Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Masa lalu ustad Zaki part 1


__ADS_3

Yang mengenal ustad Zaki yang sekarang pasti mengira jika pria itu sudah tumbuh menjadi pribadi yang begitu baik dan dekat dengan Tuhannya seperti saat ini, tapi nyatanya tidak. Semua hal untuk menjadi baik tentunya butuh proses yang panjang dan ustad Zaki melalui semua itu.


Benar apa kata seseorang, jika sesuatu yang ada itu tidak datang secara ujug-ujug, karena nyatanya semua butuh proses dan jalan yang panjang.


Semua di mulai dari dua puluh tujuh tahun yang lalu.


Di salah satu pesantren di Jawa barat tengah bahagia menyambut kelahiran putra pertama dari sepasang suami istri yang baru menikah sekitar dua tahun lalu, abinya baru saja diberi tanggung jawab untuk mengelola sebuah pesantren.


Nama anak itu Zaki Keenan Naafi. Anak yang cerdas dan tegas. Biasa di panggil Zaki oleh orang-orang terdekatnya. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas, bersuara merdu, tampan, dan menjadi kesayangan banyak orang.


Selang lima tahun, ia juga di karunia seorang adik perempuan yang juga begitu cantik namanya Hasna. Mereka tumbuh bersama di lingkungan pesantren,


Hingga saat Hasna duduk di bangku SMP ia memutuskan untuk sekolah di Kairo, berbeda dengan Hasna, Zaki yang hampir lulus SMA memilih jalan yang berbeda. Zaki remaja mulai mencari jati dirinya. Ia bergaul dengan banyak teman, ikut tawuran sana sini, ikut klub motor. Dan itu menjadi ujian terberat bagi kedua orang tuanya.


Hingga seorang gadis yang tiba-tiba datang dan menempati rumah yang ada di seberang jalan itu mengalihkan dunianya, Zaki remaja yang suka keluyuran, pergi malam pulang pagi tiba-tiba menjadi anak rumahan.


Setiap malam ia memiliki kebiasaan baru, ia duduk di teras kamarnya hanya untuk menunggu seorang gadis di seberang jalan itu membuka jendela kamarnya dan tersenyum padanya.


Dan hal yang lebih menyenangkan lagi, ayah dari gadis itu ternyata mengajar di pesantren yang abinya kelola, dan yang lebih menyenangkan lagi ternyata gadis itu sekolah di tempat yang sama dimana dia sekolah.


Setiap hari, ia selalu mencari kesempatan untuk bisa berangkat dan pulang bersama-sama. Gadis itu adalah Nafis, Zida Nafisah.


Dan rupanya gayung pun bersambut, Nafis diam-diam juga menaruh perasaan padanya. Dan hal itu diketahui oleh ayah gadis itu.


Akhirnya terjadilah pertemuan dua keluarga,


"Bagaimana menurut pak kyai?" tanya kyai Ramli pada Abinya.


"Kalau saya terserah anaknya, tapi Nafis anak yang baik, dia juga sangat cerdas Sholihah, sedangkan Zaki_!" abinya tengah menatapnya ragu sedangkan Zaki mengerti maksud tatapan abinya.


"Insyaallah nak Zaki anak yang baik kyai. Dan insyaallah juga Nafis bisa membimbing nak Zaki!"


"Maaf kyai, boleh saya bicara!" Zaki remaja segera memotong pembicaraan para orang tua itu.


"Iya nak, silahkan!"


"Saya belum bisa menikah saat ini, jika di ijinkan biarkan saya belajar menjadi imam yang baik dulu baru menikah."


"Tapi Nafis sudah cukup baik untuk membimbing nak Zaki menjadi suami sekaligus imam yang baik!"


"Maaf, kalau menurut saya bukan Zaki yang di bimbing tapi Nafis sebagai istri yang di bimbing, jika kyai keberatan dengan pendapat saya, kyai bisa mencari orang lain yang mungkin bisa di bimbing oleh Nafis, saya permisi. Assalamualaikum!"


"Zaki!" panggil abinya, tapi ternyata Zaki remaja lebih keras kepala. "Waalaikum salam!"

__ADS_1


"Maafkan Zaki, kyai!"


