Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Zahra patah hati


__ADS_3

"Akhir-akhir ini kamu sibuk banget ya?" pertanyaan dari Bayu berhasil menghentikan kunyahan bakso yang Sudja terlanjur masuk ke dalam mulutnya.


"Enggak, ada apa?"


"Kita masih pacaran kan?" lagi-lagi pertanyaan Bayu membuatnya tercengang, ia sampai menelan bakso yang belum benar-benar halus.


"Hmmm?"


"Rasanya hubungan kita sudah nggak seperti dulu lagi, Ra! Kita pacaran, tapi bahkan untuk jalan aja kita nggak punya waktu. Kamu juga udah jarang balas pesan aku, kenapa?"


Zahra terdiam, ia terlihat bingung. Tangannya segera meraih es teh dan meneguknya. Mencova mencari alasan, ia tidak mungkin mengatakan kalau ia sekarang sudah menikah dan itu bukan karena orang lain, dia sendiri yang mau menikah.


"Bayu!"


"Iya?"


"Jika kamu sudah tidak nyaman dengan hubungan kita, kamu bisa mencari orang lain."


"Maksudnya apa ini?"


"Ya kamu bebas cari pacar lain."


"Maksudnya kita putus?" Bayu begitu terkejut dengan ucapan Zahra.


"Ya!"


Bayu terdiam. Ia mengusap rambutnya kasar dan menyisirnya ke belakang dengan jari-jari nya.


"Sebenarnya apa sih yang kamu pikirin? Apa menurutmu apa yang sudah kita lewati selama dua tahun ini tidak ada artinya sama sekali? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan yang kamu katakan barusan!" tampak Bayu begitu marah, ia meneguk es teh miliknya untuk meredakan emosinya.


Kali ini Zahra menatap Bayu dengan tatapan yang serius.


"Bayu, sepertinya hubungan kita memang tidak ada masa depannya. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana orang tuaku? Lagi pula kita masih anak-anak, aku rasa pacaran bukan hal yang baik!"


"Chhhh, kenapa baru sekarang setelah dua tahun!?"


"Bukan begitu!?" Zahra sebenarnya berat mengatakan hal ini tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin terus memberikan harapan palsu pada Bayu yang jelas-jelas ia sudah tidak punya harapan untuk hubungannya ini.


"Aku tidak peduli, yang jelas aku akan tetap memperjuangkan kamu!" ucap Bayu lalu pergi begitu saja meninggalkan Zahra.

__ADS_1


Zahra hanya bisa terdiam menahan air matanya.


Maafkan aku, tapi aku rasa ini yang terbaik untuk kita. Bukan aku tidak mencintaimu, tapi mungkin keadaannya saja yang sudah berbeda sekarang ...


Bakso yang masih tersisa itu hanya ia pandangi saja sampai bel masuk berbunyi. Rasa laparnya telah ikut hilang bersama rasa cintanya pada Bayu.


"Berapa mbak?" tanyanya pada petugas kantin.


"Sepuluh ribu!"


Setelah menyerahkan uangnya, Zahra pun memutuskan untuk kembali ke kelas.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Zahra segera berjalan menuju ke gerbang, menunggu ustad Zaki menjemputnya.


Baru saja ia berdiri di sisi gerbang, sebuah motor yang baru saja keluar melintas di sampingnya, ia tahu betul suara motor siapa itu. Tapi yang beda kali ini bahkan pemilik motor itu sama sekali tidak menoleh padanya, bahkan untung membunyikan klakson motor saja tidak.


Nur yang kebetulan bersama Zahra mengerutkan keningnya menatap pada sahabatnya itu,


"Kalian berantem?"


"Jangan di sesali, itu adalah keputusan terbaik. Memang hal itu seharusnya sudah kamu lakukan semenjak kamu memutuskan untuk menikah dengan ustad Zaki. Mungkin memang awalnya sakit, berat, tapi aku yakin kamu bisa melalui semuanya! Semangat ya!"


"Makasih ya nur!"


"Berterimakasih lah pada diri kamu sendiri karena sudah bisa bersikap tegas!"


Hingga akhirnya mobil ustad Zaki berhenti tepat di depan mereka,


"Zah, mobil siapa?" tanya Nur yang belum tahu kalau ustad Zaki tadi pagi juga mengantar Zahra dengan mobik. Tapi begitu melihat sosok yang keluar dari dalam mobil itu, Nur kembali menatap ke arah Zahra,


"Ustad Zaki?"


Zahra menganggukkan kepalanya, "Hmmm!"


"Assalamualaikum, dek. Nur!" sapa Ustad Zaki.


"Waalaikum salam!" ucap Zahra dan Nur bersamaan, sedangkan Zahra segera meraih tangan ustad Zaki dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Mau pulang Nur? Bagaimana kalau kita bareng sekalian?" tanya ustad Zaki.


"Nggak usah ustad, kebetulan Nur masih mau ke toko yang ada di sebarang sana sekalian ke rental mau ngetik makalah!"


"Oh gitu. Kalau begitu kami duluan nggak pa pa ya?"


"Nggak pa pa ustad!"


Setelah kembali mengucap salam, Zahra dan ustad Zaki pun masuk ke dalam mobil.


Ustad Zaki segera melajukan mobilnya, tapi wajah Zahra yang suntuk membuat ustad Zaki bertanya-tanya.


"Dek, ada masalah?"


Zahra menoleh dengan cepat dan menatap tajam pada suaminya itu,


"Masalahnya adalah mas ustad jemputnya selalu telat. Bisa nggak sih tepat waktu gitu?!" akhirnya Zahra meluapkan emosinya pada ustad Zaki.


"Maaf, lain kali insyaallah mas nggak akan telat!"


"Tuh kan, janji aja masih ragu. Pakek insyaallah!"


"Memang begitu dek, bukannya ragu. Tapi sebagai seorang muslim ada baiknya kalau buat janji sebaiknya mengucapkan insyaallah karena kepastian hanya milik Allah!"


"Sudah deh nggak usah ceramah sama Zahra, kalau mau ceramah mending sama si Imah. Kayaknya memang lebih pantes si Imah yang jadi istri mas ustad." ucap Zahra kemudian memalingkan wajahnya,


"Ya Allah dek, insyaallah hanya dek Zahra yang pantas untuk mas!?" tapi melihat Zahra yang memilih menatap ke arah lain, ustad Zaki pun memilih kembali fokus pada kemudinya, sepertinya ia tahu jika istrinya tengah emosi, mungkin membiarkannya diam adalah jalan terbaik.


Zahra sengaja menatap ke arah lain untuk menyembunyikan air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan ustad Zaki. Walaupun saat ini ia tengah membutuhkan pelukan tapi ia tidak mungkin memintanya dari sang suami.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2