Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Sepak bola


__ADS_3

Benar saja setelah sholat subuh Zahra memilih kembali tidur, ia meras tubuhnya seperti terlepas dari tulang-tulang nya.


Sedangkan ustad Zaki, setelah sholat subuh ia memilih menunggu tukang sayur di serambi masjid agar saat pulang sudah membawa sayuran.


"Ustad!?" panggil seseorang, dan seseorang itu Amir.


Amir pun segera ikut duduk di samping ustad Zaki,


"Ada apa Mir?"


"Semalam pas tahu ustad pulang, aku langsung ke rumah ustad loh!"


"Trus?"


"La kok sudah tutup, atau ustad lagi keluar ya semalam?"


"Memang mau apa ke rumah aku Mir?"


"Semalam tuh ada siaran langsung piala dunia, Argentina vs Prancis. Nah kok ya pas ketepak'an tv di sini mati, ustad!"


"Trus?"


"Ya rencananya mau ke rumah ustad ngajakin nonton di rumah ustad!"


Untung langsung aku kunci pintu rumah, kalau nggak pasti gagal ..., batin ustad Zaki sambil tersenyum sendiri membayangkan apa yang ia lakukan semalam. Seumur-umur itu yang pertama kali, sebelumnya jangankan pacaran atau melakukan hal yang romantis, ia bukan tipe pria yang suka mengumbar perasaan.


Walaupun ia sempat jatuh cinta dengan Nafis, tapi mereka tidak pernah ada kata pacaran dan melakukan hal-hal romantis seperti remaja lainnya, baginya jalan bareng atau saling menyapa itu sudah hal yang romantis.


"Trus?" tanya ustad Zaki dengan senyum penuh syukur. Seandainya ia semalam terlambat sebentar saja, kejutan yang telah ia siapkan pasti akan gagal.


"Ya akhirnya Amir ke pos ronda, kebetulan pak Somad sama pak Badrun lagi di sana."


"Ngapain? Ronda?"


"Ya enggak, ternyata di rumah kalah sama istrinya, istrinya lagi seru-serunya nonton itu loh ustad sinetron yang trending."


"Ohhh sinetron ikatan bawang, yang pemeran prianya mas Al?"


"Ustad kok malah hafal sih? Atau jangan-jangan_?" terlihat Amir tengah menebak-nebak.


"Kalaupun aku buka pintu, aku nggak njamin Mir bisa nonton bola, dek Zahra juga pecinta sinetron ikatan bawang!"


"Jadi ustad di rumah semalam?" tanya Amir lagi begitu menyadari sesuatu. Pasalnya ia cukup keras mengetuk pintu dan mengucap salam, tapi tetap tidak ada sahutan.


Yahhh, keceplosan ...., batin ustad Zaki.


Ngik ngik ngik


Beruntung tukang sayur datang tepat waktu.


Selamat ...., ustad Zaki bernafas lega,


"Itu Mir, sayurnya datang!"


Ustad Zaki sudah hafal jadwal tukang sayur karena dari dulu ia sudah terbiasa membeli sayur sendiri dan memasaknya sendiri. Saat masih tinggal dengan Amir di rumah singgah masjid, ia hampir setiap hari membeli sayur yang selalu berhenti di depan masjid.


Ustad Zaki pun segera berdiri dari duduknya dan menghampiri tukang sayur, Amir pun mengikutinya.

__ADS_1


"Ayo ustad, mau masak apa? Pumpung sayurnya segar-segar!?" tawar tukang sayur, ia masih terus membunyikan terompet karetnya agar ibu-ibu segera berdatangan menghampirinya.


"Hari ini bawa bandeng segar nggak mas?" tanyanya sambil mengelilingi kerobak sayur.


"Yahhh, bandeng segarnya sudah habis ustad, bagaimana kalau udang segar saja?"


Percakapan itu terus berlanjut hingga ustad Zaki mendapatkan apa yang ingin ia beli, setelah merasa cukup dan melakukan pembayaran, ustad Zaki pun berpamitan untuk pulang. Ibu-ibu juga sudah mulai banyak berkerumun mengelilingi gerobak sayur.


Sesampai di rumah, ustad Zaki langsung menuju ke dapur untuk melakukan rutinitas paginya, ia tidak pernah menuntut Zahra untuk bisa menjadi istri yang serba bisa selama ia masih bisa melakukannya sendiri.


"Mas,"


Mencium aroma sedap dari dapur ternyata perut lapar Zahra berhasil membangunkannya, dengan mata yang masih sulit untuk di buka ia sudah berjalan ke dapur,


"Dek, kenapa sudah bangun?" tanya ustad Zaki yang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya.


Zahra pun segera duduk di samping meja dapur, menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya, tampak matany masih sulit untuk di buka,


"Zahra lapar mas!" ucapnya dengan manja khas anak SMA.


Ustad Zaki pun tersenyum, ia melepas afronnya dan mengambil nasi yang sudah sengaja ia ambilkan untuk Zahra tadi agar Zahra tidak kepanasan,


"Ini nasinya, mas tadi sudah dinginkan!"


"Masak cuma nasi sihh?!" keluh Zahra melihat hanya ada sepiring nasi di depannya.


"Bentar ya!?" ustad Zaki kembali berbalik dan mengambil sebuah piring, "Ini, mas tadi sudah buat udang krispi. Kamu suka?"


Zahra pun mengangukkan kepalanya, ia segera menegakkan duduknya, mengambil udang dan memasukkan ke dalam piring nasinya, tidak lupa mengambil saus sambal sebagai teman udang krispi.


