Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Cintamu lebih besar


__ADS_3

Sedikit gerakan membuat mata ustad Zaki yang hampir tertutup kembali terbuka, ia segera mengangkat kembali kepalanya yang tengah ia sandarkan di atas lengannya di atas tempat tidur di samping Zahra.


Bibirnya langsung tersenyum hangat begitu melihat wanita yang telah ia tunggui sedari beberapa jam lalu mulai membuka matanya, ia segera menghilangkan kesedihannya dan menutupi ya dengan senyum.


"Alhamdulillah!" gumamnya lirih.


"Assalamualaikum, dek!" sapanya sambil berdiri dan membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Tangannya langsung mengusap ke puncak kepala sang istri, ia juga meninggalkan kecupan cukup lama di kening sang istri.


"Waalaikum salam, mas ustad!" jawaban Zahra masih begitu lengkap membuat ustad Zaki bisa bernafas lega sekarang.


"Bagaimana? Apa yang sakit?" tanya ustad Zaki lagi.


"Perutku!"


"Nggak pa pa, insyaallah perlahan akan membaik!" ustad Zaki berusaha menenangkan sang istri.


"Bagaimana mas? Apa dia selamat?" tanya Zahra sambil melirik ke arah perutnya karena ia belum bisa banyak bergerak, bekas operasinya masih baru.


Ustad Zaki kembali tersenyum, "Alhamdulillah, walaupun hanya satu tapi Allah masih memberi kepercayaan pada kita untuk menjaganya!"


"Alhamdulillah!" sahut Zahra lirih, walaupun sudut matanya kini mulai berair. Ustad Zaki dengan cepat mengusapnya dengan jari telunjuknya.


"Mas, haus!" ucap Zahra lagi, tenggorokannya memang terasa begitu kering.


"Sabar ya, kata dokter harus nunggu dek Zahra buang angin dulu!"


Zahra pun hanya bisa pasrah dan mengangukkan kepalanya,


"Boleh Zahra minta peluk?"


"Aku peluk dari sini, begini ya!" ustad Zaki kembali mencondongkan tubuhnya hendak memeluk Zahra tapi Zahra segera menggelengkan kepalanya dan.menahan tubuh sang suami.


"Mas ustad naik, aku mau di peluk sambil tidur!"


Mendengar suara manja Zahra, ustad Zaki kembali tersenyum. Dengan perlahan ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, memiringkan tubuhnya menghadap Zahra, tangannya segera ia ulurkan untuk memeluk zahra di dadanya.


"Bagaimana? Begini nyaman?"


"hmmm!"


"Tidurlah lagi, aku akan memelukmu sepanjang malam!"


"hmmm!"


Zahra pun kembali memejamkan matanya untuk melupakan rasa hausnya, ia masih harus menunggu hingga ia bisa buang angin.


***


Suara azan sayup-sayup terdengar di kamar Zahra, ustad Zaki perlahan membuka matanya. Ia masih berbaring di posisi yang sama, menatap wajah cantik di depannya yang masih terlelap perlahan ia bangun dari tempat tidur.


Perlahan ia membuka pintu kamar, memastikan jika Amir masih di sana, dan benar saja pria itu masih terlelap tidur di kursi tunggu yang ada di luar ruangan, mungkin ia merasa sungkan tidur di dalam makanya memilih tidur di luar,


"Mir!" perlahan ustad Zaki menggoyang tubuh Amir dan perlahan pria itu membuka matanya, tapi segera ia terkejut saat melihat ustad Zaki berdiri di sampingnya hingga membuat jaket yang menutupi tubuhnya terjatuh.

__ADS_1


"Ustad!?"


"Sudah subuh, kamu ke mushola nggak pa pa, biar aku sholat di dalam!"


"Iya ustad!"


Amir pun segera bangun dan memakai kembali jaketnya.


Setelah memastikan Amir bangun, ustad Zaki pun kembali masuk. Ia mengunakan kamar mandi rumah sakit untuk mandi dan mengambil wudhu, sengaja ia sholat di dalam kamar Zahra karena tidak tega meninggalkan Zahra sendiri.


