Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Ada apa dengan Zahra?


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan suaminya, zahra segara ke kamar. Ia meletakkan semua barang-barangnya, tidak terkecuali buku yang menjadi sebab kenapa dia menangis. Zahra sekali lagi menatap buku itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia bukan gadis lemah yang menangis gara-gara sebuah buku.


Tapi nyatanya, hatinya tidak sekuat itu. Hatinya hanya segumpal darah bukan segumpal batu yang tidak akan bisa merasakan sakit, sedih, minder, dan bersalah.


Meskipun dia istri sah ustad Zaki saat ini, tapi ia telah mematahkan doa seseorang yang begitu tulus pada suaminya.


Sekali lagi air matanya berhasil lolos, bukan karena kisah cinta yang tidak sampai tapi karena ia merasa begitu bersalah pada wanita yang pernah di cintai suaminya.


"Dek,"


Tiba-tiba suara ustad Zaki menyadarkannya, dengan cepat ia menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara. Rupanya sang suami tengah berdiri di ambang pintu yang tidak sepenuhnya di buka, sebagian tubuh ustad Zaki masih berada di luar.


"Iya?" tanya Zahra sambil tersenyum.


Ustad Zaki mengerutkan keningnya, ia merasa istrinya berbeda,


"Dek Zahra beneran tidak pa pa?"


"Nggak pa pa mas, ada apa?"


"Mas mau ke minimarket depan. Dek Zahra mau ikut atau mau nitip saja?"


"Zahra nitip aja deh mas!"


"Apa?"


"Camilan yang banyak ya, mas! Pengen banget nyemil."

__ADS_1


"Baiklah, tapi yakin nggak ingin ikut?" tanya ustad Zaki lagi memastikan dan Zahra memilih menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, mas pergi dulu ya. assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki akhirnya kembali menutup pintu. Zahra pun segera meletakkan buku itu di atas meja dan memilih ke kamar mandi.


Bukan hanya mandi, ia ingin menangis di bawah guyuran shower agar air matanya tidak terlihat. Ingin sekali tidak menangis, tapi entah kenapa tiba-tiba hatinya menjadi begitu sensitif hingga ia tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Ustad Zaki pun akhirnya sampai juga di sebuah minimarket yang tidak begitu jauh dari pesantren. Ia membeli beberapa keperluan dan juga camilan untuk Zahra tentunya. Ia membeli setiap varian camilan yang biasanya di sukai sang istri. Ia merasa sepertinya suasana hati sang istri tengah tidak baik-baik saja. Mungkin dengan ngemil akan sedikit mengurangi beban pikirannya.


Walaupun begitu, ustad Zaki juga memilih camilan yang menurutnya sehat untuk Zahra. Setelah mendapatkan semuanya, ia pun membawa barang belanjaannya ke kasir..Beruntung minimarket tidak begitu ramai sehingga ia tidak perlu antri panjang untuk melakukan pembayaran.


Itu Farid ..., batinnya saat ia melihat ustad Farid yang berada di luar minimarket.


"Farid!" panggilnya setelah menemukan kembali keberadaan ustad Farid, rupanya ustad Farid tengah menunggu pesanan roti bakar yang ada di depan minimarket.


Ustad Zaki pun segera menghampirinya,


"Assalamualaikum, Zak! Ada apa?" tanya ustad Farid.


"Waalaikum salam," ustad Zaki pun ikut duduk di kursi panjang yang berbahan kayu itu. "Tadi kamu ketemu sama istri aku ya?"


Ustad Farid mengerutkan keningnya, ia tahu cepat atau lambat ustad Zaki akan mencarinya, tapi menurutnya ini terlalu cepat.


"Iya!"

__ADS_1


"Terimakasih ya sudah mentraktirnya, maaf kalau selalu merepotkan kamu!"


"Nggak masalah, biasa aja kali Zak. Lagi pula dia juga nggak habis satu gerobak juga kan!" ucap ustad Farid sambil tersenyum


"Rid,"


"Hmm?"


"Apa tadi terjadi sesuatu sama istri sku?" tanya ustad Zaki memastikan.


Farid pun menceritakan semuanya pada ustad Zaki tanpa ada satupun yang di tutupi.


"Astaghfirullah hal azim!?" ucapnya ustad Zaki sambil dadanya, "Kalau begitu saya pulang dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Bersambung


Maaf ya dikit dulu, insyaallah besok di banyakin. Doain ya


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2