
Zahra sudah siap dengan tas besarnya, hari ini ia harus menginap di rumah orang tuanya selama ustad Zaki pergi ke Tulungagung, karena setelah itu ustad Zaki harus langsung pergi ke Bandung untuk menghadiri acara yang di adakan oleh pesantren.
Sebenarnya ustad Zaki ingin sekali mengajak Zahra pergi, tapi setelah konsultasi pada dokter kandungan Zahra ternyata Zahra tidak diijinkan untuk bepergian terlalu jauh.
Apalagi saat ini usia kandungan Zahra sudah memasuki trimester ke tiga.
"Dek, kalau ada apa-apa langsung hubungi mas."
"Siap mas,"
"Nanti mas akan menghubungi dek Zahra begitu sampai di Tulungagung, ponselnya jangan sampai di tinggal-tinggal."
"Iya mas,"
"Jangan lupa juga, vitamin sama susunya di minum. Kalau kakinya pegel, nanti mas minta maaf Imron untuk menjemput budhe Tumi buat mijitin dek Zahra."
"Iya mas, kalau mas terus bicara kapan berangkatnya?"
"Maaf, mas suka lupa soalnya. Ya udah mas berangkat ya, jaga diri dan anak kita ya dek. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Setelah mengecup kening Zahra, ustad Zaki pun beralih menghampiri mertuanya.
Tidak lupa ustad Zaki juga berpesan pada kedua mertuanya untuk menjaga istrinya sekaligus meminta maaf karena selalu merepotkan mereka.
Amir sudah menunggunya di dalam mobil, ia sengaja mengajak Amir agar tidak kesepian di jalan, lagi pula jika merasa capek mereka bisa bergantinya menyetir.
Setelah ustadz Zaki pergi, Bu Narsih pun mengajak Zahra masuk. Ia masih punya perkejaan di dapur karena malam ini ada rutinan Yasin di rumahnya.
Sebenarnya Bu Narsih sudah meminta Zahra untuk istirahat tapi Zahra memaksa untuk ikut ke dapur.
"Oh ya nduk, hari ini Ina akan ke sini," ucap Bu Narsih saat Zahra dan Bu Narsih tengah berada di dapur.
__ADS_1
Seketika Zahra menatap tidak percaya pada sang ibu,
"Ngapain buk?"
"Itu loh nduk, ibuk kan nanti malam ada acara rutinan yasinan." ucapnya sambil meletakkan adonan di depan Zahra lengkap dengan lembaran daun kecil-kecil yang sudah bersih dan juga kinco (Parutan kelapa yang di campur dengan gula kelapa yang dioseng di atas api sedang)
"Trus apa hubungannya sama Ina?" protes Zahra yang tidak terima.
"Ya_, ibuk nggak enak kalau nolak bantuannya." ucap Bu Narsih ragu. Di satu sisi ada Zahra yang putrinya dan di sisi lain ada calon menantunya yang ia tidak bisa memihak salah satu.
"Zahra kan juga bisa, ngapain juga pake suruh bantu dia. Bikin kesel aja buk."
"Jangan gitu nduk, sebentar lagi kan Ina juga akan jadi mbak mu, kamu yang baik-baik ya sama dia."
"Dia aja nggak mau baik sama Zahra, ngapain Zahra baik-baik sama dia. Kurang kerjaan banget buk."
"Nduk, kamu sayang kan Karo mas mu?"
"Yo sayang buk."
Hehhhhh
Zahra hanya bisa menghela nafas, walaupun kesal dan tidak terima tapi ia juga sayang dengan kakak laki-laki nya, ia tidak mungkin menolak apa yang menjadi kehendak masnya.
"Yo wes lah buk,"
Baru saja berhenti membicarakan, orangnya datang juga dengan Imron.
"Assalamualaikum," sapanya tapi tampak sekali wajahnya berubah pias saat melihat ada Zahra juga bersama Bu Narsih.
"Waalaikum salam,"
"Zahra, kamu di sini,"
__ADS_1
"Ya iya lah, ini rumah ibuku." jawab Zahra sewot dengan tangan yang sibuk membungkus calon mendut (Jajanan khas yang terbuat dari tepung ketan yang di dalamnya ada kelapa parut yang di campur dengan gula merah dan dibungkus dengan daun pisang).
"Biar aku bantu ya, Jah." ucap Ina sambil menyusul duduk di depan Zahra dengan hanya berbatas sebuah tampah yang digunakan untuk menyusul mendut yang belum di kukus.
Tapi Zahra masih enggan menjawabnya, ia memilih untuk tetap fokus pada pekerjanya.
Melihat sikap Zahra pada Ina membuat Imron merasa curiga, ia tidak tahu jika Zahra dan Ina selama ini ada masalah.
"Ibuk ke warung dulu ya, tadi ibuk lupa beli ager-ager."
"Biar Zahra aja buk."
"Ojo, kamu duduk saja."
Walaupun kecewa tapi bagaimana lagi memang pesan sang suami ia tidak boleh ke mana-mana selama di tinggal pergi, bahkan ke kampus pun ia hanya dibolehkan satu kali dalam seminggu.
akhrinya kini di dapur tinggal ada Ina dan zahra karena Imron juga harus segera pergi, ia masih punya pekerjaan yang harus segera dikerjakan.
suasana semakin sunyi, apalagi Zahra yang memang enggan untuk berbicara dengan Ina, ia masih sangat kesal dengan perkataannya Ina waktu itu. Lagi pula selama ini perlakuan Ina tidak jauh beda dengan perlakuan Imah ke Zahra.
sebenarnya bukan hanya mereka, hampir setengah dari kampung tempatnya tinggal tidak menyukai sifat Zahra yang kadang lewat acuh dan masa bodo, tapi seiring berjalannya waktu perlahan sifat egois Zahra mulai terkikis semenjak menjadi istri ustad Zaki. Begitu juga orang-orang yang tidak menyukainya, mereka perlahan mulai menyukai Zahra.
"Jah,"
"Hmmm,"
"Aku minta maaf," ucap Ina lirih.
"Nggak denger,"
"Zahra aku minta maaf, memang mulutku suka sekali menyakiti hati kamu, aku minta maaf."
"Ya sudah lah, ada manfaatkan juga kamu menggunjingku waktu itu, sekarang aku seorang mahasiswa sepertimu kan."
__ADS_1
"Kamu beneran nggak mau memaafkan aku?"
"Kaca yang terlanjur pecah, Jika disatukan kembali tidak akan sempurna seperti sedia kala. Tapi mungkin setelah kamu resmi menjadi istri masku, aku akan menghormatimu layaknya sebagai seorang adik ipar, dan jangan mengharap lebih. Aku bukan orang yang suka berbasa-basi." ucap Zahra kemudian berlalu meninggalkan Ina sendiri.