
Zahra segera memicingkan matanya begitu teringat dengan sesuatu, ia sepertinya mulai mencurigai sesuatu. Tepatnya mencurigai keberadaan suaminya di kafe tempat biasa ia dan gengnya Bayu nongkrong.
"Mas,"
Ustad Zaki yang tengah menatap wajah Zahra segera memperdalam tatapannya, ia benar-benar tengah terpesona dengan wajah cantik istrinya, sekaligus merasa bangga dengan sang istri. Ia tahu betul pergaulan seperti apa yang di jalani istrinya, balap liar, nongkrong sampai larut, tawuran dan semua kenakalan anak remaja lainnya, tapi rupanya berada di tempat yang hitam tidak berarti akan membuat orang menjadi hitam.
"Ini bukan pertama kalinya kan mas ustad di sini? Ini kafe siapa? Kenapa sepertinya semua karyawan kafe mengenal mas ustad?" Zahra langsung memberomdongi sang suami dengan begitu banyak pertanyaan. Ia ingin tahu semuanya.
Benar_, nyatanya pertemuan mereka di angkot kala itu bukan pertemuan mereka yang pertama. Kafe ini adalah saksi bisu pertemuan mereka,
Bukan tanpa sebab rupanya Allah mempertemukan seseorang,
Flashback on
Segerombolan siswa SMA memasuki kafe di jam sekolah berhasil membuat seorang pria yang tengah mengobrol bersama temannya tertarik untuk membahas anak-anak itu, apalagi hal yang paling membuatnya tertarik adalah salah satu dari anak itu ada anak perempuan.
"Zak, lihatin apa sih?" tanya pria yang penampilannya sedikit berbeda dengan pria itu, dia memakai jas rapi sedangkan dirinya memakai kemeja dan sarung kebanggaannya.
"Itu_!" tunjukknya pada anak-anak itu yang sudah duduk di tempatnya dengan tawa renyah khas anak-anak bermasalah.
"Ohhhh, mereka!?"
"Ini jam sekolah, kenapa mereka keluyuran di kafe?"
"Bolos kali mereka, ini bukan yang pertama Zak,"
"Kamu nggak tegur mereka?"
"Biarin aja lah, mereka punya kehidupan sendiri." jawab temannya dengan begitu santai.
"Anak perempuan itu_?" ustad Zaki cukup tertarik dengan anak perempuan yang berada di antara anak laki-laki itu.
"Namanya zahra!"
"Kamu kenal?"
"Nggak sih, cuma karena keseringan di sini jadi tahu namanya!"
"Berapa lama biasanya mereka di sini?"
"Biasanya mereka tengah mempersiapkan balap liar, bisa sampek magrib!"
Flashback off
Sejak saat itu, ustad Zaki jadi sering berkunjung ke kafe. Lambat laut ia tahu jika gadis yang selalu bersama gerombolan para anak laki-laki itu berada dalam satu kampung dengannya.
Sekali waktu ia ingin sekali menghampiri anak perempuan itu dan menyapanya, lebih tepat menegurnya tapi rupanya Allah lebih memilih dia untuk mengawasinya saja karena kesempatan itu nyatanya tidak pernah datang.
Hingga akhirnya lamaran dari gadis yang telah membuatnya merasa sombong dengan kelebihan dan kebaikannya itu melamarnya, sebuah pukulan besar seakan menampar dirinya.
Sempat terbesit dalam benaknya untuk menanyakan maksud dari takdir yang di berikan oleh Allah ini, tapi nyatanya Allah yang paling tahu apa yang ia butuhkan bukan apa yang ia inginkan.
Kebaikan, kesucian bukan hal yang harus selalu terlihat tapi sesuatu yang di tutup dengan hal yang hitam bisa jadi itu lebih suci dari yang kelihatan suci.
"Iya_!" jawab ustad Zaki singkat.
"Iya yang mana?"
__ADS_1
"Semuanya benar, mas sering ke sini!"
Zahra mengerutkan keningnya, seorang ustad nongkrongnya di kafe, cukup membuat Zahra tercengang.
"Ini kafe milik temannya mas, namanya Ali. Kami sering berdiskusi banyak hal di sini."
"Jadi maksudnya_?" Zahra langsung merasa gerah, lebih tepatnya keringat dingin begitu tahu apa yang terjadi, besar kemungkinan jika pria yang telah ia nikahi ini tahu betul kehidupannya.
"Iya_!" ustad Zaki memberi jeda pada ucapannya, sedikit menarik nafas dan kembali bicara, "Mas bahkan selalu melihat dek Zahra di sini bersama teman-teman dek Zahra. Mas tidak tahu apa yang membuat mas tertarik untuk mengamati kehidupan dek Zahra saat ini,"
Ustad Zaki meraih tangan Zahra dan menggenggamnya,
"Tapi sekarang mas tahu, Allah ingin menunjukkan sesuatu pada mas!"
