
Zahra sudah menunggu kedatangan suaminya, ustad Zaki memang sudah meminta seseorang untuk menemani Zahra selama iia tinggal pergi-pergi.
Semenjak Wahid kuliah dan ustad Farid tidak lagi mengurus kedainya, pekerjaannya jadi semakin banyak. Beruntung mas Imron bersedia membantunya mengurus kedai yang ada di Blitar sekalian antar jemput Zahra ke kampus.
Selain kesibukan mengurus bisnisnya, jadwal ceramah ustad Zaki juga lumayan padat. hampir satu Minggu sekali ustad zaki harus pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan.
Profesi barunya sebagai dosen juga cukup menguras waktunya, beruntung Zahra bukan istri yang suka protes, ia cukup tahu dengan kesibukan suaminya. Sejak awal pernikahan memang suaminya itu sudah cukup sibuk, dan itu bukan masalah buat Zahra.
Zahra memegang sebuah kertas di tangannya, meskipun ia tengah menunggu suaminya, tapi ia tidak yakin akan memberikan kertas itu pada sang suami.
"Nggak ah, lagi pula ini kan nggak wajib." Zahra kembali meletakkan kertas itu di balik buku-buku tebalnya.
Ahhhh, tentu itu bukan keinginan Zahra. Ia tidak pernah berpikir akan membeli buku-buku tebal itu, tapi suaminya sudah membelikan untuknya. ustad Zaki bahkan sudah memberi jadwal untuk membaca buku-buku itu dan akan menanyakannya banyak pertanyaan tentang buku yang di baca Zahra sebelum tidur.
Hingga suara mobil yang memasuki halaman rumahnya berhasil membuat Zahra berdiri dari tempatnya dan hendak menghampiri sang suami tapi ternyata langkahnya tidak seringan dulu sebelum perutnya berisi.
"Assalamualaikum, dek." ustad Zaki sudah lebih dulu membuka pintu dari luar dengan senyum khasnya yang selalu berhasil membuat jantung Zahra tidak karuan.
"Waalaikum salam, mas." Zahra hendak melanjutkan langkahnya tapi tangan ustad Zaki segera memberi isyarat pada Zahra untuk diam di tempatnya hingga ustad Zaki yang berjalan mendekatinya.
Ustad Zaki mengulurkan tangannya dan seperti biasa Zahra akan mencium punggung tangan suaminya itu,
"Kenapa bersemangat sekali hari ini?" tanya ustad Zaki saat melihat senyum manis yang di tunjukkan oleh suaminya.
Dengan cepat Zahra menormalkan mimik wajahnya,
"Enggak, biasa aja."
"Ohhh," ustad zaki tidak lanjut bertanya, ia lebih memilih memeluk istrinya itu. "Ahhhhh, kangen sekali."
"Ihhhh lebay," ucap Zahra sambil memukul ringan dada suaminya, pasalnya tadi di kampus mereka juga bertemu,
"Serius dek," ucap ustad Zaki sambil mengusap puncak kepala zahra dan menyisir rambut Zahra yang menutup keningnya ke belakang dengan jari-jari tangannya, kemudian meninggalkan kecupan di sana.
Zahra memang sudah mulai belajar memakai hijab, tapi ia belum menerapkan sepenuhnya. Saat di rumah seperti ini, ia masih membuka hijabnya.
Zahra akhirnya memilih menerima apapun yang dilakukan oleh suaminya karena memang ia juga menikmatinya.
__ADS_1
"Mas,"
"Hmmm,"
"Besok Zahra nggak masuk kuliah ya," ucapan Zahra berhasil membuat ustad Zaki menjauhkan wajahnya dan berusaha menatap wajah Zahra, memastikan apa yang hendak istri kecilnya itu katakan.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya ustad Zaki yang tiba-tiba cemas, ia begitu hafal jadwal periksa kandungan Zahra, jelas ini bukan jadwalnya karena ia selalu mengosongkan jadwalnya untuk menemani Zahra periksa kandungan.
"Nggak pa pa, besok Zahra cuma pengen istirahat di rumah aja."
