Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pemeriksaan


__ADS_3

Zahra terlihat kebingungan, ia terus mondar-mandir menunggui kepulangan sang suami dari pesantren.


"Lama banget sih mas ustad. Emang sebanyak ini jadwalnya mas ustad!?" keluhnya, "Ini sama aja nggak jalan-jalan dong di sini."


Hingga akhirnya tepat jam sebelas siang, pintu kamarnya di ketuk.


"Assalamualaikum!?"


Zahra dengan cepat membukakan pintu kamarnya, bukan kebiasaan Zahra bisa berlama-lama berdiam diri di dalam kamar.


"Waalaikum salam, ayo mas masuk!?" dengan cepat Zahra menarik tangan suaminya agar masuk ke dalam kamar.


"Ada apa dek? ummi bilang dek Zahra nggak keluar kamar setelah pulang dari pasar!?" tanya ustad Zaki tampak begitu khawatir pada istri kecilnya itu. Ustad Zaki membawa istrinya untuk duduk di tepi tempat tidur, ia menggenggam kedua bahu sang istri.


"Iya mas, aku lupa soalnya!" jawab Zahra dengan wajah cemasnya.


"Lupa apa dek? Dek Zahra pengen beli sesuatu? Biar mas belikan!?"


"Beneran nggak pa pa?" tanya Zahra lagi, terlihat ia merasa sungkan.


"Nggak pa pa, kalau bisa pasti mas akan Carikan!"


Zahra pun menghela nafas, ia menatap sang suami,


"Jadi gini mas, tadi pas pulang dari pasar kan Zahra kebelet pipis, trus_!"


"Trus?" terlihat ustad Zaki malah tampak tidak sabar menanti kelanjutan cerita Zahra.


"Trus pas Zahra di kamar mandi, Zahra ada darah!?"


"Darah!?" ustad Zaki begitu terkejut, ia sampai mengencangkan cengkeramannya di lengan atas Zahra.


"Mas," pekik Zahra yang merasa sedikit sakit pada lengannya, dan hal itu membuat ustad Zaki tersadar, ia pun segera meregangkan genggamannya.


"Maaf, mas nggak sengaja!?" ustad Zaki tampak menyesal, ia mengusap lengan atas Zahra seolah-olah bisa mengurangi rasa sakitnya,


"Darah dek?" tanya ustad Zaki lagi begitu teringat dengan ucapan Zahra terakhir kali.


"Iya mas, sebenernya lebih tepat flek coklat. Biasanya kalau kayak gitu bentar lagi akan banyak. Jadi zahra takut keluar kamar, soalnya Zahra Nggak bawa pembalut, trus Zahra juga malu mau bilang ummi. Mas ustad bisa kan belikan pembalut buat Zahra?"


"Nggak, kita ke rumah sakit!?" ucap ustad Zaki dengan begitu panik, ia segera berdiri dari duduknya dan mencari tas kecilnya yang biasa ia bawa kemana-mana.

__ADS_1


"Mas, aku cuma mau haid, nggak perlu pakek ke rumah sakit segala!?" ucap Zahra yang mengikuti kemanapun ustad Zaki bergerak dan ustad Zaki pun berbalik menatap Zahra.


"Enggak dek, ma mohon kali ini saja, biarkan mas lakukan yang terbaik buat dek Zahra!? Mau ya ikut mas ke rumah sakit?" ustad Zaki seperti tengah memohon pada Zahra dan akhirnya Zahra tidak dan akhirnya Zahra tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan sang suami.


Mereka pun keluar dari kamar, tapi saat sampai di ruang tamu, mereka berpapasan dengan ummi yang bagus aja kembali dari luar,


"Kalian mau ke mana, kok buru-buru sekali?" tanya ummi karena putra dna menantunya tampak begitu terburu-buru,


"Ke rumah sakit ummi!" jawab ustad Zaki dan hal itu berhasil membuat ummi terkejut.


"Ada apa? Siapa yang sakit?"


"Nanti saja Zaki ceritanya ummi, Zaki pinjam mobil Abi ya ummi!?" ucap ustad Zaki yang tidak bisa berlama-lama menanggapi umminya.


