
Akhrinya kerumunan orang-orang pun buyar kini tinggal mereka bertiga.
"Maaf mas Wahid, sungguh saya nggak ingat sama mas Wahid." ucap nur begitu menyesal, apalagi melihat wajah Wahid yang babak belur karena ulahnya.
Sepertinya Wahid terlalu kesal hingga ia tidak berniat menjawab ucapan Nur, ia hanya menatap Nur kesal.
"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya ustad Farid segera meminta penjelasan.
"Tanya saja sama dia ustad," ucap Wahid bahkan tanpa berniat menatap ke arah nur, sepertinya dia sangat kesal.
"Sebenarnya dompet dan hp Nur nggak ada di tas, Nur pikir pasti ada copet. Sungguh aku tidak mengingat wajah mas Wahid, karena sedari masuk kereta mas Wahid terus bertingkah aneh, jadi Nur curiga." jelas Nur mencoba membela diri.
Ustad Farid pun beralih menatap Wahid, ia cukup penasaran dengan ucapan nur yang mengatakan jika Wahid bertingkah aneh,
"Ya Allah ustad, percaya banget sama dia. Aku tuh tadi cuma lagi ngingat-ngingat, soalnya nggak asing wajahnya, makanya aku tanya dia. Dan ternyata bener kan, temen istrinya ustad Zaki." ucap Wahid tidak terima, ia merasa tidak salah apa-apa.
"Baiklah gini aja, di depan sana ada klinik, lebih baik kamu ke klinik di temani Nur nggak pa pa ya, soalnya aku terburu-buru, bentar lagi keretaku mau datang." ucap ustad Farid lagi.
"Jadi ustad ke sini nggak sengaja jemput Wahid?" tanya Wahid pasalnya ia juga tidak ada yang menjemput.
"Enak di kamu, ya enggak lah. Aku ada acara ke Surabaya. Itu keretaku datang, aku pergi dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam, " jawab Nur dan Wahid bersama-sama.
Ustad Farid pun meninggalkan mereka berdua.
Wahid pun berjalan mendahului Nur, ia tidak berniat mengajak Nur meskipun yang menyebabkan wajahnya babak belur adalah Nur, tapi ternyata tetap mengikutinya.
"Ngapa ngikut terus?"
"Ya aku kudu tanggung jawab to mas."
"Nggak perlu, aku bisa sendiri."
"Ya nggak bisa gitu, Nur harus tanggung jawab."
Wahid pun tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat nur hampir saja menabrak punggungnya, beruntung reflek Nur masih bagus hingga ia bisa mengerem langkahnya tepat waktu,
Wahid pun berbalik,
"Kamu kok ngeyel ya, aku bilang nggak usah ya nggak usah. Nggak usah ngeyel." hardik Wahid dan ia pun kembali berbalik, melanjutkan langkahnya.
Wahid pikir Nur sudah berhenti mengikutinya, tapi Wahid begitu terkejut begitu sampak di klinik ternyata Nur masih berjalan di belakangnya, bahkan ia yang memanggilkan dokter untuknya,
"Dasar keras kepala!" protes Wahid saat dokter hendak merawat luka lebamnya.
Bahkan Nur tidak berniat meninggalkannya hingga Wahid selesai di rawat,
"Sudah selesai." ucap Wahid pada Nur setelah dokter menyelesaikan tugasnya.
"Alhamdulillah mas kalau selesai."
"Kok Alhamdulillah aja?"
Nur pun mengerutkan keningnya, "Trus Nur harus piye mas?"
"Ya bayar dong!"
__ADS_1
"Mas Wahid nggak becanda kan?"
"Ya enggak lah. Kamu yang nyebab in aku babak belur gini, jadi kalau mau tanggung jawab ya bayarin."
"Ya Allah mas, mas kan tahu dompet sama hp aku nggak ada, trus aku bayarnya pakek apa? Gini aja deh mas, pakek uang mas dulu, nanti Nur ganti."
"Kapan?"
"Kalau dompet Nur ketemu."
"Kalau enggak?"
"Ya_, ya_, ya ikhlasin aja."
"Enak aja kalau ngomong." ucap Wahid sambil berlalu menuju ke meja resepsionis untuk membayar dan Nur masih terus mengikuti langkah Wahid.
"Nih!" Wahid pun menyerahkan kuitansi pembayaran atas perawatannya pada Nur. "Bayar nanti kalau sudah ada uang."
