
"Bagaimana sayang, jalan-jalannya menyenangkan?" tanya ummi yang tengah menyiapkan makan siang untuk mereka.
Zahra yang di tanya menoleh pada suaminya dan suaminya hanya tersenyum.
Kebiasaan ...., keluh Zahra dalam hati, padahal ia ingin suaminya ikut menjawab.
"Suka sih ummi!!" jawab Zahra membuat ummi menghentikan kegiatannya.
"Kok ada sih nya?"
"Boleh jujur nggak ummi?" Zahra sebenarnya bingung harus menjawab apa, kalau ia mengatakan suka jelas-jelas ia berbohong karena ia tidak begitu menyukai pesantren, tapi setelah diajak berkeliling oleh suaminya, sedikit banyak merubah pemikirannya walaupun tidak seratus persen suka.
"Boleh dong sayang!"
"Zahra sebenarnya dari dulu nggak suka ke pesantren, bapak selalu ngancemnya kalau Zahra bandel bakal di masukin pesantren, kan Zahra jadi takut!"
Ummu tersenyum mendengar penjelasan dari menantunya itu, "Memang kebanyakan orang tua dulu ingin memasukkan anaknya ke pesantren agar tidak bandel lagi tapi sebenarnya jika di telaah lebih dalam, itu pemikiran yang salah.
Bagaimana sebuah pesantren bisa merubah seorang anak yang bandel menjadi baik, bahkan kadang anak kyai jauh lebih bandel dari pada anak lainnya.
Seyogyanya kita bisa mengubah pemikiran jika kita ingin memasukkan pesantren putra putri kita, bukan karena agar ia menjadi baik, tapi agar ia bisa belajar ilmu agama lebih baik, jika agama seseorang baik, maka bisa di pastikan maka aklaknya juga pasti ikut baik juga, benar kan Zak?"
Ustad Zaki yang merasa jika umminya sedikit banyak tengah memasukkan dirinya dalam fokus pembicaraan pun tersenyum dan mengangguk.
Sedangkan Zahra, ia sampai terbengong mendengar penjelasan dari umminya itu, ia tidak menyangka ummi ustad Zaki bisa memiliki pemikiran seperti itu sedangkan ustad Zaki jelas dia bibir unggul.
"Memang ada pengalaman yang tidak baik ya ummi? Oh iya, Zahra jadi ingat soal Imah_!" tapi dengan cepat ia menutup mulutnya karena ustad Zaki segera menoleh padanya membuat Zahra tersadar hendak membicarakan keburukan orang lain.
"Nggak jadi deh ummi!" ucap Zahra meralah.
"Baiklah, ummi akan menceritakan tentang pengalaman ummi sendiri!" ucap ummi, Walaupun tidak tahu tentang Imah, tapi melihat ekspresi menantu dan putranya, ia yakin ada yang tidak beres dengan Imah.
"Memang ada?" tanya Zahra dan ummi pun mengangguk lalu ummi beralih bertanya pada ustad Zaki,
"Bagaimana Zak, ummi boleh kan bercerita sama istri kamu?"
"Terserah ummi saja, kalau menurut ummi itu baik. Tidak masalah bayi Zaki!" jawab ustad Zaki dengan legowo.
"Jadi ini masalah mas ustad?" tanya Zahra penasaran.
"Iya, ini tentang masa remaja suami kamu!" jawab ummi dan ummi pun ikut duduk di meja makan sembari menunggu Abi beliau pun mulai bercerita, Zahra benar-benar sampai di buat tidak percaya dengan yang di ceritakan oleh ummi tentang suaminya yang juga mengalami kenakalan pada saat remajanya.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
Cerita ummi terpaksa terhenti saat Abi datang,
"Waalaikum salam!" jawab mereka bersamaan, ustad Zaki dan Zahra pun segera berdiri dan menyambut kedatangan Abi.
"Maaf ya, Abi tidak bisa jemput tadi, tapi tidak ada masalah kan di perjalanan?" tanya Abi setelah ikut bergabung.
"Alhamdulillah, tidak ada Abi!" jawab ustad Zaki.
"Syukurlah. Rencana berapa hari liburan di sini?"
