Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Obrolan ustad Zaki


__ADS_3

Akhirnya acara benar-benar akan di mulai, satu per satu siswa mulai memasuki mushola. Karena hari ini yang ceramah suaminya, Zahra pun memilih tempat yang paling nyaman dan mudah mengawasi suaminya.


Setelah mushola di penuhi oleh para siswa yang hari ini datang, karena tidak semua siswa beragama Islam, dan beberapa dari mereka memilih tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan, sakit lah, acara keluarga lah dan sebagainya. Beberapa guru pun juga mulai menempati tempatnya.


Anak-anak ekstra Hadroh pun mulai melantunkan beberapa sholawat, salah satunya Nur juga tergabung di sana.


Akhrinya yang di tunggu-tunggu datang juga, ustad Zaki datang bersama bapak kepala sekolah. Ia di persilahkan duduk di tempat yang sudah di sediakan untuknya, tampak ia tengah mengabsen setiap sudut ruangan dan berakhir tepat pada Zahra, senyum dengan lesung pipinya langsung mengembang membuat beberapa anak perempuan bersorak gembira, seakan-akan ustad Zaki tengah melemparkan senyuman pada mereka.


Apaan sih mereka, senyum itu cuma buat aku ...


Zahra hanya bisa mendengus kesal, setelah lantunan sholawat selesai, dan beberapa sambutan dari kepala sekolah yang kebetulan juga muslim, anak yang bertugas sebagai pembawa acara hari ini pun mempersilahkan ustad Zaki untuk memulai.


Benar-benar semua siswa seperti terhipnotis dengan apa yang ia sampaikan, selain karena ketampanannya juga.


Hingga acara selesai pun tidak ada yang berusaha untuk meninggalkan tempat tidak seperti biasanya.


"Terimakasih ustad, lain waktu jika ada acara lagi, insyaallah kami akan mengundang ustad Zaki!"


"Insyaallah, pak!"


"Saya senang dengan antusias anak-anak saat ustad Zaki yang berceramah!"


"Alhamdulillah kalau begitu pak!"


Zahra masih tampak asik berbincang dengan Nur dan teman-teman yang lain, karena tidak mau menggangu Zahra, ia pun memilih untuk menunggu Zahra di depan sekolah.


Ustad Zaki duduk di kursi panjang yang ada di depan sekolah di balik pintu gerbang, rupanya kesendirian ustad Zaki memancing Bu Chusna untuk mendekatinya.


"Mas Zaki!?"


Ustad Zaki mendongakkan kepalanya mendengarkan sapaan dari Bu Chusna,


"Bu Chusna!"


"Belum pulang mas?"


"Masih nunguin dek Zahra, Bu!"


"Kayaknya masih asik dengan teman-temannya, mas! Boleh saya ikut duduk?"


Ustad Zaki melihat tempat duduknya, lumayan longgar untuk di duduki tiga orang, ia pun menggeser bokongnya hingga sampai di ujung tempat duduk itu agar nanti saat Bu chusna duduk masih menyisakan tempat kosong di tengah.


"Silahkan Bu!"


Bu Chusna pun segera duduk, sepertinya ia juga sadar diri dan memilih duduk di ujung yang lainnya.


Mereka masih saling diam sesaat, hingga akhirnya Bu chusna mulai pembicaraan,


"Mas Zaki, boleh saya tanya sesuatu?"


"Silahkan Bu, asalkan saya bisa jawab saya akan jawab!"


"Sebenarnya ini agak pribadi, tapi kalau mas Zaki keberatan untuk menjawab tidak usah di jawab!"


"Insyaallah, saya akan menjawab semampu saya!"


"Apa benar mas Zaki sudah punya calon?"

__ADS_1


Ustad Zaki menoleh sebentar pada Bu Chusna lalu kembali menatap ke depan,


"Maksud Bu chusna apa ya?"


"Kata Zahra, mas Zaki sudah punya calon istri!"


Ternyata Zahra yang sudah selesai mengobrol dengan teman-teman pun segera mencari keberadaan ustad Zaki, ia begitu kesal saat melihat ustad Zaki tengah mengobrol berduaan dengan Bu chusna.