"Jadi tetap harus bayar ya mas?" tanya Nur sambil masih menatap kwitansi di tangannya yang sebenarnya jumlahnya tidak begitu banyak tapi lumayan untuk jajan dua atau tiga hari.
"Trus maunya apa?"
"Di ikhlasin aja lah mas."
"Enak aja." dari pada terus berdebat dengan Nur, Wahid pun memilih berlalu meninggalkan klinik, ia berencana cari ojek untuk ke mes.
"Kenapa masih ngikut?" Wahid benar-benar tidak mengerti dengan gadis yang terus mengikutinya.
"Aku nggak punya uang loh mas."
"Ya kan aku kenalnya sama mas Wahid, trus mau hubungi temen Nur juga hp Nur nggak ada. Jadi_,"
"Mau numpang sekalian maksudnya?" tanya Wahid.
"Iya," jawab Nur tanpa rasa bersalah.
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam. Sial banget," gerutu Wahid dan akhrinya ia menyerah.
"Aku lapar, aku mau makan dulu. Kalau kamu_,"
"Aku juga lapar mas," dengan cepat Nur menyambar ucapan Wahid yang belum selesai.
"Astaghfirullah hal azim," gumamnya Wahid.
"Ya sudah, ayo." ia juga tidak Setega itu meninggalkan Nur sendiri tanpa ada uang.
Akhrinya Wahid mengajak Nur makan di sebuah warung tenda yang menyediakan berbagai macam lalapan yang ada di pinggir jalan.
"Nur janji deh, nanti Nur bakal ganti." ucap Nur di tengah-tengah mereka makan.
"Nggak usah mikir itu dulu, sekarang pikirkan kira-kira di mana ponsel sama dompet kamu deh."
"Mas Wahid punya hp nggak?"
"Menurutmu?"
"Ya Nur nggak tahu, mas Wahid dari tadi nggak pegang hp."
__ADS_1
"Ya Allah, orang seganteng dan semodern ini kamu bilang nggak punya hp?"
"Aku nggak ngomong mas Wahid nggak punya hp ya." Nur tetap tidak mau kalah.
"Dari ekspresi kamu bicara sudah ketebak." ucap Wahid, "Enak aja ngira aku nggak punya hp," gumamnya kemudian.
"Ya udah kalau mas Wahid punya hp, boleh pinjem nggak? Aku mau coba hubungi nomor aku siapa tahu masih bisa, trus di kembalikan."
"Enak banget kalau ngomong. Emang ada orang yang sudah Nemu trus mau mengembalikan!" gerutu Wahid, meskipun begitu tangannya tampak sibuk mencari keberadaan benda pipih itu di dalam tasnya dan setelah ketemu ia pun menyerahkan pada Nur.
"Nih, nggak usah lama. Paketan mahal."
"Ya Allah, pelit banget sih mas Wahid nih."
"Ya udah kalau nggak mau."
Srekkkk
Baru saja Wahid hendak menyembunyikannya lagi, Nur sudah lebih dulu menyahutnya.
"Terimakasih mas."
"Belum di pakek nggak usah bilang terima kasih dulu."
Nur tidak lagi menimpali ucapan Wahid, ia lebih memilih mengetikkan nomornya dan melakukan panggilan,
"Ya Allah mas, mas masih berdering!" Nur teriak kegirangan membuat Wahid begitu terkejut hingga membuat orang-orang di sekitar mereka memperhatikannya.
"Jangan lebay deh, malu di lihatin orang."
"Maaf, maaf, soalnya ini nomor Nur masih bisa mas, Nur seneng banget."
"Hallo, assalamualaikum," suara seseorang di seberang sana setelah beberapa saat.
"Waalaikum salam," jawab Nur tagi karena ia mengenal suara itu, "Bapak?"
"Ya Allah, Nur. Gek piye to kih, mosok dompet Karo hp ne di tinggal nek omah (bagaimana sih ini, masak dompet dan hpnya di tinggal di rumah)."
"Yang benar pak?" tanya Nur tidak percaya sambil menelan Salivanya dengan begitu susah, apalagi saat menatap wajah Wahid yang babak belur akibat kecerobohannya.
Flashback off
Sepanjang Nur cerita, Zahra benar-benar tidak bisa menahan tawa hingga perut ya terasa kebas.
"Ya Allah, Nur. Nggak kebayang aku bagaimana malunya kamu saat itu, pengen lihat Semerah apa wajah kamu."
"Apaan sih Jah, temen susah malah di ketawain." protes Nur.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1