
"Mbak Zahra mau bolos?" pak Dul begitu terkejut, memang hari ini penampilan Zahra berbeda. Dia tidak memakai segaramnya, tapi itu juga bukan pakaian yang pantas untuk bolos.
Gawat kalau mbak Zahra sampai ngajak bolos, aku mau ngomong apa sama ustad Zaki ..., batin pak Dul khawatir, selain diberi tugas untuk antar jemput, dia juga mendapat tugas untuk menjaga Zahra selama ditinggal pergi ke Bandung.
"Enggak," dengan cepat Zahra mengibaskan kedua tangannya, "hari ini aku mulai magang,"
Seketika perasaan pak Dul berubah lega, sepertinya ustad Zaki lupa memberitahu pak Dul jika hari ini hari pertama Zahra magang,
"Oh iya!" sepertinya Zahra teringat sesuatu, ia segera merogoh tas sampingnya dan mengeluarkan secarik kertas yang bahkan potongannya tidak rapi, sepertinya kertas itu disobek begitu saja,
"Ini pak alamat tempatku magang, soalnya kemarin pas perkenalan aku berhalangan hadir, jadi aku belum tahu tempatnya!" ucapnya sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat tempat magangnya itu.
Kalau tidak salah, pas perkenalan magang, ustad Zaki berangkat ke Bandung dan Zahra enggan untuk pergi, ia memilih menghabiskan waktunya bersama sang suami sampai ia berangkat. Beruntung Weni cukup baik, ia memintakan Zahra ijin pada manager tempat mereka magang dan beruntungnya lagi managernya begitu baik hingga tidak begitu mempermasalahkan hal itu, ia hanya memberi syarat agar saat nanti sudah masuk magang, Zahra bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan.
Wajah pak Dul terlihat terkejut saat melihat alamat itu, dan Zahra menyadarinya.
"Ada apa pak Dul?" tanya Zahra kemudian.
Bagaimana bisa kebetulan seperti ini? Apa ustad Zaki juga tidak tahu soal ini? Atau mungkin beliau tahu tapi sengaja merahasiakannya? Entahlah ...., batin pak Dul.
"Nggak pa pa mbak, kebetulan saya juga bekerja di situ!" ucapnya.
Sekarang gantian Zahra yang terkejut,
"Maksudnya pak Dul bos nya?"
Tapi kali ini pak Dul malah tertawa, hal itu terdengar lucu di telinga pak Dul.
"Bukan mbak, mbak Zahra ini ada-ada saja, mana mungkin saya bosnya!" ucap pak Dul dengan masih menahan tawa.
"Ohhhh, kalau gitu pasti pak Dul managernya ya? Kata Weni outletnya cukup banyak tersebar di seluruh Indonesia, jadi nggak heran kalau mobil pak Dul juga banyak."
"Bukan juga mbak Zahra!"
"Trus posisi pak Dul apa dong?"
"Nanti mbak Zahra juga tahu, sudah sampai mbak Zahra!" ucap pak Dul saat mobil mereka sudah berada tepat di depan sebuah warung makan lesehan.
Sebelum keluar dari mobil Zahra sengaja menurunkan kaca mobilnya dan mengamati lesehan itu,
"Kayaknya mas ustad pernah ngajak ke sini deh, pak Dul!"
"Mungkin iya mbak!" pak Dul sudah lebih dulu turun dari mobil dan berjalan cepat memutari mobil, membukakan pintu mobil untuk Zahra.
"Nggak perlu repot gini pak Dul, Zahra kan bisa sendiri!"
"Nggak pa pa mbak!"
"Tapi emang nggak pa pa kalau Zahra datangnya di anter mobil?! Zahra jadi nggak enak!"
__ADS_1
"Nggak pa pa mbak, nanti bilang aja mbak Zahra ketemu pak Dul di jalan."
"Gitu ya!?" Zahra jadi ragu untuk masuk, ini untuk pertama kalinya ia akan berhadapan dengan orang dalam ranah yang serius. "Aku deg degan pak Dul, gimana ya? Apa kita balik lagi aja ya pak Dul?"
