Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Hadiah untuk Zahra


__ADS_3

Sepulang dari rumah orang tuanya, ustad Zaki segera mengajak Zahra untuk pulang dan tidak mampir lagi. Tapi saat sampai di rumah tiba-tiba di depan rumah mereka sudah ada pak Dul yang telah menunggu mereka.


"Maaf ya pak Dul, sudah buat pak Dul nunggu!"


"Nggak pa pa ustad, saya juga baru saja datang."


"Apa yang saya minta ada?" tanya ustad Zaki lagi, Zahra yang sudah berjalan lebih dulu tampak sibuk membuatkan pintu.


"Ada ustad, sebentar saya keluarkan dulu dari mobil!" ucap pak Dul.


"Oh, di mobil ya?"


"Iya ustad!"


"Kalau begitu biar saya sendiri pak Dul yang keluarin! Nggak pa pa!"


"Tapi ustad_!" tampak pak Dul begitu sungkan.


"Nggak pa pa! Maaf ya pak Dul, karena nyuruh pak Dul pakai motor!"


"Nggak pa pa ustad, lagi pula kalau pakai motor lebih cepat! Kalau begitu saya langsung aja ya ustad, kasihan anak-anak nunguin!"


"Nggak ngopi dulu, pak Dul?"


"Terimakasih, tapi lain kali aja ustad.Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah menyerahkan kunci mobil kepada ustad Zaki, pak Dul pun meninggalkan rumah itu dengan motor bebek milik ustad Zaki.


Zahra yang baru saja dari dalam mengambilkan minum untuk pak Dul bercengang saat melihat pak Dul sudah tidak ada,


"Pak Dul ke mana, mas?" tanyanya sambil meletakkan nampan yang berisi dua gelas teh di atas meja.


"Sudah pergi!"


"Tapi mobilnya?" tanya Zahra saat melihat mobil yang di pakai pak Dul masih berada di tempatnya, tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.


"Mas mau pakek mobilnya!"


"Buat apa?"


"Ada deh! Ya sudah mas ambil barang dulu di mobil ya, dek Zahra bawa masuk kembali aja tehnya, nanti mas minum di dalam!"


"Dua-duanya ya!?"


"Iya!"


Zahra pun mengangkat kembali nampannya dan membawanya ke dalam.


Selang beberapa menit saat Zahra tengah sibuk merapikan dapur, ustad Zaki kembali dengan membawa beberapa paperbag di tangannya,


"Mas abis belanja ya?" tanya Zahra, ia sampai menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


"Bukan mas, tapi pak Dul tadi. Itu pekerjaannya biar mas selesaikan, nanti habis isya' mas mau ajak dek Zahra keluar. Dek Zahra siap-siap gih!"


"Kan masih habis isya', sekarang masih mau magrib."


"Maksudnya, dek Zahra siap-siap sholat trus nanti habis itu dandan yang cantik pakek ini!" ucap ustad Zaki sambil menunjukkan paperbag yang ada di tangannya.


"Emang itu isinya apa?"


"Dek Zahra buka aja di kamar, ya!" ucap ustad Zaki sambil menyerahkan paperbag itu dan mengambil lap dari tangan Zahra.


"Baiklah!"


Zahra pun segera berjalan menuju ke kamar, tapi baru saja sampai di ambang pintu, ustad Zaki kembali menghentikan langkahnya,


"Dek,"


"Apa lagi?" tanya Zahra sambil kembali menoleh pada ustad Zaki.


"Mas mau ke masjid dulu, nanti mas pulang dek Zahra harus sudah cantik pakek itu ya!"


"Siap!"


Benar saja, setelah menyelesaikan pekerjaannya, ustad Zaki pun bergegas untuk bersiap-siap ke masjid. Kali ini ada yang beda, ustad Zaki pergi ke masjid dengan mobilnya karena ia menyimpan baju gantinya di mobil.


Selain itu, motornya juga di bawa pak Dul. Ia tidak mau membuang waktu nanti saat kembali ke rumah, ia berencana ganti baju di masjid setelah sholat nanti.


