Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 21


__ADS_3

"Mas mau ke taman depan, kamu mau ikut?" Imron sudah siap dengan kaos oblong lengkap dengan treneng dan sepatu olah raganya.


"Guaya mas, mau ngapain pake kayak gitu?" ledek Zahra.


"Yo lari-lari sore lah Jah. Emang awakmu, kerjane mung tidur tok."


"Enak ae mas Imron kih, Zahra lek malam suka olah raga sama_," dengan cepat Zahra menutup mulutnya yang hampir keceplosan.


"Maaf mas, kebablasan. Lupa kalau yang di depan Zahra masih lajang."


"issst," keluh Imron, "Gimana ikut nggak, kebetulan ada dawet lek Tumi. Serius nggak mau nih?"


"Mau mau, bentar aku pakek_,"


"Pakek gitu aja wes, wong mek lungguh-lungguh ae, seng penting jilbapan. Lek enggak, di pecat aku Karo bojomu (pakek gitu aja, cuma duduk-duduk saja, yang penting pakek jilbab. Kalau enggak, dipecat aku sama suami kamu)!"


"Iyo, Iyo mas."


Akhirnya Zahra hanya memakai daster panjang lengkap Dnegan hijab instan nya, dengan sandal jepit yang menghiasi kakinya.


"Wes kamu duduk sini, biar mas belikan dawet. nggak usah kemana-mana, mas cuma lari sepuluh putaran."


"Siap, seng penting dawet e Ndang tukukno, aku selak luwe (siap, yang penting dawetnya cepat belikan, aku keburu lapar)!" ucap Zahra sambil mengusap perutnya yang sudah besar.


Imron hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berlalu meninggalkan Zahra.


Sebelum ia lari keliling taman, ia sudah membelikan Zahra tiga cup dawet serabi.


Hingga saat ia menyelesaikan putaran terakhirnya, ia kembali menghampiri sang adik.


"Ya Allah Jah, entek?"


Zahra nyengir kuda, "Piye eneh mas, aku gampang luwe malihan (bagaimana lagi mas, aku gampang lapar jadinya)!"


"Pantes bojomu lek kerjo nyengkut, la trah bojone panganane akeh ngene (Pantes suami kamu kerja keras, istrinya makanannya banyak gini) !" goda Imron membuat Zahra cemberut.


"Wes terusne ae lek nggodho, tak omongne Mak sokor pean engko ( lanjutkan terus kalau menggoda, tak bilangkan ibuk sukurin kamu nanti)!"


"Dasar tukang gancam!" ucap Imron sambil mencubit hidung sang adik.


"Sakit mas," keluh zahra sambil mengusap hidungnya yang memerah dan Imron hanya tersenyum sambil mengalihkan tatapannya pada anak-anak yang berlarian di taman yang tidak besar itu, tapi anak-anak masih bisa menikmatinya karena bersebelahan dengan lapangan.


Hingga mereka saling diam cukup lama, kemudian Imron memulai lagi bicaranya,


"Jah,"


"Hmmm?" Zahra masih belum mengalihkan tatapannya dari anak-anak yang tengah berlarian itu, meskipun Imron tengah menatapnya dengan begitu penasaran.


"Kamu nggak suka sama Ina ya?"


Mendapatkan pertanyaan itu, Zahra pun dengan cepat menatap ke arah sang kakak,


"Mas sempet denger percakapan kalian kemarin."


Zahra pikir asal kakaknya suka ia tidak perlu membicarakan kejelekan Ina di depan kakaknya, tapi ternyata sang kakak sudah mendengarnya, mau tidak mau Zahra pun menceritakan sikap Ina padanya dulu.


"Maaf ya mas, Zahra hanya tidak suka. Tapi insyaallah nanti Zahra akan berusaha untuk menyukai Ina, insyaallah pelan-pelan Zahra bisa menerimanya."


***

__ADS_1


Di tempat lain ustad Zaki tengah melakukan meeting dengan karyawan kedai lalapannya di Tulungagung, di sana ada Wahid juga.


Selesai meeting, ustad Zaki langsung menuju ke mes yang di tempati Wahid. Sudah menjadi hal biasa jika ustad Zaki hampir tidak pernah menyewa kamar hotel saat di Tulungagung, ia lebih memilih tinggal di mes jika tidak mengajak Zahra.


"Ustad, kalau mau mandi, kamar mandinya sudah Wahid bersihkan."


"Makasih ya Hid."


"Sama-sama, ustad. Wahid tinggal keluar sebentar ya ustad."


"Iya, sekalian nitip belikan nasi pecel depan yaa, nanti uangnya aku ganti."


"Siap ustad, assalamualaikum."


"Waalaikum salam,"


Setelah Wahid pergi ustad Zaki pun segera mandi dan lanjut sholat ashar dan lanjut bekerja.


