Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Jodoh untuk ustad Farid


__ADS_3

Ustad Farid menghela nafas, bisa mati berdiri aku menghadapi gadis seperti dia ...., batin ustad Farid. Ia menggelengkan kepalanya.


Ia terus memainkan hp nya, entah tengah berkirim pesan pada siapa, setelah lima menit Zahra berdiri akhrinya ustad Farid menyelesaikan kirim pesannya dan meletakkan ponselnya di atas meja, ia kembali mendongakkan kepalanya menatap Zahra yang ternyata masih berdiri di depannya.


"Mau berdiri aja atau duduk nih?" tanyanya kemudian.


"Tapi tadi Zahra duduk di sana!"


"Mau di sana, atau di sini juga boleh! Ribet banget!"


Zahra tersenyum melihat wajah kesal ustad Farid, Zahra pun duduk berhadapan dengan ustad Farid.


Tidak berapa lama pesanan Zahra akhirnya datang juga, menyusul dengan pesanan ustad Farid yang hanya memesan kopi.


"Ustad Farid ngapain di sini?"


"Tadi ada acara di seberang sana!"


"Sudah selesai?" tanya Zahra sambil mulai menyantap makanannya.


"Belum,"


"Kok di sini?"


"Ngantuk pengen ngopi!"


Issttttt, gimana santrinya kalau ada acara di tinggal ngopi ...., batin Zahra sambil melirik pria matang di depannya itu.


"Jangan mikir macam-macam, aku acaranya nggak sama santri, aku ada debat santri, kebetulan masih nunggu Narasumber!"


"Ohhhh!"


Tidak berapa lama dari pintu masuk terlihat ustad Zaki berjalan cepat menghampiri mereka.


"Assalamualaikum!" sapanya dan ikut duduk.


"Waalaikum salam," jawab ustad Farid dan Zahra bersamaan.


"Makasih ya Rid, udah jagain istriku!" ucap ustad zaki


"Santai aja!" jawab ustad Farid sambil menyesap kopinya yang masih terlihat mengepulkan asap.

__ADS_1


Zahra yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menatap mereka bergantian,


"Ini maksudnya apa? Jadi tadi ustad Parid pura-pura nanyain mas ustad cuma bohong?"


"Wes mulai wes, tadi udah bener panggilnya sekarang pakek P lagi!?" keluh ustad Farid dan ustad Zaki pun hanya tersenyum.


"Nggak sepenuhnya benar dek, yang benar itu tadi pas ustad Farid ketemu dek Zahra di sini, langsung kirim pesan sama mas, jadi sekalian mas minta ustad Farid buat jagain dek Zahra!" ustad Zaki berusaha untuk menjelaskan.


"Ohhhhh, kirain!?" ucap Zahra dan ustad Zaki pun mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut lalu meninggalkan kecupan di sana.


"Wes wes wes ...., jaga perasaan dong. Nggak usah mesra-mesraan di sini, nggak tahu apa ada_!" keluh ustad Farid dan langsung di sambut tawa Zahra dan ustad Zaki.


"Ya Allah, dek. Jangan sampek pulang dari sini ustad Farid nikah!?" ledek ustad Zaki dan membuat ustad Farid semakin cemberut.


"Au ah, gelap!!!!" ustad Farid mencoba untuk cuek. Ia kembali menyesap kopinya hingga habis meskipun masih panas.


"Oh iya, aku dengar kalian mau kembali ke Blitar besok. Aku cuma bisa doakan yang terbaik buat kalian, kalian juga harus doain saya biar cepat dapat_!"


"Jodoh!" ucap ustad Zaki dan Zahra bersamaan begitu kompak membuat ustad Farid melengos.


"Tahu aja kalian!"


"Ya tahu lah, semoga nanti kamu dapat jodoh yang kayak istriku, amiin!" doa ustad Zaki dan di Aminin juga oleh Zahra.


"Ya yang Sholehah!" jawab ustad Zaki sambil tersenyum, "Kalau aku lihat kalian kompak banget soalnya, pasti rame nanti kalau dapat istri yang kayak istri aku, iya kan dek?" ustad Zaki meminta persetujuan dari sang istri.


"Iya ustad, pokoknya Zahra dukung! Soalnya kasihan kalau dapetnya yang kalem kayak ustadzah Nafis!"


"Yang kasihan siapa nih, aku apa_?" tanya ustad Farid sambil melirik temannya itu.


"Ya ustadzah Nafis. Masak mas ustad!?" ucap Zahra masih dnsgan tertawa renyah.


Merasa percakapan mereka mulai canggung, ustad Farid pun segera berpamitan.


"Sudah, aku mau kembali ke acara. Bayarkan sekalian kopiku ya Zak, itung-itung upah jagain istri kecilmu itu!" ucapnya sambil memakai kembali pecinya yang sempat ia lepas dan ia letakkan di atas meja,


"Kebiasaan!?" keluh ustad Zaki.


"Sekali-kali, lagi pula uangmu yang banyak buat apa kalau tidak nyeneningi temen lama kamu ini,"


"Issstttt!?"

__ADS_1


Setelah merasa sudah pas cara memakai pecinya, tidak lupa ia juga mengambil ponselnya yang masih di atas meja,


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki dan Zahra bersamaan dan ustad Farid pun meninggalkan mereka.


"Dek Zahra kenapa bawa-bawa ustadzah Nafis?" tanya ustad Zaki kemudian. Ia hanya khawatir jika istrinya itu masih memikirkan tentang masa lalunya itu.


"Tidak pa pa, tadi cuma becanda mas, jangan ambil pusing!"


"Ooohh!" akhrinya ustad Zaki bernafas lega.


Setelah selesai menyantap beberapa makanan di kafe, mereka pun memutuskan untuk mencari oleh-oleh di pusat oleh-oleh.


Ustad menjaga Zahra, ustad Zaki sengaja menaikkan Zahra ke atas troli belanja,


"Nggak usah protes ya!?" ucapnya sembari memilih beberapa oleh-oleh.


"Memang kapan Zahra protes!?"


"Anak pinter!?" puji ustad Zaki sambil mengusap kepala Zahra.


***


Akhirnya hari ini mereka benar-benar pulang, mereka kembali ke Blitar karena Zahra lusa harus sudah ujian. Ini ujian terakhir Zahra sebelum lanjut ke perguruan tinggi.


Kedatangan mereka langsung di sambut beberapa tetangga, orang tua Zahra juga sudah menunggu di rumah mereka, membantu mereka menjamu tamu yang sengaja datang untuk menanyakan kabar, seperti kebanyakan kebiasaan di kampung, apabila ada yang kembali dari bepergian maka tetangga kiri kanan atau teman sejawat akan datang hanya sekedar bertukar kabar.


Sejak kepulangan mereka hingga larut malam masih saja ada yang datang,


Tapi ustad Zaki meminta Zahra untuk istirahat dengan alasan menyiapkan ujian.


Bersambung


Yang lagi nungguin jodoh untuk ustad Farid, insyaallah akan aku buat season 2 nya setelah ini end ya. Insyaallah yang ini tinggal beberapa episode lagi akan end dan langsung sambung yang baru tapi tentang ustad Farid. Doakan ini segera selesai ya, terimakasih


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2