"Iya, kuncinya ada di tempat biasa!?"


"Terimakasih ummi, assalamualaikum!" ustad Zaki pun segera mencium punggung tangan ummi begitu juga dengan Zahra.


"Waalaikum salam!"


Ummi masih terlihat bingung, merwka berdua terlihat baik-baik saja dan tidak ada yang sakit.


"Mas, kenapa.kita harus ke rumah sakit?" tanya Zahra yang masih bingung dengan tindakan suaminya, "Haid itu emang berdarah loh mas, tapi nggak bahaya!"


"Ngah pa pa dek, mas cuma ingin memastikan kalau dek Zahra baik-baik saja, lagi pula dek zahra kan sudah lama nggak periksa kesehatan, apalagi apa yang kita lakukan tadi malam, mas takut hal itu menggangu kesehatan dek Zahra!"


Bukankah yang semalam tidak seganas biasanya!? batin Zahra kembali membayangkan apa yang mereka lakukan semalam.


"Tapi wajah mas terlihat begitu tegang, seolah-olah Zahra dalam keadaan bahaya!" gumam Zahra saat melihat bagaimana suaminya yang begitu panik itu.


Tangan ustad Zaki yang sebelah kiri menggenggam tangan Zahra, ia menariknya ke atas dan mencium punggung tangan Zahra,


"Dek Zahra percaya kan sama mas?"


"Hmm!"


Zahra lagi-lagi tidak bisa protes, ia terlalu terpaku dengan perilaku sang suami yang begitu hangat dan melindungi.


Akhrinya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di sebuah rumah sakit umum daerah. Ustad Zaki segera mengajak Zahra masuk ke dalam rumah sakit, sepertinya ustad Zaki sudah menghubungi salah satu dokter yang bekerja di sana hingga mereka tidak perlu menunggu lama.


"Tunggu sebentar ya dek, mas temui dokter dulu, ada yang ingin mas bicarakan sama dokter!?" ucap ustad Zaki dan meminta Zahra untuk menunggu di luar sebentar.

__ADS_1


"Kenapa mas? Kan Zahra belum di periksa!?"


"Nggak pa pa, mas cuma ingin memastikan sesuatu!?"


"Tapi itu banyak yang antri mas!" ucap Zahra sambil melihay begitu banyak pasien yang masih antri di belakangnya.


"Nggak pa pa, cuma sebentar. Okey! Jangan kemana-mana sampai mas kembali."


Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit ustad Zaki kembali,


"Ayo dek masuk!?" ajak ustad Zaki.


"Memang nggak pa pa masuk duluan?" tanya Zahra sangsi karena yang datang lebih dulu dari mereka masih harus mengantri di belakangnya.


"Insyaallah tidak pa pa, ini darurat. Mereka pasti mengerti!?"


Akhirnya Zahra dan ustad Zaki pun masuk ke ruangan yang baru saja di masuki ustad Zaki, dan kedatangan mereka sudah di sambut oleh seorang dokter muda,


Seorang dokter yang usianya tidak beda jauh dari ustad Zaki, dokter wanita bernama dokter Puspita tengah memeriksa Zahra,


"Dok, kenapa aku di periksa seperti ini?" tanya Zahra yang merasa aneh dengan semua alat periksaan yang di lakukan dokter.


"Tidak pa pa, kata akangnya, teteh baru saja mengeluarkan flek kan?!"


"Iya, tapi itu gejala normal kan dok kalau mau datang bulan?"


"Iya begitulah!"


"Jadi sebenarnya aku ngk perlu lakukan pemeriksaan ini kan?"


"Ada beberapa faktor yang mengharuskan seseorang melakukan pemeriksaan seperti ini teh, apalagi kata akangnya teteh masih usia delapan belas tahun dan sudah menikah, jadi setidaknya perlu untuk melakukan pemeriksaan, takutnya ada masalah pada rahim atau leher rahim atau mungkin serviks!" dokter itu pun mencoba menjelaskan pada Zahra dengan bahasa yang bisa di mengerti oleh Zahra.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2