"Batrenya habis lagi," gumam ustad Zaki saat layar laptopnya mulai redup, "Wahid punya nggak ya cas yang sama!?" gumamnya dengan tangan yang sibuk mencari di dalam laci.


Tapi segera ia menemukan sesuatu di dalam laci itu.


"Jadi masih!?" gumamnya lagi dan ustad Zaki pun kembali menyimpannya. Karena tidak bisa menemukan yang ia cari, untuk Zaki memilih mematikan saja laptopnya sambil menunggu Wahid kembali.


"Assalamualaikum, ustad." benar saja hanya berselang beberapa menit Wahid kembali dengan dua bungkus nasi pecel.


"Waalaikum salam,"


"Biar Wahid ambilkan piring sama sendok dulu ustad." ucap Wahid yang langsung ke dapur dan kembali lagi dengan dua piring kosong juga sendok yang masih bersih.


Mereka pun mulai memakan pecelnya sambil sesekali mengobrol. Hingga akhrinya nasi pecelnya habis dan Wahid membuang bungkusnya sebagian ustad Zaki mencuci sendok kotornya dan mereka pun kembali duduk santai sambil menunggu waktu magrib.


Seketika wajah Wahid berubah pias, "Maaf ustad, saya hanya ingin_,"


"Ingin dekat sama Nur?" tanya ustad Zaki dan Wahid terdiam,


"Kalau sudah yakin, lebih baik disegerakan saja. Allah nggak suka sesuatu yang di tunda-tunda, apa lagi ini hal baik."


"Ustad_,"


"Say serius, Hid."


"Wahid masih kuliah, ustad. Dan lagi pula Nur tidak tahu kalau sebenarnya Wahid_,"


"Insyaallah, Allah yang akan menunjukan kalau kamu sungguh-sungguh."


"Nanti aja ustad, kalau Wahid sudah lulus. Lagi pula Nur juga baru masuk kuliah, takut menggangu."


"Baiklah, keputusan tetap ada di tangan kamu. Pokoknya aku tunggu kabar baiknya nanti."


"Insyaallah ustad, doanya yang terbaik buat Wahid dan Nur ya ustad."


"Insyaallah."


***


3 hari kemudian.


"Maaf ya buk sudah merepotkan ibuk," ucap ustad Zaki yang sudah menjemput Zahra di rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Nggak pa pa, nak. Ibuk malah seneng kalau Zahra sering di sini."


"Terimakasih ya buk."


"Ya, ya sudah kalian hati-hati ya."


"Iya buk, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Ustad Zaki segera mengajak Zahra pulang, sepanjang perjalanan pulang Zahra tetap diam membuat ustad Zaki penasaran.


"Dek, marah ya sama mas?"


Zahra menggelengkan kepalanya.


"Terus?"


"Ya nggak marah,"


Karena mood zahra dengan tidak baik, ustad Zaki pun memilih diam dan menunggu Zahra sendiri yang cerita.


Bahkan sampai di rumah pun Zahra masih tetap diam, ia berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar meninggalkan ustad Zaki yang tengah menurunkan koper miliknya dan milik Zahra.


Ustad Zaki segera duduk di samping Zahra yang memiringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ustad Zaki mengusap kepala Zahra yang sudah tidak pakai hijab,


"Dek, mas minta maaf ya kalau buat dek Zahra sedih." ucapnya dengan lembut.


"Kok ada kalau nya sih, berarti nggak benar-benar mengakui dong kalau salah." ucap Zahra ketus.


"Iya maaf, maksud mas itu mas minta maaf banget banget banget, karena sudah buat dek Zahra sendiri."


Zahra pun mengubah posisinya menjadi duduk,


"Tau ah, mas nggak peka banget!" ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dek, jangan nangis. Iya mas salah, mas nggak peka. Dek Zahra mau apa?"


"Mana oleh-olehnya?" ucap Zahra sambil mengayunkan kedua tangannya.


Ya Allah, bisa lupa gini ya ...., keluh ustad Zaki dalam hati.


"Nggak ada kan? Benar kan?" Zahra semakin kejer nangisnya.


"Udah sayang jangan nangis lagi ya kasihan dedeknya, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke mall, kita beli peralatan bayi kan bentar lagi dedek bayi lahir, mau ya, mau ya." rayu ustad Zaki. Jika kali ini tidak berhasil ngalaman nanti malam tidak akan dapat jatah pikirnya.


Zahra pun mengangukkan kepalanya cepat,


Amaaan, ucap ustad Zaki dalam hati.


"Janji ya, besok aku mau di mall yang ada di Malang."


"Siap,"


Bersambung


Maaf ya teman-teman lama banget nggak up, rencananya bonschap nya akan segera habis ya. Mungkin tinggal dua atau tiga bab lagi nggak pa pa ya. Insyaallah kalau yang after the divorce selesai mau lanjut kisah Nur atau kisah Imron, pokoknya doain aja semoga update nya after the divorce juga lancar biar bisa cepet selesai dan ganti lagi yang baru ya, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2