"Apa?"
"Tidak semua yang berada di kubangan lumpur itu najis dan menjijikkan, mutiara asli tertutup lumpur tapi mahal harganya!"
Zahra seperti Dejavu, ia kembali mengingat perkataan Bu Marni kemarin. Perkataan itu benar-benar sama dengan apa yang di katakan oleh ustad Zaki saat ini.
"Kok sama sih!?" celetup Zahra.
"Sama apanya?"
"Sama kayak yang di katakan oleh budhe Marni! Kemarin budhe Marni juga bilang gitu, tapi Zahra nggak tahu maksudnya!"
Ustad Zaki tersenyum dan mengusap puncak kepala Zahra,
"Berarti ini bukan hanya pandangan mas aja, kamu tidak perlu terlihat baik di depan orang yang tidak mengerti kamu, cukup jadi dirinya dari sisi terbaikmu, baiklah untuk dirimu dan orang-orang yang mengenalmu, karena sejatinya mereka yang akan merasakan kebaikanmu!"
"Tidak perlu di pikirkan, cukup dengarkan dan nanti suatu saat dek Zahra akan tahu maksud dari ucapan mas!"
"Baiklah!" jawab Zahra pasti.
"Bagaimana, apa kita pulang sekarang?" tanya ustad Zaki saat melihat jarum jam sudah menunjuk ke angka tiga sore.
"Ayo!"
Tapi baru saja mereka akan berdiri tiba-tiba sebuah salam menyapa mereka.
"Assalamualaikum!"
Ustad Zaki menoleh ke sumber suara,
"Waalaikum salam, Al!?"
Pria itu tersenyum, tapi kemudian ia tertarik untuk melihat ke arah Zahra dan mengerutkan keningnya,
"Ini bukannya Zahra?"
"I_ya!" jawab Zahra ragu, ia tidak merasa kenal dengan pria di depannya tapi pria itu mengenalnya.
Pria itu mengedarkan pandangannya, seperti tengah mencari-cari sesuatu,
"Kamu sendiri? Mana teman-teman kamu?" seragam yang di kenakan Zahra seperti cukup menjadi identitas dirinya.
"Aku_!" Zahra bingung harus menjawab apa, ia beralih menatap sang suami.
__ADS_1
"Duduk dulu Al, kita bicara!" ajak ustad zaki dan pria itu pun akhirnya bergabung dengan mereka. Rencana untuk pulang sepertinya harus tertunda.
"Zahra sama aku!"
Ucapan ustad Zaki berhasil membuat pria bernama Ali itu terkejut,
"Maksudnya kalian sengaja datang bareng?"
"Hmmmm!" anggk ustad Zaki, "Kenalkan, dia Zahra istriku!"
Kali ini Ali lebih tercengang lagi, ia tahu bagaimana sebelum-sebelumnya ustad Zaki mengkritik semua perlakuan Zahra, bahkan dari semua ucapan ustad Zaki saat itu tidak ada sedikitpun mengarah pada calon istri idaman jatuh ke tangan Zahra.
"Subhanallah, kuasa Allah benar-benar luar biasa! Bagaimana bisa? Ceritakan padaku!"
"Seperti yang kamu katakan, semua ini karena kuasa Allah." ucap ustad Zaki tidak ingin mempermasalahkan lagi bagaimana proses mereka menikah.
"Jadi ini mas Ali yang kata mas ustad pemilik kafe ini?" tanya Zahra yang mulai faham.
"Tidak sepenuhnya seperti ini!" ucap Ali menanggapi pertanyaan Zahra.
"Hahhhh?"
"Sepertinya suami kamu ini belum menceritakan semuanya, iya kan Zak?"
Zahra menoleh pada suaminya, dan suaminya itu memilih berdiri,
"Kami harus segera pulang, tidak pa pa kan kalau kami pergi dulu!"
"Iya pak ustad, sudah waktunya punya jadwal lain!" goda Ali, "Lain kali istrinya di ajak ke sini lagi!"
"Insyaallah, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki kembali menggandeng tangann Zahra dan membawanya keluar dari kafe, tapi sepeetinya ustad Zaki melupakan sesuatu.
"Mas, kan belum bayar!" ucap Zahra saat mereka sudah berada di luar kafe.
"Nggak pa pa, nanti biar di bayarin sama Ali!"
"Kok gitu sih,"
"Nggak pa pa! Ayo!"
visual Zahra ya
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1