
...Agak panas jadi bagi yang belum cukup umur, mending di skip aja ya...
Zahra kembali menatap sang suami, ia begitu penasaran dengan sesuatu. Tapi rupanya ustad Zaki juga tengah mengamati istrinya itu,
"Dek, kamu tadi jadi keramas?" ia baru menyadari jika rambut Zahra masih basah.
"Hmmm!"
"Kenapa keramas? Biasanya dek Zahra nggak keramas?"
Seketika tatapan Zahra beralih ke tempat lain, bukan lagi ke wajah tampan sang suami.
Nggak kelihatan, tapi aku yakin tadi besar.
Ustad Zaki segera menyadari arah tatapan Zahra, beruntung di sampingnya ada bantal kecil dengan cepat ia meletakkan bantal itu di atas pangkuannya.
"Kenapa melihat ke sini terus?" tanya ustad Zaki kemudian.
Zahra dengan cepat menelan minumannya yang masih di dalam mulut, ia tidak menyangka jika ustad Zaki menyadari arah tatapannya.
"Enggak, perasaan mas ustad aja kali!" Zahra segera mengalihkan tatapannya beruntung saat ustad Zaki hendak bertanya lagi makanan pesanan mereka datang membuat perhatian Meraka jadi teralihkan.
"Makan yang banyak, nanti insyaallah kalau ada waktu kita mampir ke tempat ym teman mas dulu ya!"
"Ke mana?"
"Ke pesantren."
"Malu ah, Zahra nggak usah ikut!"
"Beneran?"
"Hmmm!"
Ustad Zaki tidak berniat memaksa Zahra m, mereka pun akhirnya melanjutkan makan. Ia tidak mau pagi mereka jadi rusak karena ia memaksakan kehendak.
"Mas, tentang pertanyaan Zahra yang tadi_!" Zahra kembali mengingat apa yang ia ingin tanyakan sebelum sholat tahajud.
"Oh itu, jangan bahas sekarang ya. Nanti aja kalau di rumah!"
Ihhh, suka banget menunda. Tinggal jawab juga ...
"Jangan-jangan benar ya, kita sudah melakukannya?" pertanyaan Zahra yang cukup keras berhasil menarik perhatian pelanggan yang lain.
"Tuh kan, jangan keras-keras!" ucap ustad Zaki pelan sambil tersenyum pada pelanggan lainnya.
"Maaf, nggak sengaja!"
__ADS_1
Akhirnya Zahra menyerah, ia memilih diam terlebih dulu hingga mereka benar-benar mengakhirinya sarapan paginya yang luar biasa.
"Mau makan sesuatu lagi?" tanya ustad Zaki.
"Enggak, Zahra sudah kenyang."
Ustad Zaki pun kembali melambaikan tangannya pada pelayan.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Minta bilnya!"
Pelayan itu pun menyerahkan selembar kertas kecil pada ustad Zaki, tapak ustad Zaki mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya itu. Tapi sesuatu sepertinya ikut terjatuh hingga membuat ustad Zaki membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sesuatu yang jatuh dari dalam dompetnya itu.
Kesempatan itu Zahra gunakan untuk melihat bil sarapan pagi mereka,
Hampir setengah juta ...., batinnya saat melihat angka yang berjejer di kertas itu hingga ia kembali menjauhkan kepalanya saat ustad Zaki sudah kembali di mejanya.
Pelayan itu menggeserkan kartu ATM ke mesin kecil itu dan segera mengembalikannya setelah pembayaran selesai.
"Terimakasih atas kunjungannya!"
"Sama-sama!"
Ustad Zaki pun segera mengajak Zahra pergi dari restauran itu.
"Hmmm?"
Zahra merasa ada yang aneh, ia memang tidak tahu berapa banyak uang yang ada di benda tipis milik suaminya itu. Tapi melihat sang suami membayar makanannya tanpa beban, itu sungguh aneh.
"Ada apa?" tanya ustad Zaki lagi saat Zahra tidak juga kembali bertanya.
"Lain kali kita makannya di pinggir jalan aja ya!"
"Kenapa?"
"Zahra kurang nyaman!"
Ustad Zaki menoleh pada istrinya dan tersenyum, "Emmm, iya!" jawabnya tanpa beban, "Tapi kalau sesekali tidak pa pa!"
