
Zahra begitu kesal saat harus mandi lagi yang kedua kalinya,
"Nggak tahu apa di Blitar hawanya dingin!" keluhnya sambil duduk di depan cermin.
"Tahu!?"
Seketika Zahra menoleh ke sumber suara, rupanya sang suami sudah berdiri di balik pintu tengah memperhatikannya.
"Kalau tahu ngapain bikin orang mandi terus?"
"Kan kalau gituan bikin panas dingin, dek!" ucap ustad Zaki sambil tersenyum menggoda kemudian berlalu begitu saja.
"Ustad kok pikirannya mesum terus!?" keluh Zahra lagi sambil mengakhiri kegiatannya di depan meja rias.
Ia pun segera menyusul sang suami keluar,
"Sudah siap dek?" tanya sang suami.
"Siap banget, Zahra sudah nggak sabar nih. Ayokk!?" Zahra berjalan cepat dan di susul oleh sang suami.
"Nggak sabar apa dek?"
"Ya nggak sabar aja!"
Akhirnya Zahra benar-benar keluar dari rumah dan tampak ia tengah mencari-cari sesuatu di halaman rumahnya,
Mana mobilnya?
"Dek, lagi nyariin apa sih?" tanya ustad Zaki saat melihat istrinya tengah celingukan mencari-cari sesuatu.
"Mana mobilnya mas?" tanyanya kemudian.
"Mobil apa?" ustad Zaki tampak berpikir, "Ohhh, maksudnya pak Dul ya? Sengaja pak Dul nggak mas suruh jemput ke sini, kan sudah ada mas!"
"Tahu!"
"Lalu?"
"Kita ke kedai lalapannya pakek apa?" tanya Zahra lagi.
"Itu!" ustad Zaki pun menunjuk ke arah motor bebek kesayangannya.
Ya ampuuuun ..., nggak ada beda-beda nya juga rupanya ...
Zahra hanya bisa menghela nafas kasar,
"Kenapa dek?"
"Nggak pa pa, ayo berangkat!" Zahra segera menyambar helmnya yang berada di samping meja teras dan memakainya.
"Kenapa cemberut dek?"
tanya ustad Zaki lagi sambil membantu Zahra memakaikan helmnya.
"Zahra pikir mas ustad bakal pakek mobil, tapi ternyata masih pakek motor itu."
"Kita kan mas berdua, jadi masih bisa pakek motor dek, insyaallah nanti kalau sudah bertiga, berempat, berlima, berenam, mas akan Carikan mobil yang muat untuk kita semua!"
Zahra mengerutkan keningnya, "Emang kalau bertiga, berempat, berlima, berenam, sama siapa aja, kan di sini cuma ada bapak sama ibuk?"
Ustad Zaki tersenyum sambil mencubit hidung sang istri, "Sama anak-anak kita!"
__ADS_1
Anak ????? Zahra sampai kesulitan menelan Salivanya sendiri mendengar ucapan sang suami, ia kemudian menghitung jumlahnya dengan jari.
Kalau bertiga, berempat, berlima, berenam, itu artinya anaknya ada empat ..., empat .... batin Zahra sambil menghitung beberapa kali jumlah anak yang di sebutkan oleh sang suami hingga ia tidak menyadari jika suaminya sudah berada di atas motor.
"Dek, ayo berangkat!?" teriak ustad Zaki membuat Zahra tersadar, ia pun dengan cepat menghampiri sang suami.
***
Akhirnya motor yang ustad Zaki sampai juga di parkiran karyawan. Zahra pun segera turun, melepas helmnya dan merapikan kembali jilbabnya,
"Cantik nggak mas?" tanyanya satelah memastikan penampilannya tidak berantakan. Ini pertama kalinya ia akan datang dengan sang suami ke tempatnya magang dengan status Bu bos.
Tiba-tiba Zahra tersenyum sendiri membayangkan bagaimana rasanya jadi Bu bos,
"Kenapa dek tersenyum sendiri?"
"Ahhh enggak!"
"Ya udah, ayo masuk!"
"Ayo!" Zahra dengan begitu bersemangat menggandeng tangan sang suami.
"Assalamualaikum, Zahra, ustad Zaki!" sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka,
"Waalaikum salam!" jawab Zahra dengan ramah bak sosialita.
"Dek, sudah sampai di dalam. Jadi sekarang lepasin tangan mas!" ucap ustad Zaki saat mereka berada di depan meja kasir, Desi yang tidak sengaja mendengarkan percapakan mereka pun segera pura-pura sibuk.
"Aku nggak di ajak masuk ke sana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah ruangan yang selalu tertutup itu.