Tepat saat ia selesai sholat, Zahra bangun. Ustad Zaki segera melipat sajadahnya dan menghampiri Zahra.


"Apa dek Zahra mau minum?" tanya ustad Zaki dengan segera.


"Apa aku sudah kentut?" tanya Zahra dengan polosnya.


"Kapan?" Zahra tidak merasa kentut.


"Semalam!"


Rupanya saat Zahra tertidur kembali ia buang angin, tapi melihat Zahra yang sudah kembali terlelap ustad Zaki tidak tega untuk membangunkannya.


"Jadi Zahra _, maksudnya mas ustad di kentutin dong sama Zahra?" tanya Zahra dan ustad Zaki pun menganggukkan kepalanya.


"Ihhhh, Zahra jadi malu kan!?"


"Kenapa malu?"


"Kan Zahra kentutnya di depan ustad!"


"Kamu ada-ada aja dek! Sini mas bantuin bangun!" ustad Zaki mencondongkan tubuhnya, mengambil bantal dan meletakkan di belakang punggung Zahra, menaikkan ranjang bagian punggung,


"Gimana, segini cukup?" tanyanya sambil mengatur ketegakan ranjang.


"Iya mas, cukup!"


Setelah mengunci kembali ranjang, ustad Zaki pun segera mengambilkan segelas air.lengkap dengan sedotan agar Zahra lebih mudah meminumnya.


Ustad Zaki dengan telaten membantu Zahra, hingga mengelap bubur Zahra menggunakan tisu.


"Zahra kapan boleh pulang mas?"


"Kok sudah nanya kapan pulang, memang mau ngapain?"


"Kan bentar lagi kelulusan mas, Zahra bisa ikutan perpisahan nggak?"


Ustad Zaki tersenyum dan mengusap puncak kepala Zahra,


"Zahra sudah tahu jawabannya!" ucap Zahra dengan cepat sebelum sang suami menjawabnya.


"Nggak pa pa kan? Demi kesehatan dek Zahra dan dedek bayi!"


Zahra pun kembali tersenyum, dan ustad Zaki kembali meninggalkan kecupan di kening sang istri.

__ADS_1


"Oh iya mas, terakhir kali sebelum pingsan, Zahra lihat_!" Zahra ragu untuk melanjutkannya, ia tidak ingin membuat suaminya cemburu.


"Bayu!? Bayu ada kemarin, mungkin nanti datang lagi. Apa dek Zahra mau ketemu dia? Kalau iya, biar mas minta bantuan Nur buat menghubungi Bayu!"


Zahra dengan cepat menggelengkan kepalanya,


"Nggak perlu, Bayu juga Sudja pindah ke Surabaya, mas!"


"Pindah?"


"Hmmm, kata Nur begitu!"


"Bukankah tinggal menunggu ujian, kenapa pindah?"


"Nggak tahu, kata Bayu orang tuanya bangkrut makanya kembali ke Surabaya!"


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"


"Mas ustad nggak marah?"


"Kenapa marah?"


"Karena Zahra membicarakan Bayu!"


Mendengar pernyataan Zahra, ustad Zaki kembali tersenyum,


"Ya enggak dek, kan mas sekarang tahu kalau hati dek Zahra cuma buat mas!"


"Cieeee!"


"Kok cie sih dek, mas serius!"


"Aku jadi terharu mas!?" ucap Zahra sambil tersenyum yangdi buat unyu-unyu.


"Mas lebih terharu dengan perjuangan dek Zahra!"


"Ihhhh selalu deh,"


"Selalu kenapa?"


"Bisa aja jawab gombalan Zahra, kalau gini kan Zahra jadi kalah!"


Senyum ustad Zaki semakin lebar, "Nggak pa pa dek kalah dalam gombalan, tapi percayalah cinta dek Zahra lebih dalam dari yang mas punya. Mas beruntung punya dek Zahra!"


"Kan lagi kan, aku lagi nggak ingin ketawa mas, perutnya sakit kalau di buat ketawa!"


"Maaf, maaf, ya sudah mas diam!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2