
Ustad Zaki benar-benar tidak bisa masuk ke dalam kamar, Zahra tidak berniat untuk membukakan pintu kamar untuk suaminya, beruntung ada kamar mandi di samping dapur dan beberapa baju yang masih berada di jemuran,
Setelah sholat subuh berjamaah di masjid, ustad Zaki buru-buru pulang berharap Zahra sudah keluar dari kamar, tapi nyatanya istrinya itu tidak juga keluar, ustad Zaki pun segera memasak untuk sarapan, ia akan bicara nanti saat sarapan dan mengantar Zahra ke sekolah.
Tepat pukul setengah tuju, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Zahra membuka pintu kamarnya, ia sudah lengkap mengenakan seragam dan tas yang sudah menggantung di punggungnya, tapi kali ini tasnya terlihat sedikit penuh.
"Dek, sarapan dulu!" sapa ustad Zaki dan Zahra hanya menoleh dengan tatapan dingin.
"Zahra nggak sarapan mas, Zahra puasa!"
Ustad Zaki melirik pada kalender yang terpajang di dinding, seingatnya ini hari Kamis, tapi hari Senin Zahra tidak puasa.
"Oh begitu ya, puasa apa?"
"Mengkhodo' pas bukan ramadhan!"
"Ya udah kalau gitu mas ambil jaket dulu, mas anter ke sekolah!" ustad Zaki sudah beranjak dan hendak mengambil jaketnya,
"Tidak!" tapi ucapan Zahra segera menghentikannya, ia segera menoleh kembali pada istrinya,
"Nur sudah jemput di depan!"
"Nur?"
"Iya, kebetulan ia sudah dapat SIM kemarin!"
"Ya udah, nanti mas jemput!"
"Nggak usah, untuk beberapa hari ini Zahra pengen nginep di rumah bapak!"
Ustad Zaki terdengar menghela nafas, ia berjalan cepat untuk mendekati istrinya.
"Dek,"
"Mas, Zahra hanya ingin menginap beberapa hari."
Ustad Zaki menggengam tangan Zahra,
"Baiklah, boleh. Tapi nanti mas yang anter, mas akan jemput dek Zahra di sekolah!"
"Terserah mas ustad, Zahra berangkat dulu!" Zahra segera menarik tangan itu dan mencium punggung tangannya,
"Assalamualaikum!" tapi segara menghindar saat sang suami ingin menarik kepalanya untuk mencium keningnya.
"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki yang hanya bisa berdiri diam melihat punggung Zahra yang semakin menghilang di balik pintu.
"Ya Allah, aku harus apa sekarang?" ustad Zaki menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya hingga membuat seluruh keningnya terbuka lebar.
Flashback on
"Pak Kyai, apa hubungannya dengan saya dan Amir jika dek Imah hamil?" ustad Zaki benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di tuduhkan padanya dan Amir.
"Karena belakangan ini hanya ustad dan Amir yang selalu bersama putri saya, Imah!"
"Tapi kami hanya mengajar saja, tidak lebih dari ini, Amir jadi saksinya!"
"Lalu bagaimana dengan foto-foto ini?" kyai Rosyid menyerahkan Beberapa lembar foto kepada ustad Zaki, rupanya itu foto yang di ambil dari enggel yang memperlihatkan seolah-olah ustad Zaki dan Imah sedang berciuman, padahal mereka tengah membahas sebuah kitab.
"Astaghfirullah hal azim, kyai! ini sungguh tidak seperti yang ada di foto!"
"Lohhh, foto itu sudah menjelaskan semuanya, ustad. Saya nggak keberatan jika putri saya menjadi istri kedua ustad, asal ustad mau tanggung jawab, ini ada bayi di perut putri saya!"
"Kalau begitu, tolong panggilan dek Imah!"
__ADS_1
"Imah hanya terus menangis dan mengunci diri di kamar, ia tidak mengatakan apapun setelah kami mengetahui kalau dia hamil!"
"Lalu pak Kyai dapat foto-foto ini dari mana?"
"Ada orang kepercayaan saya yang memberitahu!"
Flashback off
Ustad Zaki kembali mengingat perdebatannya dengan kyai Rosyid, tapi yang menjadi masalah sekarang Imah tidak bisa di ajak bicara, bahkan ia sudah mencoba mengetuk pintu kamarnya tapi gadis itu benar-benar tidak mau keluar hanya sekedar untuk menemuinya.
"Aku harus apa sekarang?" gumamnya lagi, kini ia sudah berganti posisi duduk di sofa depan tv mencoba mencari solusi atas masalahnya.
***
"Zah, kamu beneran nggak pa pa kan?" tanya Nur sepanjang perjalanan.
"Nggak pa pa!"