Di rumah, setelah sholat isya', seperti permintaan ustad Zaki , Zahra pun segera membuka paperbagnya ternyata di dalamnya ada gamis cantik, hand bag, sepatu hak tinggi dan jilbab.


"Cantik banget!!" gumam Zahra mengagumi barang-barang itu, "Tapi aku nggak yakin bisa pakainya!" ucapnya lagi menyadari ia tidak terbiasa memakai barang-barang itu.


Zahra pun segara keluar dari kamar, seperti biasa sambil menemani Zahra selama di tinggal ke masjid oleh ustad Zaki, Bu Marni akan menyibukkan diri di dapur, ada saja yang ia kerjakan meskipun Zahra maupun ustad Zaki sudah membereskan semuanya.


"Buk!!" panggil Zahra membuat Bu Marni menoleh padanya,


"Iya nduk, ada apa?"


Zahra pun menunjukkan semua yang ada di tangannya,


"Mas ustad nyuruh Zahra pakek ini semua, tapi Zahra bingung pakeknya gimana!?"


Bu Marni tersenyum, "Biar ibuk bantu!" Bu Marni tampak mencuci tangannya dan mengelapnya hingga kering, ia pun segera berjalan menghampiri Zahra.


"Untung ibuk dulu pernah kerja di salon nikahan!"


"Maksudnya?" Zahra tidak faham dengan yang di katakan Bu Marni.


"Itu loh nduk, perias manten, kalau orang sekarang sebutnya mu_, mu_!"


"MUA?"


"Iyo!!"


Zahra tersenyum lega, akhrinya ada yang bisa membantunya.

__ADS_1


Mereka pun masuk kembali ke kamar, selain membantu Zahra memakai semuanya, Bu Marni juga membantu Zahra merias wajahnya dengan make up tipis sehingga tidak menutupi wajah cantik alami yang di miliki Zahra.


"Sudah selesai!?"


"Zahra beneran pantes Yo buk pakek beginian?" tanya Zahra lagi saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, selama ini ia benar-benar tidak pernah memakai gamis apa lagi gamis yang di pakai saat ini bukan gamis biasa, tapi gamis mewah, dan sepatu hak tinggi? Zahra benar-benar tidak bisa berjalan lurus dengan sepatu itu.


"Kamu cantik loh nduk, ibuk ae Sampek pangkling, nanti ustad Zaki pasti juga pangkling lihatnya!"


"Beneran buk?"


"Iya, masak ibuk bohong!?"


Akhirnya terdengar di luar suara mobil ustad Zaki datang,


"Nah itu ustad Zaki sudah kembali, ayok ibuk bantu ke depan!"


Bu Marni pun menuntun Zahra agar bisa seimbang saat jalan,


Dan benar saja saat Zahra keluar, ustad Zaki begitu tercengang melihat penampilan zahra yang cantik dan anggun dan rupanya.


Maha sempurna ciptaanMu ya Allah, hamba begitu mengaguminya ...


Zahra pun demikian melihat penampilan sang suami yang rapi ia pun tidak kalah tercengang,


Ya Allah ..., dia kayaknya bukan manusia ya Allah, kayaknya Engkau salah mengirimkan malaikat untukku ....


Ustad Zaki tampak begitu tampan dengan jas hitamnya, tapi sarung tetap melekat di dirinya, namun hal itu malah menjadi nilai plus untuk ustad Zaki, sarung, kemeja dan sekarang bertambah dengan jas.


"Assalamualaikum, istriku!" sapanya saat menghampiri Zahra dan mengulurkan tangannya agar Zahra menggenggam tangannya.


"Waalaikum salam, suamiku!" jawab Zahra sambil menyambut uluran tangan ustad Zaki.


"Kamu pergi dulu ya buk, titip rumah!" ucap ustad Zaki pada Bu Marni.


"Siap, ustad!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Bu Marni tampak tersenyum dan melambaikan tangannya mengantar kepergian ustad Zaki dan Zahra.


...Kadang kebahagiaan diungkapkan dengan air mata, dan air mata harus bersembunyi di balik senyuman....



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2