"Tidak pa pa kyai, apa yang nak Zaki katakan memang ada ada benarnya. Mungkin nanti jika nak Zaki siap, saya akan datang dengan lamaran saya lagi."


***


Zaki memilih keluar rumah dengan motornya, seperti biasa ia akan ke tempat nongkrongnya. Tapi saat berada di depan ia berpapasan dengan gadis yang sudah membuat hatinya bergetar itu,


"Ustad, tunggu!" panggil Nafis dan Zaki remaja mengurungkan niatnya untuk menjalankan motornya.


"Berhenti panggil aku seperti itu!" ucap daki remaja, "Jangan membuat harapan yang akan menghancurkan hati kamu!"


Nafis tersenyum, "Tidak, insyaallah aku yakin dengan ini, suatu saat kamu bisa menemukan jati dirimu sendiri_, ustad!"


Zaki remaja tersenyum, ia memang tidak setuju dengan anggapan bahwa wanita bisa membimbing lelakinya, tapi jika wanitanya seperti Nafis, pastilah lelaki terbaik yang harusnya menjadi pendampingnya,


"Aku pergi, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Zaki remaja semejak saat itu memilih menghindar meskipun ia telah memupuk rindu,


Hingga kelulusan pun tiba. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya cukup dilema.


"Tadi kyai Ramli kesini, Zak!" ucap abinya.


"Tapi ke sininya kyai Ramli buat kamu!" ucap sang Abi dan Zaki memilih untuk diam menunggu ucapan abinya selanjutnya.


"Beliau kembali meminang kamu,"


"Tapi Zaki _!"


"Dengarkan Abi dulu!" ucap abinya membuat Zaki diam menunggu kelanjutan ucapan sang Abi, "Kyai Ramli sengaja meminang kamu sekarang karena Minggu depan Nafis akan melanjutkan pendidikannya ke Kairo."


Seketika Zaki tercengang, ia segera menoleh pada Abinya.


"Iya Zak. Tidak ada salahnya kan kalau kalian menikah Minggu ini dan kamu bisa bersama-sama ke Kairo, selain kuliah di sana, kamu juga bisa mengawasi adik kamu!"


"Zaki pikirkan dulu, bi. Assalamualaikum!"


Zaki memilih kembali keluar dengan motornya, ia pergi ke taman untuk menenangkan diri, mencari jawaban yang tepat untuk itu.


Di satu sisi ia belum siap menjadi suami dari seorang Nafis tapi di sisi lain ia tidak ingin kehilangan Nafis, ia terlanjur jatuh cinta pada gadis itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" sapaam seseorang membuat Zaki mendongakkan kepalanya, ternyata itu Nafis, ia tengah tersenyum padanya.


"Waalaikum salam!"


"Boleh Nafis duduk?"


"Silahkan!" ucap Zaki tetapi Nafis sama sekali bergeming di tempatnya hingga Zaki tersadar akan sesuatu, ia pun menggeser duduknya hingga ke paling tepi, sekali lagi Nafis tersenyum dan duduk di ujung kursi hingga menyisakan tempat kosong di tengah-tengah mereka.


"Lagi ngapain di sini, ustad?" tanya Nafis membuat Zaki menghela nafas,


"Berhenti memanggilku seperti itu, Nafis!"


"Aku suka dengan panggilan itu, jadi biarkan aku memanggilmu seperti itu ya, karena Nafis berharap suatu saat kamu menjadi seorang ustad."


"Jika tidak?"


"Aku tidak akan pernah menyesal karena setidaknya aku pernah berdoa yang terbaik untuk kamu."


Hehhh ....


Sekali lagi Zaki menghela nafas, ia kembali fokus ke depan. Menatap pepohonan yang berayun-ayun karena angin yang menerpanya.


"Ada apa di sini?" tanya Nafis sekali lagi.


"Nggak pa pa, hanya menenangkan diri aja, mencari sebuah jawaban!"


"Kenapa tidak ke masjid aja, insyaallah Allah yang akan menjawabnya!"


Zaki menoleh pada gadis dengan gamis panjangnya itu. Begitu manis dan menyejukkan,


"Aku pergi dulu ya, besok bisa kan beri jawabannya pada Nafis?"


Zaki pun mengangukkan kepalanya dan gadis itu berdiri dari tempatnya,


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2