Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
POV ustad Zaki (1)


__ADS_3

POV ustad Zaki


Rasanya baru saja meninggalkan rumah, baru beberapa jam yang lalu dan rasa rindu ini sudah terasa memberatkan langkahku. Ingin rasanya berbalik dan kembali,


...ya Allah semua aku serahkan padaMu .......


"Terimakasih ya pak, pak Dul langsung kembali saja!?" akhrinya sampai juga di bandar udara Juanda,


Bismillah ..., aku berharap langkah ini akan menjadi ringan.


"Baik ustad,"


"Oh iya jangan lupa ya pak Dul, nanti antar jemput dek Zahra ya!?"


"Siap ustad, kalau begitu saya permisi dulu! assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Pak Dul kembali masuk ke dalam mobil setelah membantuku mengeluarkan tas milikku.


Ku langkahkan kakiku masuk ke bandara, pesawatku hampir berangkat, ku percepat langkahku agar tidak sampai ketinggalan.


Hingga akhirnya aku duduk di salah satu kursi pesawat, rasanya begitu hampa saat tidak mendengar suara Zahra.


Sebelum mematikan ponsel, aku sempatkan untuk mengirim pesan pada dek Zahra,


//Dek, mas sudah berada di pesawat sekarang, doakan mas selamat sampai tujuan ya, salam rinduku untukmu. ♥️♥️♥️//


Aku sengaja tidak menunggu balasan dari dek Zahra, agar aku punya alasan untuk segera membuka ponselku lagi nanti begitu sampai di Bandung.


Aku segera mematikan ponselku dan memasukkannya ke dalam tas, menunggu hingga instruksi pramugari bahwa pesawat akan terbang.


***


Ini adalah tanah kelahiranku, tapi menjadi terasa asing saat seseorang yang menjadi takdir hidupku tidak bersamaku,


"Terimakasih pak!?" ucapku pada sopir taksi yang telah membawaku hingga ke depan gerbang pesantren.


Pesantren itu sudah banyak berubah, aku biasanya hanya pulang saat lebaran, itupun tidak lama.


Hehhhh ....


Beberapa santri tampak keluar masuk dari pintu itu, aku pun segera melangkahkan kakiku, rumah Abi dan ummi berada di samping pesantren tapi masih dalam komplek pesantren, jadi untuk masuk ke sana aku harus melalui gerbang yang sama dengan gerbang para santri.


Beberapa santri tampak bertanya-tanya tentang siapa aku, beberapa dari mereka sepertinya memang santri baru jadi tidak begitu mengenalku.


"Apa itu calonnya ustadzah Nafis?" samar aku dengar salah satu dari mereka bertanya pada yang lainnya.

__ADS_1


Nafis ....


Kenapa aku baru ingat dengan nama itu? Bagaimana kabar wanita itu? Abi dan ummi juga tidak membahasnya saat di Blitar.


Mungkin semua sudah baik-baik saja ...


"Itu putra pak kyai!?" ucap salah satu dari mereka lagi, walaupun tidak begitu jelas tapi aku bisa mendengarnya. Untuk sampai di rumah Abi dan ummi aku harus melewati beberapa bangunan pesantren.


"Ya Allah, mas Zaki!?" suara itu sepertinya aku kenal. Aku segera menoleh ke sumber suara, bibirku langsung tersungging menunjukkan senyum ramahku,


"Assalamualaikum, Farid!" sapaku, dia adalah salah satu putra pengasuh pesantren, lebih tepatnya teman masa kecilku. Berbeda denganku, dia memilih untuk tetap tinggal dan menempuh pendidikan di pesantren ini sambil membantu abinya mengajar di pesantren.


"Waalaikum salam," dia meregangkan tangannya bersiap untuk memelukku dan aku pun menyambutnya, "Bagaimana kabarmu, kawan?"


Ternyata dia masih sama, begitu hangat padaku. Aku pun melepaskan pelukannya, "Alhamdulillah baik, Rid. Bagaimana? Berapa anakmu sekarang?"


"Boro-boro anak, nikah aja belum!"


"Apa yang di tunggu sih, ganteng udah, mapan juga udah!"


"Jodohnya Zak, yang belum datang!" ucapnya renyah sambil menepuk bahuku, "Oh iya, aku dengar-dengar dari Abi kamu, kamu udah nikah ya di Blitar?"


