Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Tempat seminar


__ADS_3

Ustad Zaki sudah berada di sebuah gedung yang seharusnya menjadi tempat seminar kyai Hasyim, tapi kali ini ia yang di dapur sebagai salah satu pemateri dalam acara itu. Rupanya acara itu di hadiri oleh mahasiswa dan santri perwakilan dari berbagai kampus dan juga pondok pesantren di seluruh indonesia.


Ia di samping kan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal di Indonesia juga para jurnalis hebat di Indonesia, salah satunya Najwa Shihab. Ini sungguh sebuah kehormatan tersendiri bagi ustad Zaki yang masih merasa terlalu dini jika di sejajarkan dengan mereka.


Tapi rupanya sebagian besar dari mereka sudah mengenal sosok ustad Zaki, terutama yang aktif di salah satu media sosial karena ustad Zaki termasuk ustad muda yang cukup aktif berdakwah di media sosial, tidak sulit untuk mengenalnya.


Break isoma, ustad Zaki pun bergegas ke mushola. Dan beberapa mahasiswa juga santri menyempatkan diri untuk menyapa ustad Zaki hanya sekedar untuk bersalaman dan bersua foto,


"Saya sholat dulu ya, nanti di sambung lagi!" ucap ustad Zaki sambil mengatupkan dua tangannya di depan dada memohon ijin dengan sopan karena sudah hampir jam satu dan acara akan segera di mulai tepat pukul dua siang.


"Ohhh iya ustad, silahkan!" akhirnya mereka pun membiarkan ustad Zaki untuk melanjutkan langkahnya ke mushola.


Beberapa dari peserta memilih sholat di masjid yang jaraknya sedikit jauh di bandingkan ke mushola, tapi cukup dekat dengan tempat makan, tapi ustad Zaki memilih ke mushola karena terlihat lebih sepi jadi ia tidak perlu terlalu lama bergantian.


Walaupun mushola dan masjid cukup besar tapi tetap saja belum bisa menampung peserta yang jumlahnya hampir seribu, jauh dari perkiraan ustad Zaki di awal yang hanya memperkirakan pesertanya sekitar lima ratusan.


Setelah sampai di mushola ia segera mengambil wudhu dan sholat berjamaah dengan beberapa yang datang bersamaan dengan ustad Zaki.


Sebenarnya setelah sholat, ingin rasanya menghubungi saya istri tapi rupanya waktunya sudah terlalu mepet bahkan ia belum sempat memakan jatah makan siangnya.


Ya Allah aku rindu ..., sampaikan salam rindu ini padanya, doany sebelum ia berdiri dari tempat sujudnya.


Ustad Zaki segera kembali ke aula tempatnya mengisi acara, kata pemateri lainnya akan ada pemateri lain yang juga datang untuk mengantikan salah satu ustad yang tadi pagi ijin karena ada halangan hadir.


Tepat pukul dua siang, para peserta mulai memasuki aula, para kameramen yang bertugas sebagai dokumentasi juga sudah stand by dengan camera dan peralatannya.


Pemimpin acara mulai membuka kembali acara,


"Bagaimana sudah segar kembali? Sebelum memulai materi juga debatnya ijinkan saya mempersilahkan satu lagi pemateri yang hari ini telat hadir karena ada acara di tempat lain tadi pagi, mari kita sambut pemateri baru kita, ustadzah Zida Nafisah!"


Seorang wanita dengan jilbab panjangnya berjalan menaiki panggung, entah sebelumnya ia berada di bagian mana dari para audiens.

__ADS_1


Kedatangan wanita itu cukup mengejutkan ustad Zaki, ia sampai terpaku di buatnya, wanita itu adalah wanita yang sudah lama ia tidak lihat dan kali ini ia muncul di tengah-tengah acara.


Dia benar Nafis ..., batinnya. Ternyata rasa kagum pada wanita itu masih ada. Astaghfirullah hal azim ..., segera menundukkan pandangannya, merasa bersalah pada dirinya sendiri. Bohong jika hatinya sama sekali tidak bergetar melihat wanita yang pernah hadir di masa lalunya itu.


