
"Karena Zahra yang Allah berikan padaku sebagai jodohku!"
"Mas Zaki yakin?"
"Insyaallah!"
Mereka pun kembali saling diam, Bayu menyulut rokoknya dan segera menyesap mengepulkan asapnya ke udara seakan apa yang ka lakukan saat ini bisa membuat beban dalam hidupnya berkurang.
"Wanita seperti apa yang ingin sekali menjadi teman hidupmu, apa seperti dek Zahra?" tanya ustad Zaki kemudian.
"Kenapa masih bertanya!? Mas Zaki sudah tahu jawabannya!"
"Kamu yakin sudah merasa pantas untuk dek Zahra, hingga kamu berani memintanya dariku?"
Bayu terdiam dengan pertanyaan ustad Zaki, ia menyesap kembali puntung rokoknya dan mengepulkan asapnya ke udara.
"Jika kamu ingin menikah dengan wanita baik-baik, maka setidaknya jadilah imam yang baik lebih dulu."
"Jangan mengguruiku!" Bayu terlihat tidak suka dengan perkataan ustad Zaki,
"Tidak, aku sungguh tidak bermaksud menggurui mu. Aku dulu juga pernah berada di posisi sepertimu, bahkan mungkin lebih parah dari ini, balap liar, rokok, minuman keras, tawuran, sudah menjadi hal yang biasa bagiku, dulu_!"
Apa yang di katakan oleh ustad Zaki berhasil membuat Bayu menghentikan kegiatannya, ia menatap tidak percaya pada ustad Zaki. Siapapun pasti tidak percaya melihat penampilan ustad Zaki yang sekarang, mereka pasti juga tidak menyangka jika di masa remaja ustad Zaki tidak baik-baik saja.
"Aku juga pernah mendambakan seorang gadis Sholehah tentunya, tapi begitu aku menyadari, aku takut! Aku bukan pria baik, bagaimana bisa aku menginginkan wanita yang baik-baik."
"Saat itulah aku sadar, untuk mendapatkan yang baik, maka aku juga harus menjadi baik. Untuk itu mungkin kita butuh teman yang baik juga!"
"Jadi menurut mas Zaki, teman-teman Bayu sekarang bukan teman yang baik?!" Bayu tidak suka jika ustad Zaki mengatakan kalau temannya sekarang bukan teman yang baik.
"Baik, teman-teman kamu sekarang baik, tapi ada yang lebih baik. Teman yang bisa membawamu ke arah yang lebih baik, teman yang membuatmu merasa tidak enak jika sampai meninggalkan sholat, teman yang membuatmu merasa sungkan saat hendak melakukan hal-hal yang kurang baik!"
Walaupun tidak memberi tanggapan, tampak wajah Bayu sudah mulai melunak, tidak seperti saat pertama ustad Zaki datang.
"Ketika kita bertemu masalah dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara, mau kehilangan harapan dan jatuh, atau menggunakannya sebagai tantangan untuk menemukan kekuatan hati kita."
"Menangis, merelakan, mengalah, berjuang, memaafkan, belajar, Move on adalah sebuah proses dalam hidup, Semua bisa berakhir, orang berubah asal kita selalu sabar. Dan kamu harus tahu, hidup akan terus berjalan. Jadi jangan pernah stak di satu tempat yang sama."
Ustad Zaki kembali dia, ia kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya,
"Sudah siang, sepertinya aku harus pergi sekarang." ia pun segera berdiri dari duduknya, "Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" jawabnya lirih tapi ustad Zaki masih bisa mendengarnya, ia pun tersenyum lalu benar-benar pergi.
Bayu tertegun di tempatnya, menatap kepergian ustad Zaki. Ia masih tidak percaya pria yang seharusnya menjadi saingannya bisa menasehatinya begitu banyak.
***
Kini Zahra tengah menyandarkan kepalanya di atas pangkuan sang suami sambil menonton sinetron kesukaannya.
"Mas, aku lihat sejak pulang tadi mas terlihat sumringah banget, ada apa?"
"Nggak pa pa, oh iya mas belum cerita ya!?"
"Cerita apa?"
"Tadi mas ketemu Bayu!"
Ucapan ustad Zaki seketika berhasil membuat Zahra terbangun dari pangkuan ustad Zaki,
"Ngapain?"
"Gitu banget dek, reaksinya!?"
__ADS_1
Zahra segera menyadarinya jika reaksinya terlalu berlebihan,
"Eng_gak, Zahra cuma kaget aja
Kok bisa?" Zahra segera kembali ke posisinya, ia pura-pura fokus pada acara televisi meskipun kini ia begitu penasaran dengan kelanjutan cerita sang suami.
"Bayu ke kafe tadi!"
"Oh, terus?"