"Tuh ada tulisannya!" ucap ustad Zaki sambil menunjuk ke arah tulisan yang berada di pintu.
"Tapi kan aku bukan karyawan!"
"Tapi dek Zahra, karyawan magang!"
"Tapi kan aku istri mas ustad!"
"Istri kalau di rumah sama pas jam istirahat, lihat!" ustad Zaki menunjuk ke arah jam yang menggantung di dinding. "Sekarang sudah jam delapan tepat, sudah jam kerja jadi_!"
"Zahra tahu, mas atasan dan Zahra bawahan!?" potong Zahra, kemudian berjalan ke lokernya, menyimpan tas dan mengambil peralatan kerjanya. Ustad Zaki tersenyum melihat kelakuan sang istri kemudian memilih berlalu masuk ke dalam ruangannya.
"Dasar suami diktaktor, awas aja kalau aku di kasih nilai jelek!?" gerutunya sambil berdiri di samping Desi.
"Apaan lihat-lihat!" protesnya pada Desi membuat Desi semakin tersenyum.
"Sensi banget pagi-pagi!" ucap Desi sambil sibuk dengan pekerjaannya.
"Gimana nggak sensi, dari pagi sudah di buat kesal terus!"
"Sama ustad Zaki?" tanya Desi.
"Siapa lagi!"
"Emang gimana ceritanya ustad Zaki bisa bikin kesel orang, senyumnya aja bisa bikin orang meleleh gitu!"
Zahra mengerutkan keningnya, ia segera berkacak pinggang ydioa suka orang lain memuji suaminya, "Kenapa jadi muji suamiku!?"
"Upsss!?" Desi segera menutup mulutnya begitu sadar, "Maaf, keceplosan!"
***
__ADS_1
Di tempat lain, tampak nur tengah mengekori kemanapun Bayu pergi.
"Ada apa sih nur?" tanya Bayu kesal.
"Kita harus bicara, pokoknya harus bicara!?" ucap nur dengan begitu ngotot.
"Ya bicara aja kali, Nur. Kenapa Dati pagi uring-uringan terus?"
"Nggak di sini!"
"Trus dimana lagi?" tanya Bayu dan nur mengamati sekitar, begitu ramai dengan karyawan dan anak magang lainnya, mereka tengah berada di sebuah pabrik tekstil. Kebetulan Bayu mendapat bagian di gudang sedangkan Nur di bagian pengecekan.
"Baiklah, aku tunggu nanti pulang. Jangan kabur, okey!?"
Setelah mengucapkan hal itu, Nur pun segara meninggalkan Bayu.
Benar saja, saat jam pulang Nur sudah menunggui Bayu di samping motor Bayu agar Bayu tidak sampai kabur.
"Niat banget nunguin!?" ucap Bayu saat baru keluar dari gudang tengah menghampiri motornya.
"Ya iya lah, biar kamu nggak kabur!"
"Emang aku buronan, pakek kabur segala."
"Ya siapa tahu!"
"Sudah cepetan ngomong, aku nggak punya banyak waktu. Temanku udah nungguin tuh!" ucap Bayu sambil menunjuk pada segerombolan anak klub motor yang berada di luar pagar.
"Masih suka balap liar ya ternyata kamu, kapan tobatnya!?" ucap nur sambil melirik anak-anak dengan pakaian urakan itu.
"Bukan urusanmu, cepetan kalau mau ngomong, kalau enggak ya udah aku pergi!"
Bayu sudah hampir memakai helmnya tapi segera ditahan oleh nur,
"Tunggu!" ucapnya, "Aku nggak suka ya kamu nemuin Zahra, aku tuh kasih tahu kamu tempat magang Zahra bukan buat kamu nemuin dia tapi buat kasih tahu kamu aja kalau Zahra sudah cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, jadi please jangan ganggu Zahra lagi, apalagi sampai buat Zahra terluka."
"Bukan urusanmu!"
"Siapa bilang bukan urusanku, Zahra temanku, dia sahabatku!"
"Dia cuma sahabatmu, bukan saudarimu, camkan itu baik-baik!" ucap Bayu kesal sambil menunjuk wajah nur dengan jari telunjuknya dagang tatapan penuh kemarahan hingga berhasil membuat Nur terdiam,
Bayu pun segera menarik helmnya dengan kasar dan memakainya,
"Minggir!?"
Nur hanya bisa terdiam dan menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Bayu. Motor Bayu sudah berlalu dari hadapannya tapi Nur masih terpaku di tempatnya, ini untuk pertama kalinya ia di bentak oleh seseorang.
Spesial visual Bayu
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1