"Hmmm!"
Zahra memilih kembali fokus berjalan, ia masih cukup terkejut dengan makanan yang sudah ia makan hari ini, ia tidak menyangka sekali makan saja sudah habis begitu banyak, jika di buat untuk makan di pedagang kaki lima bisa untuk makan beberapa kali.
Hingga akhirnya mereka pun sampai kembali di dalam kamar, Zahra segera duduk di sofa dan ustad Zaki pun segera menyusulnya.
"Dek, kamu kenapa? Ada masalah?"
__ADS_1
Zahra hanya menggelengkan kepalanya.
Ustad Zaki kembali mendekatkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka,
"Dek!?"
"Hmmm?" Zahra menoleh tapi tidak menyangka wajah sang suami begitu dekat dengannya saat ini membuat nafasnya tertahan.
"Boleh mas_!" belum selesai ustad Zaki bertanya, tiba-tiba Zahra menempelkan begitu saja bibirnya di bibir ustad Zaki.
Sepertinya bibir itu seperti sebuah magnet yang tidak bisa dihindari oleh Zahra, sekuat apapun dia mencoba menjauh nyatanya ia ingin sekali lagi merasakan bibir manis itu.
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, ustad Zaki pun segera memperdalam ciumannya, ia menarik tengkuk Zahra hingga membuat begitu dekat.
Sepertinya ia sudah mulai lihai, ia menggigit bibir bawah Zahra hingga membuat mulut Zahra terbuka, menyusupkan lidahnya ke sana dan mengabsen satu per satu apa tangan di dalam mulut Zahra.
Zahra terus mengimbangi apa yang di lakukan oleh sang suami, ia mencengkeram erat kemeja sang suami, merasakan sensasi yang luar biasa. Ia seakan tidak semuanya berakhir.
Hingga tanpa sadar kini tubuhnya sudah berada di bawah Kungkungan sang suami, di atas sofa itu, sepertinya tidak hanya berhenti di bibir saja karena kini bibir itu sudah menjalar ke leher Zahra, meninggalkan sesuatu di sana. Bahkan tangannya tengah berusaha untuk melepaskan satu per satu kancing kemeja yang di kenakan oleh Zahra hingga kini hampir terbuka semua baju bagian depan Zahra, menyusupkan wajahnya di atas dada Zahra hingga mambuat Zahra mendengus merasakan sensasi yang luar biasa itu. Tangan Zahra terus menahan kepala sang suami agar tidak berpindah dari tempatnya.
Seperti mendapatkan angin segar, ia pun mulai meninggalkan banyak jejak di dada Zahra, tangannya tak lagi diam. Tangannya mulai menyusup ke selah kain kecil yang menutup kedua gundukan yang mirip dengan squisi itu, mer*masnya dengan lembut, memainkan tangannya di sana.
"Ehhhhmmmm!" sekali lagi suara lenguhan dari Zahra membuatnya semakin tidak karuan, rasanya tidak ingin mengakhirinya tapi otak warasnya masih berusaha mengendalikan dirinya agar tidak membuka bagian bawah tubuh Zahra, ia tidak mau sampai kelepasan.
Hanya beberapa kali menggesekkan bagiannya yang kesar ke tubuh Zahra tanpa berniat untuk menuntaskannya.
Hingga Akhirnya merasakan kenikmatan yang luar biasa, tanpa bersentuhan satu sama lain.
"Mas, kayaknya Zahra ngompol?!" ucapnya seketika saat merasakan basah di bagian bawahnya.
Ternyata yang merasakan hal itu bukan hanya dirinya, sang suami pun juga merasakan yang sama meskipun tidak benar-benar tempur.
Ia pun segera beranjak dari tubuh Zahra dan Zahra pun segera lari ke kamar mandi.
"Ini memalukan sekali, kenapa aku bisa ngompol di saat yang seperti ini!" gerutu Zahra sambil melepas celananya,
"Ehhh enggak, ini bukan ompol. Nggak bau juga!" Zahra kembali menoleh ke pintu, "Tapi itu tadi tidak_, iya celanaku masih utuh. Hanya bajuku saja kan yang lepas!" gumamnya lagi saat kembali mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
"Memang sih tadi ada yang keras-keras, tapi nggak sampai menyusup! Apa itu artinya kami sudah benar-benar melakukannya?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