
Zahra dan ustad Zaki sudah berada di rumahnya, hari ini hari libur. Meskipun ustad Zaki bukan pegawai atau karyawan kantor seperti kebanyakan, Ustad Zaki juga selalu meluangkan satu hari dalam satu Minggu untuk Zahra.
"Mau jalan-jalan?" tanya ustad Zaki sambil memeluk tubuh istrinya yang mulai berisi.
Zahra pun mengangukkan kepalanya, "Tapi nggak pa pa kan kalau Zahra nanti banyak maunya?"
'Biasanya juga gitu dek,' batin ustad Zaki sambil mengangukkan kepalanya,
"Tapi mas ustad tahu kan kalau aku hamil tambah banyak maunya?"
"Tahu," jawab ustad Zaki dengan lugasnya tapi di saat ia mengira itu jawaban yang tepat, sang istri malah memandang kesal pada ustad Zaki.
Oh noooooo .....
Wajah ustad Zaki seketika pucat,
"Dek maaf, mas salah jawab ya?" dengan cepat ia menenangkan Zahra sebelum istrinya semakin kesal.
"Jadi bener ya mas, Zahra banyak maunya? Zahra pasti banyak ngrepotin mas ustad? Zahra memang nggak tahu diri." tiba-tiba air mata Zahra meleleh begitu saja membuat ustad Zaki semakin panik saja.
"Enggak dek, mas yang salah. Dek Zahra nggak gitu, tadi mas hanya salah ngomong aja. Dek Zahra mau apa sekarang? Biar mas cariin." ustad Zaki berusaha keras menghibur sang istri.
"Aku mau makan di suapin."
"Pakek apa dek?"
"Telur dadar aja,"
Ahhhhh .....
Walaupun sederhana tapi ya gitu, kadang permintaan wanita hamil itu nggak bisa di pikir logika.
"Bagaimana, enak?" tanya ustad Zaki sambil menyuapkan makanan ke mulut Zahra dengan tangannya.
Zahra mengangguk, ia begitu lahap makan meskipun hanya lauk telur goreng.
"Mas, kita hari ini nggak usah jalan-jalan ya." ucap Zahra ketika makanannya hampir habis.
"Kenapa? Dek Zahra nggak pengen beli sesuatu? Atau kita jalan-jalan saja?"
Zahra tetap menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
"Brosur kampus yang mas tunjukkan ke Zahra waktu itu masih nggak mas?"
"Brosur?"
"Hmmm," Zahra mengangukkan kepalanya dengan cepat.
"Dek Zahra mau kuliah?"
"Kalau boleh sih," ucap Zahra ragu.
"Boleh dek, boleh aja," ustad Zaki tersenyum kemudian kembali bicara, "Tapi dek Zahra berubah pikiran karena ucapan dari Ina?"
"Mas tahu?"
Ternyata Bu Narsih menceritakan semua yang di bicaranya Ina waktu itu kepada ustad zaki.
"Jadi benar?"
"Ya, ya nggak sepenuhnya benar." ucap Zahra ragu, "Setelah Zahra pikir-pikir memang benar mas, menjadi istri seorang ustad, Gus, harusnya pintar kan, setidaknya aku bisa mengimbangi ilmu agama mas ustad. Nanti kalau mas mau bicara soal agama sama Zahra, Zahra sedikit-sedikit ngerti." ucap Zahra lagi menjelaskan.
"Mas nggak mau kamu terlalu terbebani nanti."
"Zahra janji, Zahra bisa membagi waktu. Lagi pula dokter bilang Zahra sudah bisa mulai beraktifitas seperti biasa, bahkan Zahra sudah di anjurkan untuk mulai olah raga kan."
"Terimakasih ya mas."
Malam hari setelah sholat isya', ustad Zaki segera menemui sang istri.
Ia sudah meminta bantuan Amir untuk mencarikan brosur di berbagai kampus yang ada di Blitar, beruntung teman Amir banyak yang bekerja di area kampus karena memang Amir orang asli Blitar jadi tidak sulit untuk mencari brosur.
Meskipun hanya marbot tapi Amir juga lulusan SMA, ia juga pernah mengenyam pendidikan pesantren walaupun sambil sekolah.
"Lagi cari apa dek?" tanya ustad Zaki saat melihat Zahra yang tengah sibuk mencari-cari sesuatu.
"Mas lihat ijasah Zahra nggak mas? Perasaan kemarin pas habis di ambil Zahra belum sempet simpen."
Ustad Zaki tersenyum, ia pun mendekati sang istri dan mengajaknya duduk,
"Duduklah dek, mas sudah menyimpannya di ruang kerja mas. Maaf ya mas nggak ngomong dulu, soalnya kemarin dek Zahra naruhnya di atas meja dapur, dari pada hilang jadi mas simpenin."
Ahhhh .....
__ADS_1
Akhrinya Zahra lega, ia pikir memang ijazah nya mungkin memang hilang karena ia ingat belum menyimpannya.
Kemudian manik mata zahra menangkap beberapa kertas yang ada di tangan ustad Zaki,
"Itu apa mas?"
"Brosur, buat dek Zahra."
Ustad Zaki pun menyerahkan brosur itu pada Zahra dan Zahra pun dengan semangat memeriksanya.
'Waduhhhh, kayaknya aku salah deh ambil strategi,' batin ustad Zaki saat melihat Zahra yang malah sibuk dengan brosur-brosur itu.
"Dek, bisa nggak itu di bacanya besok aja?"
Mendapat pertanyaan dari ustad Zaki, Zahra pun menatap padanya,
"Kenapa mas?"
"Mas pengen_," ucap ustad Zaki dengan penuh harap.
"Pengen apa?" Zahra masih tidak peka meskipun ustad Zaki sudah memberi isyarat dengan bahasa tubuh.
"Pengen nengok anak kita."
"Gimana caranya?"
"Serius mau tahu?"
"Hmmm," Zahra pun mengangukkan kepalanya.
Ustad Zaki segera mengambil kembali brosur-brosur itu dan menyimpannya di atas meja. Segara ia menarik tubuh Zahra dan merebahkannya di atas tempat tidur.
"Mas, harus dekat seperti ini ya?" tanya Zahra saat wajah tampan sang suami begitu dekat dengannya membuat aliran darahnya begitu cepat.
"Iya, bahkan lebih dekat lagi."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...