Melihat Zahra yang lahap makan sudah cukup membuat ustad Zaki tersenyum senang, ia segera mematikan kompornya begitu selesai dengan perkerjaanya, ia segera duduk di depan Zahra, tepatnya depan meja Zahra.


"Zahra bisa makan sendiri mas!?" protes Zahra.


"Tapi mas senang bisa menyikapi dek Zahra!"


Akhirnya Zahra tidak protes lagi, ia malah berbalik menyuapi sang suami hingga makanannya habis.


"Zahra siap-siap dulu ya mas!?" ucap Zahra setelah membantu sang suami membersihkan dapur.


"Masih pagi dek, mas sudah minta ijin ke staf kalau kamu bakal terlambat dek."


"Nggak pa pa mas, Zahra sudah siap kembali." ucap Zahra sambil mengangkat kedua tangannya seolah tengah memperlihatkan otot-otot lengannya.


"Kalau gitu bagaimana kalau kita_!?" ucap ustad Zaki dengan tatapan menggodanya, dan Zahra langsung faham dengan tatapan itu.


"Nggak, nggak! Aku mau siap-siap!?" Zahra dengan cepat berlari ke kamarnya dan menutup pintu agar sang suami tidak menyusulnya masuk.


"Aku kan udah tahu kalau mas ustad pemilik kedai lalapan, kalau biasanya di jemput pak Dul pakek mobil, berarti hari ini mas ustad udah ambil mobilnya, jadi kita akan berangkat bareng pakek mobil."


Zahra terus saja bermonolog di dalam kamar, membayangkan yang akan terjadi nanti saat ia datang bersama si pemilik kedai, membayangkan bagaimana wajah-wajah para karyawan.


"Ahhhh, jadi nggak sabar!"


"Mungkin sekarang mobilnya sudah di luar, apa aku intip dulu ya, mobilnya pasti lebih bagus dari mobil yang biasa di bawa pak Dul!"


Zahra sudah berjalan ke arah jendela kamarnya, tangannya sudah menekan pengait kunci jendela hingga jendelanya terbuka tapi segera ia urungkan niatnya kembali,

__ADS_1


"Nggak, nggak, lek tak delok Saiki nggak surprise ngkok! Sabar Zahra, sabar, semua ada waktunya!"


Zahra pun mengurungkan niatnya untuk melihat keluar jendela, ia menutup kembali jendelanya rapat dan melanjutkan kegiatannya bersiap-siap dengan seragam magangnya.


Ia kembali duduk di depan meja rias untuk memakai jilbabnya. Mengusapkan bedak tipis dan lipstik ke bibirnya agar sedikit terlihat segar.


Segera ia menyambar totebagnya dan tidak sabar menemui suaminya.


Ustad Zaki tengah sibuk dengan layar datar di tangannya saat Zahra keluar dari kamarnya, ia tampak rapi dengan kemeja putih dan bawahan hitam, jilbab segi empat berwarna abu-abu tampak cantik melekat di kepalanya.


"Cantiknya istriku!?" puji ustad Zaki, ia sampai meletakkan begitu saja layar datarnya demi bisa memandangi wajah sang istri.


"Emang dari Sononya sudah cantik mas!?" jawab Zahra begitu percaya diri.


"Sombongnya istriku!?"


"Nggak sombong mas, aku cuma percaya diri, menyusuri pemberian Tuhan!?" ucap Zahra dengan bangga,


Ustad Zaki tersenyum bangga pada sang istri, "Makin pinter aja!"


"Udah ahhh, ayo mas berangkat!?" ajak Zahra, ia benar-benar tidak sabar ingin segera keluar dan melihat mobil yang ada dalam bayangannya, sebuah mobil mewah keluaran terbaru. atau setidaknya mobil yang lebih mahal dari mobil yang di pakai pak Dul.


"Masih ada waktu setengah jam dek!" ustad Zaki terlihat masih enggan bangun dari duduknya, ia masih ingin berduaan dengan sang istri.


"Sudah lah, berangkat sekarang saja!" ucap Zahra, ia sampai menarik tangan sang suami.


"Bentar dek, mas kan belum siap-siap!"


Zahra menatap sang suami, Di lihat dari mana-mana juga tetap ganteng, perasaan nggak pernah lihat mas ustad berantakan ...,


"Gini aja mas," Zahra terus memaksa, "Memang mau dandan gimana lagi?"


"Nggak dandan dek, mas kan harus pakek jaket juga. Ya sudah gini aja, mas mau berangkat sekarang tapi_!"


"Tapi apa?"


"Cium dulu!" ucap ustad Zaki sambil menunjuk bibirnya.


"Harus bibir ya?" tanya Zahra sambil mrnatap bibir sang suami yang sudah di manyunkan.


"Ya!" jawab ustad Zaki yakin.


Bisa gawat kalau aku cium bibir, bisa-bisa malah nggak jadi berangkat sekarang ...


"Bagaimana kalau pipi saja?" Zahra mencoba menawar.


"Bagaimana kalau kita berangkatnya setengah jam lagi?" dan ustad Zaki balik menawar.


Isttttt, emang susah ya ngadepin pebisnis, kerjaannya negosiasi aja ....


Akhirnya zahra hanya bisa nyerah, ia pun mendekatkan tubuhnya ke suami dan menempelkan bibirnya. Sejenak memang hanya ciuman biasanya tapi nyatanya waktu setengah jam akhirnya mereka habiskan untuk mengulang yang semalam.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2