
Gludakkkk
Tiba-tiba tubuh Zahra terjerembab ke lantai, hingga membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Entah mimpi apa hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat tidur.
"Aughhhhh!?" keluhnya sambil memegangi kepalanya yang terbentur nakas kecil di samping tempat tidur, "Ahhhh, gara-gara preman-preman itu sampai kebawa mimpi!?"
Dengan sudah payah ia mencoba bangkit dengan tangan yang berpegangan pada tepi tempat tidur, tapi saat menatap keatas tempat tidur, nyatanya di sana tidak ada orang lain selain dirinya.
"Pantas nggak di tolongin, orangnya nggak ada!" gumam Zahra, karena rasa penasarannya ia pun memilih melihat ke arah salah satu dinding yang tergantung sebuah jam dinding berwarna hitam.
"Masih jam setengah 2, apa mungkin mas ustad sudah bangun?" gumamnya lagi, sepertinya rasa kantuknya segera menghilang berganti dengan rasa penasarannya.
Ia pun memilih mengambil gelas yang ada di atas nakas,
"Ahhh kosong!?" karena biasanya yang mengisi gelas itu sebelum tidur adalah ustad Zaki. Tapi sepertinya malam ini ia tidak mengisinya. Terpaksa Zahra mengambil gelas kosong itu dan membawanya ke dapur.
Baru saja ia melangkahkan kakinya keluar kamar, tiba-tiba matanya terfokus ke arah sofa yang semalam telah ia tinggalkan,
"Jadi dia ketiduran di sana!?" gumamnya pelan, ia memilih melanjutkan langkahnya ke dapur walaupun ia ada sedikit rasa takut, membayangkan suara-suara yang kemarin sempat ia dengar.
Dengan cepat ia mengambil segelas air dan meneguknya di tempat itu juga agar bisa cepat kembali ke kamar, tapi saat melewati ustad Zaki kembali rasa ingin tahunya tidak bisa terelakkan lagi.
Ia pun mendekati tubuh tanpa baju itu,
"Sudah tahu hawanya dingin masih nggak pakek baju, emang dia pikir ini Surabaya, atau Jakarta yang udaranya panas." gumam Zahra pelan, ia pun memilih kembali lagi ke kamar dan mengambil sebuah selimut.
Ia kembali menghampiri ustad Zaki, mengambil kain yang masih berada di tangannya dan meletakkannya ke dalam baskom.
Ia kembali mengambil selimutnya dan hendak menyelimutkan pada ustad Zaki,
"Maaf ya, aku nggak maksud lihat nih. Siapa suruh nggak pakek baju."
Tapi saat hendak menutup tubuh ustad Zaki dengan selimut, ia melihat beberapa memar di tubuh putih bersih itu.
"Astaghfirullah, ternyata banyak memarnya." tangan Zahra tidak mampu menahan untuk tidak menyentuhnya. Ia benar-benar tidak tahu jika akan separah ini.
__ADS_1
"Kenapa tadi tidak bilang!?" gumamnya, tiba-tiba rasa simpatinya kembali muncul apalagi melihat wajah lelah dari ustad Zaki saat tertidur seperti itu.
"Dek!?" tiba-tiba mata yang sadari tadi tertutup kembali terbuka dan melihat bagaimana Zahra memperhatikan tubuhnya, "Kamu bangun, ada apa? Maaf ya, mas ketiduran. Kamu pasti takut ya tidur sendiri."
Zahra menggelengkan kepalanya,
"Pasti sakit ya mas?" tanyanya dengan tangan yang masih mengusap tubuh ustad Zaki yang memar.
Sekali lagi ustad Zaki menggengam tangan Zahra,
"Ini tidak sakit dek, ya sudah ayo mas temani tidur lagi. Kamu pasti masih mengantuk kan?"
Zahra menganggukkan kepalanya dan ustad Zaki pun bangun dari tidurnya, dan menggandeng tangan Zahra, mengajaknya kembali ke kamar.
Ustad Zaki membimbing Zahra untuk kembali tidur di atas tempat tidur, sedangkan ia memilih untuk duduk di samping Zahra yang mulai menajamkan matanya,
Aku baru tahu, ternyata di dalam sikapmu yang bar bar, tersimpan hati yang begitu lembut, hingga kamu mudah untuk merasakan sakit saat orang lain kesakitan ...
Hingga Zahra kembali tertidur, ustad Zaki masih setia menatap wajah Zahra.
Tepat pukul tiga, ustad Zaki segera beranjak dari tempat tidurnya untuk melakukan rutinitas malamnya sebelum tiba waktu shubuh.
Seperti biasa, pagi ini ustad Zaki bahkan sudah siap dengan sarapan di atas meja, ia berpikir mungkin Zahra hari ini belum masuk sekolah. Tapi tepat pukul setengah tujuh, Zahra keluar dari kamar dengan seragam lengkapnya,
"Dek Zahra mau pergi sekolah?" tanya ustad Zaki yang juga sudah terlihat rapi dengan kemeja dan sarungnya.
"Iya, mas ustad mau ke mana? Kenapa rapi sekali?"
"Iya, mas ada keperluan sebentar di luar."
"Kalau mas ustad repot, Zahra bisa berangkat sendiri naik angkot!"
"Tidak pa pa, mas bisa antar. Dek Zahra sarapan dulu gih!?"
Zahra melihat meja makan yang sudah siap dengan makanan,
__ADS_1
"Mas ustad nggak perlu repot-repot seperti ini, lagi pula Zahra juga bisa masak sendiri."
"Tidak pa pa, mas lakukan dengan ikhlas."
Aku yang jadi bingung, mau marah juga nggak bisa, dia terlalu baik sih, batin Zahra sambil menatap ustad Zaki yang tengah mengambilkan makanan untuknya.
"Cepatlah makan, mas ambil sesuatu dulu. Nggak pa pa kan sarapan sendiri?"
"Hmmm!"
Zahra memilih mulai makan sedangkan ustad Zaki masuk ke ruang kerjanya, setiap kali melihat ruangan itu Zahra kembali penasaran untuk melihat apa yang ada di dalam sana karena ia kerap melihat ustad Zaki yang betah berlama-lama di sana.
"Ada apa sih di sana?" kembali ia merasa penasaran, tapi segera ia kembali fokus pada makanannya saat ustad Zaki kembali keluar,
"Dek, ini uang saku buat kamu, dan ini uang belanja selama satu Minggu!"
Selembar uang dua puluh ribu dan satu amplop coklat sengaja ustad Zaki serahkan pada Zahra.
"Aku ambil yang ini aja, yang ini mas ustadz aja yang bawa!" Zahra mengambil uang dua puluh ribu dan mengembalikan amplop berwarna coklat itu.
"Jangan, dek Zahra harus menerimanya. Ini haknya dek Zahra, dek Zahra yang wajib mengatur keperluan dapur. Jadi mulai sekarang, apapun yang dek Zahra beli, pasti akan mas makan!"
Karena ustad Zaki terus memaksa, akhrinya Zahra pun menerimanya.
"Aku simpan dulu di kamar. Nggak enak bawa-bawa beginian ke sekolah!"
"Baiklah, mas tunggu di depan ya!"
"Hmm!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