Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Isi amplop


__ADS_3

Zahra kembali lagi ke kamarnya untuk menyimpan amplop tebal di tangannya itu, tapi sepertinya rasa penasarannya cukup besar hingga saat ia ingin meninggalkannya, tangannya seperti kembali tertarik untuk memeriksa isi amplop itu,


"Nggak pa pa kali ya, lihat sebentar!" dengan perasaaan ragu, Zahra pun mulai membukanya dan benar seperti dugaannya, amplop itu berisi lembaran uang seratus ribuan, tidak hanya satu atau dua lembar, hingga mata Zahra tidak mampu untuk mengedip saat menghitung satu persatu lembaran itu,


"Ada dua puluh, itu artinya dua juga_! Hhah, yang benar saja!?" karena tidak percaya, Zahra kembali lagi menghitungnya dan jumlahnya tetap sama.


"Ini untuk satu minggu, nggak salah kan? Dia bilang satu minggu kan tadi?"


"Dek, ayo cepetan. Keburu terlambat!?" teriakan dari depan segera menyadarkan Zahra, ia dengan cepat menutup dan.menyembunyikan amplop itu di dalam laci nakasnya.


"Iya, bentar!" dengan cepat Zahra meninggalkan kamarnya dan menghampiri ustad Zaki yang sudah siap dengan helm dan motornya.


"Ada apa dek, kenapa lama? Apa ada masalah?" tanya ustad Zaki sambil menatap Zahra dengan penuh penasaran.


"Enggak, hanya tadi ke kamar mandi bentar! Mana helmnya?" ucap Zahra dengan gugup sambil mengacungkan tangannya tapi ustad Zaki sepertinya lebih suka memakaikannya ke kepala Zahra, hal itu membuatnya bisa menatap wajah Zahra dengan jelas begitu pun dengan Zahra.


Uang dari mana sebanyak itu? Dia kan hanya ustad, atau jangan-jangan uang jamaah yang sengaja ia selewengkan


Ini untuk pertama kalinya Zahra memegang uang dua juta untuk dirinya sendiri, bukan untuk membayar biaya sekolah seperti biasanya. Tentu cukup untuk membuat Zahra syok.

__ADS_1


"Dek, lagi mikirin apa? Ulangannya ya? Jangan khawatir mas sudah bilang sama Bu Chusna untuk membuatkan ulangan susulan buat dek Zahra, dan Bu Chusna setuju!"


"Hehhhh?" Zahra kembali terkejut, bagaimana bisa ustad Zaki membicarakan itu dengan Bu Chusna.


Ustad Zaki sepertinya tidak peka dengan apa yang di pikirkan oleh Zahra, ia lebih memilih melilitkan kain Bali ke pinggang Zahra agar menutupi kaki Zahra yang tidak tertutup oleh rok pendeknya.


"Sudah, jangan pikir macam-macam, ayo naik!"


Masih dengan perasaan penasaran itu, Zahra pun akhirnya naik motor ustad Zaki.


Bukan hanya soal uang tapi juga soal Bu Chusna,


Hingga sampai di sekolah, rasa penasarannya tidak juga terjawab karena ternyata rasa gengsinya mengalahkan rasa penasarannya, bahkan ia pun lupa jika di minta masnya untuk membelikan obat buat bapaknya.


"Dek, mas pergi dulu ya. Nanti pas pulang sekolah jika mas belum datang, tunggu mas ya, jangan pulang dulu."


"Memang mas ustad mau ke mana?"


"Sebenarnya ada keperluan sedikit."

__ADS_1


"Baiklah!? Tidak usah dipikirkan."


Bukankah ini berita yang bagus, pikir Zahra. Dengan begitu mungkin ia bisa sedikit bersenang-senang hari ini, ia tadi juga Sudja sempat mengambil dua lembar uang seratus ribuan dari amplop coklat itu, sepertinya cukup untuk jalan-jalan sebentar.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam," Zahra dengan bersemangat mencium punggung tangan suaminya itu dan melambaikan tangannya begitu ustad Zaki naik kembali ke motornya.


Zahra segera melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah karena sebentar lagi tertutup, tapi langkahnya kembali terhenti saat seseorang menghampirinya sambil berlari,


"Zahra, kamu sudah masuk? Aku kemarin ke rumah kamu!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2