"Benar kan dugaanku, mereka pasti akan ngobrol bareng, kesel banget aku!" gerutu Zahra tapi tidak sengaja di dengar Nur yang juga keluar dari dalam mushola sekolah.


"Ada apa sih zah?" tanya Nur yang melihat sahabatnya itu kesal.


"Nggak lihat tuh, Bu Chusna ganjeng banget sih!"


"Paling cuma ngobrol biasa aja Zah, nggak usah di pikirin!" Nur berusaha menenangkan Zahra, ia tahu sahabatnya itu tengah cemburu.


"Bagaimana nggak mau di pikirin, Bu Chusna terus deketin mas ustad sih!"


"Cemburu nih ye!?" goda Nur.


"Jangan memperkeruh suasana deh!"


"Ya maaf!"


"Ya udah, aku samperin mereka dulu deh! Keburu cinlok mereka!"


Ia pun berjalan cepat menghampiri ustad Zaki dan Bu Chusna yang masih serius mengobrol, tampak wajah Bu Chusna tidak baik-baik saja apalagi saat kedatangan Zahra.


"Mas!?" sapaan dari Zahra menghentikan perbincangan mereka,


"Hmmm!"


"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Chusna." ustad Zaki pun segara berdiri meninggalkan Bu Chusna yang masih duduk di tempatnya, "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki pun segera menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya pergi. Sedangkan Bu Chusna masih setia menatap kepergian mereka.


Seperti biasa ustad Zaki akan memakaikan helm untuk Zahra,


"Tadi ngobrolin apa?"


"Bukan apa-apa!" jawabnya tanpa beban membuat Zahra semakin kesal, tapi ustad Zaki selalu saja bisa membuat Zahra tersenyum senyumnya yang selalu melelehkan hati Zahra.


"Aku serius tanyanya!"


"Mas juga serius, dek! Ayo pulang, Pumpung masih lumayan siang dek Zahra mau jalan-jalan dulu apa enggak?"


"Memang boleh?"


"Bolehlah, kan sama mas!"


"Mau!" Zahra begitu bersemangat, ia sudah lama tidak nongrong santai.


Akhrinya mereka pun meninggalkan sekolah, Zahra pasrah suaminya mau mengajaknya kemanapun yang penting ia ikut.


"Mas, kok kesini?" tanya Zahra terkejut saat mereka sampai di depan sebuah kafe.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak pa pa, tapi ini_!"


"Di sini katanya tempatnya cukup nyaman untuk santai!"


"Tapi_!"


"Sudah, di coba dulu. Nanti kalau dek Zahra nggak nyaman, kita bisa pergi dari sini!"


Ustad Zaki mengandeng tangan Zahra dan membawanya masuk,


"Mas Zaki!" sapa salah satu karyawan di sana.


"Ahhh iya, aku pesan yang biasanya dua ya!"


"Iya mas, silahkan duduk!"


Zahra mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka jika suaminya juga suka nongkrong di tempat ini, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada seseorang yang tengah duduk di tempat yang sama, tempat favoritnya saat bolos.


"Bayu!"


Rupanya ustad Zaki mendengar gumaman pelan dari Zahra dan melihat ke arah tatapan Zahra. Ustad Zaki sepeti biasa, ia tersenyum tipis,


"Itu Bayu, kita bergabung yuk!"


"Mas,"


"Tidak pa pa, ayok!" ustad Zaki kembali menarik tangan Zahra dan Zahra hanya bisa pasrah.


"Zahra, mas Zaki!" Bayu tidak kalah terkejutnya tapi ia tersenyum.


"Kalian duduklah," ucapnya mempersilahkan Zahra dan ustad Zaki untuk duduk, "Teman-teman kalian pindah dulu ya, ini pacar dan kakak pacarku datang, nggak pa pa ya!" ucapnya pada tiga orang temannya yang juga pakai seragam.


"Nggak masalah Bro! Kami ke sana dulu ya!"


"Thanks ya!"


"Santai aja!"


Akhrinya ketiga teman Bayu pergi juga, kini hanya menyisakan mereka bertiga,


"Ayo duduklah!"


Apa maksud mas ustad?


Zahra masih di buat bingung dengan apa yang terjadi, sedangkan saat ini ada Bayu dan ustad Zaki di tempat yang sama.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2