Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Cewek Bar bar


__ADS_3

Zahra segera melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah karena sebentar lagi tertutup, tapi langkahnya kembali terhenti saat seseorang menghampirinya sambil berlari,


"Zahra, kamu sudah masuk? Aku kemarin ke rumah kamu!"


Zahra tercengang, ia menatap anak laki-laki itu,


"Ngapain?" seketika kakinya seperti tidak bertulang, lemas.


"Mau jenguk kamu!"


Tapi bukankah kemarin aku juga di rumah bapak dan ibu, atau pas aku keluar sama Nur? Tapi kenapa ibu nggak mengatakan apa-apa, atau aku yang tidak peka?


"Jam berapa?"


"Sekitar setengah lima!"


Benar, itu aku keluar sama Nur ...


"Trus?"


"Kata ibu kamu, kamu keluar sama Nur. Untuk aku datangnya sama Nisa jadi nggak di usir sama bapak kamu."


"Nisa?"


"Iya, anak broadcast, katanya dia penasaran sama mas kamu yang bawa pulang kamu, mau sekalian kenalan! Lagian kalau masih sakit kenapa harus keluyuran sih?"


Jangan Sampek ya ....


"Zah!?" Bayu kembali memanggil zahra, memastikan dia baik-baik saja karena Zahra terlihat lebih banyak diam.


"Ahhh iya, ya sudah nanti lagi ya. Aku harus nemuin Bu Chusna dulu untuk ikut ulangan susulan. Bye, sampai jumpa nanti!"


Zahra lebih memilih pergi dari pada keceplosan saat bicara dengan Bayu, lagi pula ia memang harus menemui Bu Chusna jika tidak ingin nilai ulangannya nol.


Ia langsung menuju ke ruang guru, beberapa guru sepertinya sudah masuk ke kelasnya masing-masing, karena bel masuk sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu saat Zahra tengah berbicara dengan Bayu.

__ADS_1


Tok tok tok


Walaupun sudah sepi, Zahra yakin masih ada guru di dalam. Dan benar saja, Bu Chusna masih masih duduk di tempatnya tengah memeriksa hasil ulangan anak-anak.


"Zahra, masuk!?"


Kenapa tiba-tiba wajahnya ramah sekali? Zahra masuk dengan ragu, biasanya Bu Chusna begitu galak apalagi pada siswa yang meminta ulangan susulan, baru juga di depan pintu sudah mendapatkan semprot pembukaan UUD. Tapi kali ini malah adem ayem.


"Bu, saya_!" baru saja Zahra membuka mulutnya, Bu Chusna sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Mau ulangan susulan kan, ya sudah sini duduklah. Ibu sudah mempersiapkan soalnya buat kamu. Mas Zaki juga sudah mengatakannya pada ibu."


Mas Zaki? Itu maksudnya mas ustad ya? Jadi mereka sudah saling bertukar nomor telpon, ahhh iya_


Zahra menatap kain yang masih ia pegang di tangannya, kain yang ia gunakan untuk melilit kakinya. Ini adalah kain yang sama, kain yang kemarin sedangkan seingatnya ia tidak menemukannya kemarin.


Sepertinya bu Chusna tahu arah pandangan Zahra,


"Ohhh itu, iya ibu lupa. Kemarin ibu sengaja datang ke rumah kamu buat ngembaliin kain itu tertinggal di kelas. Eh kebetulan ketemu mas Zaki di pembatas kampung sedang kerja bakti sama bapak-bapak, jadi sekalian ibu nitip sama mas Zaki."


"Iya, kalau itu bukan ibu yang minta, mas Zaki sendiri yang minta. Katanya kalau ada apa-apa sama kamu, ibu suruh hubungi mas Zaki saja. Perhatian sekali ya mas kamu itu, sampai segitu khawatirnya loh sama kamu!"


"Hehhh, iya Bu!?" Zahra hanya bisa tersenyum hambar.


Dia Tidka tahu saja, mas Zaki itu siapanya aku. Kok bisa kebetulan gini sih, bisa-bisanya mas ustad nggak cerita ...


"Sudah-sudah, jangan ngobrol terus. Ini soalmu dan segera kerjakan sekarang!"


"Iya Bu!"


Zahra pun segara mencari tempat duduk yang kosong dan mulai mengerjakannya.


Baru juga mengerjakan beberapa nomor, Bu Chusna kembali mendekat, ia sengaja menggeser duduknya agar bisa dekat dengan Zahra.


"Ngomong-ngomong, mas Zaki itu ustad ya?" tanya Bu Chusna, Zahra yang malas untuk menanggapi memilih menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang banget ya, mas kamu tuh ustad, kamu kok mahal urakan gini, harusnya kamu tuh pakek hijab, atau setidaknya pakek lah baju sama rok panjang. Kan banyak di sini yang pakek seragam panjang walaupun nggak pakek hijab. Eh kamu malah_!" Bu Chusna memperhatikan rok Zahra, "Rok aja kayak kurang bahan, pantes mas Zaki suruh kamu pakek kain."


Kepo banget sih Bu Chusna, suka suka aku dong mau pakek apa


"Ya itu sih saran dari ibu aja. Lagi pula kalau mas Zaki pengen cari istri, setidaknya penampilannya kayak ibu, iya kan?"


Ya Allah kapan ngerjainnya kalau diajak bicara mulu ...


"Ehhhh, ngomong-ngomong tipe cewek yang mas Zaki sukai itu yang kayak apa sih? Pasti yang kayak ibu ya?"


Pengen banget aku pukul nih guru.. ..


Zahra benar-benar kesal kali ini,


"Dia itu sukanya ya buk, sama cewek bar bar kayak aku!"


" Masak sih?"


"Kalau nggak percaya ya sudah. Kapan Zahra selesainya kalau ibuk terus ngajak Zahra bicara!?"


Bu Chusna pun perlahan meninggalkan Zahra dan kembali ke tempatnya dengan masih menyisakan perasaan penasaran,


"Masak sih?!" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Zahra, "Dia kan ustad, cewek bar bar itu artinya urakan kan?"


Zahra hanya bisa menggelengkan. kepalanya dan memilih kembali fokus pada soal ulangannya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2