Wanita itu tersenyum ke arahnya dan segara duduk. Pemandu acara pun segara memperkenalkan siapa wanita yang baru saja datang.


"Bagaimana? Apa semua sudah cukup kenal dengan ustadzah muda nan cantik ini? Baiklah saya akan memperkenalkan pada kalian, beliau adalah ustadzah muda lulusan Kairo , beliau ini juga salah satu penulis yang cukup terkenal, salah satu bukunya bahkan sudah diadaptasi ke dalam film."


Berkali-kali ustadzah Nafis mendapat sambutan tepuk tangan dari para peserta, Nafis rupanya juga selebgram dengan jumlah followers yang cukup banyak. Tapi sepertinya ustad Zaki tidak pernah mencoba untuk mengintip ataupun memfollow akun ustadzah Nafis.


Ya Allah kenapa aku jadi tidak fokus? Kenapa engkau pertemukan aku kembali dengannya? Jika ini untuk menguji rumah tangga ku, maka kuatkan aku ya Allah ...


Ustad Zaki mencoba mengalihkan perhatiannya, ia tidak ingin terlalu fokus dengan kedatangan ustadzah Nafis.


Akhirnya acara hari ini berakhir tepat pukul empat sore, ustad Zaki berjalan cepat meninggalkan aula menuju ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar, perutnya juga lumayan lapar karena ia tidak sempat makan siang dan pagi tadi ia hanya memakan sepotong roti.


Seperti sebelumnya ia melaksanakan sholat berjamaah dengan beberapa keserta yang sengaja tidak langsung pulang.


Setelah sholat ustad Zaki berencana untuk menghubungi Zahra terlebih dulu, ia duduk di salah satu sudut serambi mushola dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecilnya.


Ustad Zaki pun segera melakukan panggilan tapi tidak ada jawaban.


"Apa sesibuk itu!?" gumamnya lagi, "Mungkin aku harus menghubungi pak Dul, mungkin dia tahu."


Ustad Zaki pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi pak Dul, beruntung hanya sekali panggilan langsung terjawab.


"Hallo assalamualaikum pak Dul!" sapanya.


"Waalaikum salam, ustad."


"Apa dek Zahra_?" belum sampai ustad Zaki menyelesaikan ucapannya pak Dul segera memotong.

__ADS_1


"Maaf ustad, sungguh tadi saya sudah membujuknya tapi mbak Zahra tetap memaksa." suara pak Dul terdengar begitu sungkan. Ia benar-benar merasa bersalah pada ustad Zaki karena tidak bisa menepati janjinya.


"Maksud pak Dul apa ya? Apa terjadi sesuatu sama dek Zahra?" ustad Zaki berubah panik.


"Tidak ustad, bukan seperti itu, tapi hari ini mbak Zahra memilih pulang dengan Weni!" pak Dul pun mulai menceritakan semuanya pada ustad Zaki termasuk tempat magang Zahra.


"Aku baru tahu pak Dul jika dek Zahra dan Weni magang di situ, Jadi dek Zahra pulang dengan Weni?"


"Iya ustad!"


"Kenapa saya hubungi tidak bisa ya pak Dul?"


"Mungkin masih di jalan ustad, tadi baru saja pulang."


"Lalu bagaimana sikap anak-anak sama dek Zahra?" tanya ustad Zaki, sepertinya ia tengah mengkhawatirkan sesuatu begitu tahu tempat magang Zahra yang sebenarnya, ia sebelumnya memang tidak pernah bertanya di mana Weni atau pun Zahra akan magang, yang ia tahu jika Weni akan magang di salah satu rumah makan.


"Alhamdulillah tidak ada masalah ustad!"


"Ya sudah, besok tetap jemput dek Zahra ya!" ia tidak mungkin membiarkan Zahra mengemudikan sepeda motor, ia yakin pasti hari ini Zahra yang mengemudikan motor karena Zahra terlalu mendominasi.


"Iya ustad!"


Setelah mengucap salam, ustad Zaki pun kembali menutup telponnya,


"Mungkin nanti saja aku hubungi dek Zahra. Lebih baik sekarang pulang dulu!" gumamnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2