"Insyaallah dua Minggu ke depan karena dek Zahra sendang libur menjelang ujian akhir sekolah!"
"Syukurlah kalau lama berarti bisa bantu-bantu Abi di sini, karena beberapa hari ke depan Abi sangat sibuk menyiapkan lomba tahfid Qur'an. Nggak pa pa kan?"
"Nggak pa pa bi, iya kan dek?" ustad Zaki meminta pendapat istrinya, karena rencana ia mengajak istrinya ke Bandung untuk berlibur.
"Nggak pa pa!" jawab Zahra bersemangat.
Kalau mas ustad sibuk kan jadi lupa sama tugas sekolah Zahra ..., nggak pa pa lah, aku akan bisa jalan-jalan sendiri ...
"Di sini udaranya mungkin lebih dingin dari di Blitar, jadi nanti minta ummi selimut tebal ya!" ucap Abi mengakhir pembicaraan mereka dan lanjut dengan makan siang.
***
Ustad Zaki tengah pergi ke masjid bersama dengan Abi sedangkan ia dan ummi sholat di rumah.
"Ya Allah pantes aja mas ustad bandel, kamarnya aja stikernya kayak gini semua!" gumamnya sambil mengamati setiap sisi dinding, meskipun begitu tidak ada stiker gambar manusia atau artis idola seperti anak-anak muda lainnya,
"Juga nggak ada foto mas ustad remaja!" ucapnya lagi saat menyadari tidak ada satu pun foto yang tergantung di dinding atau terpajang di meja,
"Jadi penasaran gimana penampilan mas ustad saat remaja!?" Zahra sudah bisa membayangkan gimana jika suaminya itu memakai seragam putih abu-abu dengan rambut yang berantakan dan kemeja putih yang tidak dikancingkan seluruhnya.
"Assalamualaikum," sapa ustad Zaki yang baru saja pulang dari masjid,
"Waalaikum salam mas, kok sudah pulang?"
"Hemmm?" ustad Zaki segera memeluk tubuh Zahra yang tengah berdiri menyambutnya, "Kok tanyanya gitu?"
"Biasanya kan kalau di rumah pulangnya malam, kok langsung pulang?"
"Di sini mas kan nggak ada kewajiban buat ngisi pengajian dulu atau apa, jadi langsung pulang lagi pula mas juga kangen sama istri mas, Painem!?"
Zahra langsung mendongakkan kepalanya menatap suaminya, "Painem?"
__ADS_1
"Hmmm, kata Farid ada yang ngaku namanya Painem!"
Isttt, dia lagi biang keroknya ....
"Mas ketemu dia?" tanyanya, "bikin malu aja!" ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
"Iya tadi di masjid! Lagi pula nama itu bagus dek!"
"Jadi mas ustad suka sama Painem?"
"Ya, tapi lebih cinta sama Zahra!"
"Gombal ya!"
Ustad Zaki pun kembali melepaskan pelukannya pada Zahra,
"Bentar ya dek!"
"Apa?"
"Biar mas buatkan susu coklat hangat!"
"Buat apa?"
"Di sini udaranya dingin, pasti akan lebih enak jika minum susu coklat hangat, mas tadi Sengaja beli di minimarket depan sebelum pulang!"
Ustad Zaki pun mengambil kantong plastik berwarna putih yang entah kapan ustad Zaki meletakkannya, mungkin Zahra tidak memperhatikannya tadi saat suaminya masuk.
Sambil menunguu suaminya kembali, Zahra memilih membuka pinty kamar yang langsung ke balkon, ia ingin melihat pemandangan dari atas balkon saat malam hari,
"Indah banget!?" gumamnya sambil melihat ke arah jalanan yang penuh dengan lampu,
Lalu manik matanya tertarik untuk mengamati rumah yang berada di seberang tepat berhadapan dengan rumah ini, ia melihat seseorang juga tengah berdiri di balkon kamarnya.
"Ehhh, itu kayaknya mirip sama_, mirip sama siapa ya!?" gumamnya sambil terus mengamati seseorang yang berada di seberang sana, karena hanya berbekal penerangan lampu jadi tidak begitu jelas terlihat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...