"Tapi nggak ada masalah kan? maksud mas, perutnya nggak sakit kan? Atau ada sesuatu yang menggangu?"
"Enggak kok serius nggak pa pa, aku cuma mau di rumah aja seharian."
"Baiklah, biar besok mas yang ijin sama dosen kamu."
"Serius mas?" Zahra begitu antusias.
"Iya. Ya sudah mas ganti baju dulu ya, dek Zahra ke kamar dulu, nanti mas nyusul."
"Mas ustad nggak makan dulu?"
"Zahra lapar," ucapnya sambil mengusap perutnya itu.
"Baiklah, dek Zahra mau makan apa?"
"Apa aja, asal buatan mas ustad."
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, semenjak hamil Zahra suka makan masakan suaminya. Beruntung suaminya adalah suami yang siaga, ia selalu menyiapkan sarapan sekaligus untuk makan siang Zahra.
Setelah selesai makan, Zahra pun masuk ke dalam kamar sedangkan Ustad Zaki melanjutkan aktifitasnya sebelum akhirnya menyusul Zahra.
Kini ustad Zaki sudah berganti memakai celana kolor sebatas lutut dan kaos oblong berwarna putih tipis, Zahra sudah duduk di atas tempat tidur sambil memainkan hpnya.
"Belum ngantuk?" pertanyaan itu berhasil membuat Zahra meletakkan ponselnya sambil tersenyum.
"Cuma bentar mas."
__ADS_1
Ustad Zaki pun menyusul Zahra, ia berjalan merambat mendekat ke Zahra, dan duduk di sampingnya, menarik kaku Zahra dan bersiap untuk memijat kakinya.
"Sudah siap?" tanya ustad Zaki lagi membuat Zahra mengertukan keningnya.
"Apa?"
"Bukunya sudah di baca kan? Sudah siap menjawab pertanyaan kan?"
'Mati aku,' batin Zahra sambil mengigit bibir bawahnya, pasalnya hari ini jangankan untuk membaca, membuka buku saja tidak.
"Besok kan Zahra nggak masuk kuliah, jadi tanya jawabnya libur juga ya. Plissssaa!" Zahra mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memohonnya.
"Enggak." ternyata ustad Zaki tidak kalah tegasnya, wajah memelas zahra rupanya tidak cukup untuk membuat ustad Zaki berubah pikiran.
hingga akhirnya muncul sebuah ide, "Aduhhhh mas, kayaknya anak kita pengen aku ceoet tidur. Aku tidur yang mas," ucap Zahra sambil memegangi perut dan kepalanya.
"Benarkah?"
"Iya mas, tiba-tiba aku pengen tidur mas, padahal mata aku belum ngantuk. Aku tidur ya mas, kasihan anak kita." ucap Zahra sambil menggeser tubuhnya hingga berubah posisi menjadi tiduran, demi menyakinkan ustad Zaki ia pun memejamkan matanya dan pura-pura tidur.
"Dek, dek, sudah tidur ya?" tanya ustad Zaki lagi saat Zahra sudah tidak bersuara.
"Kok cepet banget tidurnya," ucap Ustad Zaki lagi sambil menyingkirkan tangannya dari kaki Zahra, "Beneran ya ada ngidam tidur? Kayaknya baru kali ini aku denger yang begini."
Ustad Zaki pun mematikan lampu dan menarik selimut, menutup kakinya hingga sebatas pinggang, "Ngidam aneh-aneh aja ya," gumamnya lagi sambil menggelengkan kepalanya kemudian merebahkan tubuhnya dan memeluk sang istri.
Bersambung dulu ta bonschap nya, insyaallah besok ku usahain buat up.
Selamat datang di bulan Agustus
Dan di bulan agustus ini ada yang baru loh, bagi yang belum tahu bisa langsung cari judul ini ya
Ceritanya agak beda, mengisahkan seorang wanita yang menjadi single parent dengan dua anak.
Bagaimana dampak sebuah perceraian terhadap hidupnya dan juga hidup kedua anaknya.
__ADS_1
Selamat membaca dan jangan lupa buat subscribe ya, biar tahu kalau ada notifikasi update setiap harinya.
...♥️♥️♥️♥️♥️...