"Kamu marahan sam ustad Zaki?"
"Aku masih hanya butuh sendiri, Nur!"
Mereka pun mengakhirinya perbincangan mereka saat sampai di sekolah, Zahra menjadi sangat pendiam selama pelajaran berlangsung, ia bahkan tidak pergi ke kantin saat istirahat.
Bayu yang sudah menunggunya di kantin terpaksa menghampiri Zahra ke kelas karena Zahra tidak kunjung datang.
"Ternyata kamu di sini, aku menunggumu lama di kantin!"
"Aku puasa!" jawab Zahra singkat dengan tatapan kosongnya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Bayu menarik kursi yang ada di depan bangku Zahra dan memutarnya agar bisa menatap Zahra dengan leluasa.
"Pergilah Bayu, bentar lagi bel masuk!"
"Aku cuma ini bicara sama.kamu, Ra!"
"Tapi aku nggak mau hubungan kita selesai, aku janji aku akan bisa meluluhkan semua hati keluargamu, mas kamu, ibu kamu dan terutama bapak kamu!"
Brakkkk
Zahra memukul meja dan berdiri dari duduknya, ia benar-benar kesal pada Bayu membuat beberapa anak yang memang masih berada di kelas terkejut di buatnya,
"Sudah aku bilang Bayu, semuanya sudah selesai. Jadi sekarang pergilah dari sini!"
"Ra,"
"Aku mohon!" Zahra merendahkan suaranya, sedikit bergetar.
"Baiklah, nanti kalau suasana hati kamu sudah baik, aku akan menemuimu lagi, tapi balas pesanku juga!"
Zahra hanya diam dan tidak berniat menjawab, Bayu pun terpaksa pergi ia tidak mau kemarahan Zahra semakin menjadi.
Bel masuk berbunyi, beberapa anak satu per satu mulai memasuki kelas begitu juga dengan Nur.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar pengumuman dari spiker sekolah yang mengatakan kalau hari ini semua dewan guru ada rapat jadi seluruh siswa di pulangkan lebih awal.
Sorak Sorai menghiasi seluruh kelas, satu per satu siswa meninggalkan kelasnya dengan wajah sumringah, beberapa dari mereka masih memilih untuk bertahan di dalam kelas.
Zahra terlihat malas mengemasi buku-buku nya hingga Nur menghampiri bangkunya,
"Zah, pulang sama aku ya!" ajak Nur.
Sebenarnya Zahra ingin pulang dengan Nur saja, tapi ia sudah terlanjur berjanji pada suaminya bahwa ia bersedia di antar pulang ke rumah bapaknya.
__ADS_1
"Mas ustad akan jemput, Nur! Kamu duluan saja!"
"Sudah kamu kirim pesan kalau hari ini pulang lebih cepat?"
Zahra menggelengkan kepalanya,
"Ya udah kirim pesan sana!"
"Nggak perlu , mungkin nanti seseorang akan memberitahunya lebih dulu!"
"Siapa? Bu Chusna?"
Sekali lagi Zahra hanya mengangukkan kepalanya,
"Kamu masih cemburu sama Bu Chusna?"
"Siapa yang nggak akan suka sama mas ustad, Nur! Semua orang suka dan berpeluang untuk menjadi pasangannya!"
"Zah, nggak gitu konsepnya!"
"Aku akan menyerah, Nur!" ucap Zahra kemudian berlalu meninggalkan nur, membuat nur sedikit berlari untuk mensejajari langkahnya.
"Zah, kamu nggak boleh nyerah. Semua belum tentu benar, ustad Zaki pasti bisa membuktikannya!"
"Apapun itu, aku akan terima Nur, kalau mas ustad ingin menikahi Imah, aku bisa apa!?"
"Ya Allah zah! Kamu terlalu pesimis!"
"Aku bukan pesimis Nur, tapi aku realistis! Imah lebih segala-galanya dari aku,"
"Tapi dia hamil di luar nikah, Zah!"
"Jika hamilnya dengan mas ustad_?"
"Astaghfirullah hal azim!"
"Sudah Nur, aku nggak mau bahas ini lagi, aku hanya ingin menenangkan diri!"
Tanpa sadar mereka sudah sampai di dekat gerbang sekolah,
"Pulanglah Nur, aku akan menunggu mas ustad di sini!"
"Aku akan menemanimu!"
"Nggak perlu!"
"Tapi_!"
"Tidak pa pa, aku hanya ingin sendiri!"
"Baiklah, tapi kalau ada sesuatu segera hubungi aku ya!"
"Iya!"
Akhirnya Nur harus benar-benar meninggalkan Zahra, memberi kesempatan pada Zahra untuk menyendiri, mungkin sendiri akan sedikit mengurangi rasa sedihnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