"Alhamdulillah, iya!?" jawabku sambil tersenyum, tapi ditanggapi berbeda oleh Farid.


"Kok bisa?"


"Lalu bagaimana dengan ustadzah Nafis?"


Hehhhh ...., rupanya apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang aku pikirkan. Awalnya aku pikir ini bukan hal yang serius.


"Kami tidak berjodoh!" ucapku mengakhiri pembahasan tentang hal ini, "Apa Abi dan ummi ku di rumah?"


"Hari ini sepertinya ada."


"Ya sudah, aku temui Abi dan ummi dulu ya, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Sengaja aku tinggalkan Farid untuk menemui Abi dan ummi, bukan aku tidak ingin mengobrol lama dengannya tapi akan lebih baik jika aku menemui orang tuaku dulu.


"Assalamualaikum!" ku ucap salam saat pintu rumah itu terbuka, rumah itu memang jarang tertutup sejak dulu, bahkan tidak ada yang berubah dari rumah itu, rumah sederhana yang telah menjadi saksi aku tumbuh besar bersama adik kecilku.


Hahhhh, entah sudah sedewasa apa dia sekarang ....


Kami memang jarang bertemu semejak dia lulus SMP dan memutuskan untuk menempuh pendidikan di Kairo, dia salah satu penghafal Alquran. Adik perempuanku satu-satunya, namanya Hasna.


Abi sengaja membukanya pintu setiap hari agar jika ada santri yang datang tidak merasa sungkan.

__ADS_1


Sepertinya ummi sudah menungguku sedari tadi, ia mendatangiku dengan langkah tergupuh,


"Waalaikum salam, ya Allah ummi kira kamu nggak jadi datang!"


Aku tersenyum, "Datang kok ummi!"


Tapi tampak ummi tengah mencari-cari sesuatu di sekitarku,


"Zahra_?"


Aku lupa tidak memberitahu ummi jika kedatanganku sendiri ke sini,


"Maaf ummi, Zaki lupa memberitahu. Zaki datang sendiri ummi, Zahra masih harus sekolah, ada magang di sekolahnya."


"Hehhhh!" aku bisa mendengar helaan nafas halus dari ummi, "Ya sudah, ayo masuk! Nanti janji loh kalau sudah libur sekolah di ajak pulang!"


"Insyaallah, ummi!" ummi menggiringku masuk ke dalam rumah, rumah terlihat sepi padahal tadi kata Farid, Abi ada di rumah, "Abi mana, ummi?"


"Tadi ada, mungkin di belakang. Tadi katanya mau ketemu salah satu santri yang mau pulang kampung. Nanti juga kembali, ya sudah mau makan dulu atau istirahat dulu?"


"Zaki istirahat dulu aja ummi, sebentar lagi juga magrib, nanti sekalian makan sama Abi,"


"Baiklah, ummi juga sudah bersihkan kamar kamu!"


"Nggak perlu repot seperti itu ummi!"


"Nggak repot kok, sudah sana!"


"Zaki ke kamar dulu ya!?"


Wanita yang telah melahirkan ku itu mengangguk, senyumnya yang teduh yang selalu membuat aku merasa hangat saat berada di dekatnya.


Akhirnya langkahku terhenti tepat di depan kamar yang masih sama, kamar yang dari luar sudah dapat di tebak jika itu adalah kamar seorang anak laki-laki, di bagian daun pintu ada stiker bola, Ya ..., aku dulu adalah penggemar bola, sebenarnya sekarang pun masih begitu tapi tidak seheboh dulu saat masih sekolah.


Ku buka pintu itu dan di dalam aku bisa melihat suasana kamar yang masih sama, seprei motif salah satu klub bola, dinding yang di penuhi oleh stiker bola, dan pastinya aku juga menggantung kaos bola di dinding atas tempat tidur.


Sekali lagi memoriku kembali ke masa lalu, tapi sungguh aku tidak pernah menyesali semuanya. Segala yang sudah aku lewati adalah pelajaran yang begitu berarti dalam hidupku, aku bukan orang yang datang langsung dalam keadaan baik, banyak kesalahan di masa lalu yang bisa aku jadikan pelajaran di masa yang akan datang.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2