"Terus_!" ustad Zaki sengaja memberi jeda ucapanya.
"Terus apa?"
"Terus aku cemburu sama_!" sekali lagi ustad Zaki memberi jeda pada ucapanya.
"Sama Bayu?"
"Bukan!"
"Lalu?"
"Sama mas Al!"
"Mas Al?"
"Iya, sudah satu jam kamu sibuk memandangi wajahnya terus, lalu kapan dong memandang wajah mas?"
Astaghfirullah hal azim, masak cemburu sama mas Al sih ...
"Mau aku pandang?"
"Hemmm!"
Zahra pun kembali bangun dari tidurnya, ia segera menakup wajah sang suami dengan kedua tangannya hingga menghadap ke arahnya.
"Kurang dekat!"
"Tapi mas ustad nglarang aku dekat-dekat kalau lihat tv!?" protes Zahra.
"Tapi mas tidak bikin sakit mata dek!"
"Baiklah!" Zahra pun mendekatkan wajahnya hingga berjarak hanya sekitar sepuluh centi saja.
"Sekarang bagaimana?"
"Kurang dekat lagi!"
Zahra menuruti permintaan sang suami,
"Masih kurang!"
"Lagi!"
"Lagi, sedikit lagi!"
Cup seketika sang suami menarik tengkuknya hingga ia tidak bisa menarik kepalanya.
Aku kena modul lagi ....
Dan akhirnya ciuman itu berlanjut menjadi ciuman panas, dan berakhirnya di ranjang.
***
__ADS_1
"Kenapa cemberut dek?" tanya sang suami saat melihat Zahra tengah duduk di atas tempat tidur dengan bibir mengerucut, tubuhnya hanya berbalut selimut tebal,
Saat ini matahari sudah setinggi orang dewasa, tapi Zahra masih terlihat enggan turun dari tempat tidur, ia hanya turun saat mandi dan sholat subuh tadi pagi tapi lagi-lagi ia selalu berakhir di atas tempat tidur gara-gara ulah suaminya itu.
"Kapan Zahra liburnya!?" keluhnya. sang suami pun segera duduk di sampingnya. "Sekarang kan libur dek, mas nggak akan ngijinin dek Zahra bolos loh ya, mas harus tetap sportif, kalau magang dek Zahra nggak bertanggung jawab, mas juga nggak bisa ngasih nilai bagus."
"Apaan sih, bukan libur itu yang Zahra maksud!"
"Lalu libur apa?"
"Liburrrrr, liburrrr ini!?" Zahra menunjuk tubuhnya yang bahkan tidak memakai sehelai benang pun,
"Kenapa? Dek Zahra nggak suka?"
"Suka sih, tapi_!"
"Tapi?"
"Sejak semalam, ini sudah yang ke empat kali mas Zahra keramasnya! Keterlaluan banget, kalau libur gini Zahra juga pengen jalan-jalan, masak terus di ranjang aja sih!" keluh Zahra, memang benar padahal ini masih jam sembilan pagi tapi bahkan mereka sudah mandi sebanyak empat kali gara-gara ulah suaminya.
Ustad Zaki tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Habis gimana dek, mas kelepasan!?"
"Issttttt!?"
***
Karena Zahra terus protes, akhrinya ustad Zaki mengajaknya jalan-jalan. Bukan tempat yang mahal atau yang mewah, tapi taman hiburan akhirnya menjadi tujuan mereka kali ini.
Zahra bak kelinci yang sudah lama tidak luar dari kandangnya, ia lari ke sana ke mari, mencoba banyak permainan dan juga berbagai macam kuliner.
"Dek, nggak capek?"
"Belum mas, Zahra belum coba yang itu, kita ke sana ya!" sekali lagi Zahra menarik tangan sang suami dan membawanya salah satu permainan.
Ini sudah lebih dari sepuluh permainan yang Zahra coba dan akhrinya ia benar-benar kelelahan dan menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dan duduk di sana.
"Dek, jangan duduk di sini, ayo kita duduk di kursi sana!" ajak ustad Zaki sambil menarik tangan Zahra tapi Zahra bahkan bergeming di tempatnya.
"Zahra nggak kuat mas, di sini aja ya!" ucapnya lagi.
"Baiklah!" Ustad Zaki pun ikut duduk di sampingnya menikmati indahnya malam di atas rerumputan hijau.
Hingga Zahra melihat seseorang bersama anak kecil yang tengah berlairan di tempat bermain anak.
"Mas!"
"Hmm?"
"Itu bukannya Bu Chusna!" ucap Zahra sambil menunjuk ke wanita itu.
"Iya! Itu sama anak kecil!"
"Iya, kita sapa yuk mas!" ajak Zahra, ia pun segera berdiri setelah merasa lebih segar lagi.
...Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengiklaskan...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...