"Ya jangan mbak, nanti kalau balik lagi bagaimana dengan nilai magang mbak Zahra. Sudah kalau nggak berani masuk sendiri, biar oai Dul temenin."
"Tapi pak Dul_!"
"Ayo mbak, nggak usah takut!"
Bismillahirrahmanirrahim ....
Zahra pun akhirnya benar-benar memberanikan diri untuk masuk, beruntung masih cukup pagi karena warung makan buka jam sembilan dan para karyawan akan datang semua setelah jam delapan.
Beberapa ada yang sengaja datang lebih awal untuk membuka kedai, ada juga yang menyiapkan bahan makanan, tentunya beberapa anak magang lainnya yang sudah datang.
"Heni!?" tiba-tiba pak Dul memanggil salah satu karyawan yang berpakaian sebagai pelayan yang tengah mengelap meja.
"Ada apa pak Dul?" tanyanya tanpa beranjak dari tempatnya.
"Sini deh!"
Akhirnya ia pun meninggalkan dua temannya yang lain dan menghampiri pak Dul juga Zahra.
"Ada apa?"
"Ohh yang kemarin pas perkenalan ijin itu ya?" tanya gadis yang di panggil Heni itu.
"Iya, karena ini hari pertamanya, tolong kamu kasih tahu apa tugas-tugasnya ya."
"Iya, baiklah. Ayo mbak_!" tampak gadis itu ragu untuk memanggilnya.
"Panggil aja Zahra mbak!"
"Iya, Zahra. Ayo biar aku tunjukkan pekerjaan kamu."
"Mari mbak!"
Zahra pun akhirnya mengikuti Heni,
"Panggil saja aku Heni,"
"Iya mbak_, maksudnya Heni."
"Kamu yang satu kampung sama Weni ya? Yang juga anak magang itu?"
"Iya."
"Kebetulan pemilik kedai ini juga tinggal di sana!"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya, istrinya sangat muda, begitu gosipnya!?"
Pasti dia om om penyuka daun muda ..., nggak heran sihhh kalau orang berkuasa sukanya kayak gitu, batin Zahra sambil membayangkan pemilik kedai makan tempatnya magang itu.
Tapi siapa ya? batin Zahra lagi, mungkin nur kenal ...
Zahra memaklumi dirinya sendiri yang memang tidak banyak bergaul dengan tetangga-tetangganya hingga ia tidak begitu mengenal mereka.
Terlihat Zahra dan Heni sudah mulai akrab, Heni juga menunjukkan beberapa pekerjaan yang harus Zahra lakukan.
Sedangkan pak Dul, menghampiri dua pelayan yang tadi bersama Heni.
"Siapa itu tadi pak Dul? Kok datangnya barengan sama pak Dul?" tanya pria kurus yang memakai pakaian pelayan itu.
"Istrinya ustad Zaki!?"
"Hahhhhh!?" seketika kedua orang yang berada di hadapan pak Dul tercengang dibuatnya.
"Kok bisa?" tanya wanita yang terlihat lebih tua dari Heni. Usianya sepertinya sekitar tiga puluh tahunan.
"Ya nggak tahu, ustad Zaki juga nggak ngomong sama saya!"
"Trus gimana dong?"
"Ya bersikap biasa aja, kayaknya ustad Zaki juga nggak ngomong apa-apa sama.mbak Zahra!?"
"Jadi namanya Zahra?" pria kerempeng itu pun kemudian tertarik untuk mengamati Zahra, begitu juga dengan wanita di depannya.
"Cantik ya!? Pantes ustad Zaki sesampai kesemsem!"
"Sudah, jangan gosip terus. Kerja lagi. Karena ternyatabak Zahra di sini, minta tolong ya kalian awasi. Aku mau ambil belanjaan dulu di pasar!" ucap pak Dul sebelum meninggalkan Zahra, ia pikir akan lebih mudah menjaga Zahra jika di tempat yang sama.
"Memang diawasi kenapa?"
"Ya jangan sampai kenapa-napa mbak Zahra nya, ini amanah dari ustad Zaki. Sudah aku pergi dulu, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1