuk perut zahra yang sudah mulai berisi. Meskipun baju Zahra longgar tetap saja ia tidak bisa lagi menutupi perutnya yang semakin hari semakin besar.
'Ahhhh, dia yang punya bayi lagi di depan. Lagi jagain tuhhhh, ahhh matanya aja terus kayak satpam,' batin Zahra sambil melirik suaminya yang memang ia rasa sedari masuk kelas tidak pernah lepas dari mengawasinya.
"Mbak Zahra, mbak Nana, saya perhatikan dari depan sedari tadi kalian bicara sendiri." suara Barito itu seketika berhasil membuat Nana maupun Zahra terdiam, apalagi saat namanya di sebut.
"Coba jelaskan tentang bagaimana perjuangan Islam di konstantinopel!" ucap ustad Zaki lagi membuat Nana dan Zahra malah saling melempar pandang.
'Ahhhh yang benar saja, aku tidak begitu mendengarkannya tadi.' batin Zahra sambil menelan Salivanya dengan susah payah.
"Tolong ke depan tanpa membawa apapun, termasuk ponsel." perintah ustad Zaki lagi.
"Siapa pak?" tanya Nana memberanikan diri.
"Kalian berdua."
Akhrinya tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah ustad Zaki, Zahra dan Nana pun terpaksa berdiri di depan kelas dan menjelaskan sebisanya, walaupun tidak banyak tapi ia sempat membaca tentang yang di jelaskan oleh sang suami plus dosen galaknya itu.
***
__ADS_1
"Dasar dosen galak, seenaknya saja suruh maju. Memang Zahra anak jenius apa," gerutu Zahra sambil berjalan hendak pulang, mas Imron sudah menunggunya di depan gerbang kampus.
Meskipun ada ustad Zaki, tapi Zahra memilih pulang di jemput mas Imron untuk cari aman.
Baru saja beberapa meter ia berjalan, manik matanya tertarik pada sekerumunan mahasiswa kakak tingkat yang tengah duduk di teras kelas dan bersiap untuk pulang.
"Apa aku nggak salah lihat!?" gumamnya.
Tapi ternyata rasa penasarannya cukup besar hingga ia tidak cukup hanya dengan melihat dari kejauhan.
Jika saja ia tidak melihat sekelebat suaminya yang ada di ruang dosen tengah mengawasinya, mungkin saat ini ia tengah berlari untuk menghampiri orang itu.
Zahra perlahan berjalan menghampiri para mahasiswa itu, hingga langkahnya terhenti tepat di samping para mahasiswa itu.
Melihat kedatangan Zahra, beberapa dari mereka tampak cuek, tapi berbeda pada seorang mahasiswa dengan kemeja biru muda itu, ia segera berdiri dan mendekat pada Zahra.
"Jah."
"Mas Amir nyapo nek kene (Kenapa di sini)?" Zahra malah sudah berkacak pinggang sekarang. Beberapa teman pria Amir saling menatap pada Amir.
"Adik kamu ya Mir?" pertanyaan itu langsung terlontar dari temannya.
Zahra yang berjalan di belakang Amir benar-benar tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari Amir.
Hingga akhirnya mereka berhenti di taman kampus dekat jalan akses keluar masuk kampus.
"Wis, Saiki jelasno mas Mir (Sudah, sekarang jelaskan mas Mir)?" setelah berhenti Zahra langsung menodong pertanyaan pada Amir.
"Opo sih Jah seng kudu di jelasno (Apa sih Zah yang harus di jelaskan)?"
"Nyapo mas Amir kok iso nek kene (Kenapa mas Amir bisa di sini)?"
"Ya kuliah, Jah. Mosok dolan (Masak main)!"
"Sejak kapan?"
__ADS_1
"Yo sejak tahun lalu."
"Jangan bilang ini kerjaannya mas ustad juga?"
"Jadi kamu nggak iklas kalau ustad Zaki bayar kuliah aku? Gitu?"
"Yo nggak gitu mas, maksudku mas ustad nyuruh mas Amir buat ngawasin Zahra juga kan? Ayo ngaku?"
"Yo iku cuma tugas tambahan. Tugas pokoknya ya kuliah." ucap Amir dengan gaya medoknya.
"Ya kaaaaaannnn."
"Yo tapi jangan marah ya sama ustad, lagi pula Jah duluan aku masuk kampusnya."
"Yo wes lah mas, aku balek (Aku pulang)."
Zahra pun memilih meninggalkan Amir, lagi pula Imron sudah menunggunya di depan kampus.
Memang tidak ada yang salah, hanya ternyata suaminya lebih cerdik di banding dirinya.
"Pantas aja mas ustadz promosinya menggebu-gebu biar Zahra mau masuk kampus ini, la wong udah di sediain penjaganya juga." gerutu Zahra hingga tampan sadar ia sudah berada di depan mobil.
"Opo to dek, grutu ae?" pertanyaan Imron menyadarkannya.
"Loh mas_,"
"Opo? Makane lek mlaku Ki fokus, nggak usah Karo nggremeng (makanya kalau jalan itu fokus, jangan sambil gerutu)."
"Opo sih mas, enggak. Zahra tadi cuma ngapalin pelajaran." ucap Zahra beralasan sambil masuk ke dalam mobil dan Imron pun menyusulnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...