
Kini gilirannya istirahat, biasanya jam istirahat di bagi menjadi dua sift. sift pertama jam dua belas sampai jam satu dan sift kedua jam satu sampai jam dua siang.
Kebetulan Zahra mendapat jatah sift yang ke dua, ia bergegas ke mushola untuk sholat.
Ternyata Weni juga mendapat sift yang sama dengannya. Ia mempercepat sholatnya dan segera mengejar Weni yang sudah selesai lebih dulu,
"Wen, tunggu!"
Weni pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zahra,
"Ada apa mbak Zahra?"
"Kamu mau ke mana? Beli cilok di depan yuk!" ajaknya.
"Kan di sini sudah di sediain makan mbak,"
"Ehhh, cilok depan enak loh. Ayo aku traktir deh!"
"Jangan deh mbak, mending menghemat mbak!"
Hehhh, susah banget bujuk Weni ...
"Ya udah, kalau kamu nggak mau, gimana kalau aku pinjem motornya!"
"Buat apa mbak? Katanya cilotnya cuma di depan!?"
"Kebetulan aku butuh ke minimarket yang di perempatan sana, kan kalau jalan bisa memakan waktu banyak!"
Weni tampak berpikir, "Tapi bukannya Ustad Zaki juga bawa motor mbak?"
"Tapi kan kamu tahu, kuncinya selalu di bawa, bentar aja. Janji nggak Sampek lima belas menit aku kembali, tak balekne utuh pokok!"
"Gimana ya mbak!?" tampak Weni ragu.
"Wes tak lah, nggak usah bingung. Ntar tak isikan bensinnya, tak belikan jajan juga, gimana?"
"Tapi janji ya mbak, jangan di bawa kemana-mana, aku takut sama ustad Zaki!?"
"Nggak usah takut, dia nggak akan marah!"
Weni hampir saja menyerahkan kunci motornya tapi tiba-tiba Heni datang menghampiri mereka,
"Zah, mau ke mana?" tanyanya.
"Mau ke minimarket depan, ada apa? Mau ikut?" tanya Zahra.
"Nggak, aku tuh cariin kamu di suruh sama ustad Zaki!?"
Ngapain lagi ....
"Ada apa?"
"Ya mana aku tahu, ke sana aja!"
"Bisa nanti nggak?"
"Di suruh sekarang, katanya penting!"
Ihhhh, gagal lagi dong. Padahal sudah nggak ada pak Dul, eh sekarang gantian singanya ....
"Nggak jadi Wen!" ucap Zahra sambil mengembalikan kunci motor milik Weni, Zahra pun berjalan cepat menuju ke ruangan ustad Zaki.
"Ada apa?" tanyanya begitu ia masuk.
"Waalaikum salam, dek!" sapa ustad Zaki sambil tersenyum.
"Assalamualaikum!?"
__ADS_1
Zahra berjalan cepat dan duduk tepat di depan meja kerja sang suami, tampak di depan sang suami begitu banyak berkas.
"Ada apa sih?"
"Tadi sudah lihat jam kan?"
"Sudah!?"
"Tahu, ini bukan jam kerja?"
"Tahu!"
"Trus, kenapa nggak nyusulin mas ke dalam?"
"Ngapain?"
Ustad Zaki pun segera berdiri dari duduknya, ia berjalan mengitari meja dan berhenti di samping Zahra, jongkok dan menyandarkan kedua tangannya di sisi kanan kiri Zahra hingga Zahra tidak bisa beranjak kemanapun,
"Nggak kangen sama mas?"
"Wajib ya kangennya?"
"Ya, begitulah!"
"Baiklah, kangen! Tapi Zahra masih ada urusan, boleh keluar kan?" Zahra hendak berdiri tapi segera di tahan oleh tangan ustad Zaki.
"Nggak boleh dek, kalau mau ke mana-mana panggil mas, mas akan antar."
Kayak tahana kota aja, kemana-mana di antar ..., batin Zahra kesal.
"Tapi Zahra mau makan siang!"
Ustad Zaki pun langsung menarik tangan Zahra, mengajaknya duduk di sofa,
"Mas sudah siapin makanan buat dek Zahra, ayo makan!"
"Mas ustad juga belum makan siang?" tanya Zahra saat melihat makanan itu bahkan belum di sentuh sama sekali.
"Kan nunguin dek Zahra!"
"Ihhhh, jadi terharu aku!?" ucap Zahra sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangan, tapi tiba-tiba sebutir cilok melesat ke mulutnya.
Perlahan mengunyah, "Inih ...., Inih ....!"
"Sudah makan dulu, jangan bicara. Baca basmallah dulu!" ucap ustad Zaki sambil menyiapkan cilot lagi ke dalam mulut Zahra.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Setelah membaca basmallah Zahra melanjutkan makannya sambil di suapi ustad Zaki.
"Kok tahu sih mas ustad kalau aku lagi pengen cilok?"
"Apa sih yang nggak mas tahu soal dek Zahra!?" ucap ustad Zaki penuh percaya diri.
"Yang semalam nggak faham!?" gerutu Zahra lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki.
"Faham, yang tadi pagi juga faham!" ucap ustad Zaki sambil mendekatkan wajahnya ke arah Zahra hingga hanya menyisakan bebera centi saja dari wajahnya. Bahkan Zahra pun mampu merasakan hembusan nafas sang suami, Zahra hanya bisa menelan Salivanya.
"Maksudnya?" tanya Zahra dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
"Mas nggak mau terlalu memanjakan dek Zahra, bukan karena mas nggak sayang sama dek Zahra tapi mas merasa memang belum waktunya dek Zahra punya semua itu, ingat kisahnya Tsa'labah nggak?"
"Enggak! Yang mana itu?" Tanya Zahra dan ustad Zaki pun memilih berpindah tempat duduk, ia duduk tepat di samping sang istri dan mulai bercerita.
"Dahulu kala, hiduplah Tsa'labah yang merupakan bagian dari kaum Anshar. Ia hidup dalam jeratan kemiskinan. Meski dalam keadaan miskin, Tsa'labah dikenal sebagai orang yang tetap beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah saw."
"Lalu?" tampak Zahra begitu tertarik mendengar cerita dari sang suami.
__ADS_1
"Hingga suatu ketika, saat Tsa'labah mulai muak dengan kemiskinan yang dialaminya, ia membujuk Rasulullah agar mendoakannya menjadi orang yang kaya raya. Tsa'labah berkata, Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar Allah melimpahkan harta yang banyak."
"Trus sama rasulullah di kasih?" tanya Zahra lagi dan ustad Zaki pun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kan doa Rasulullah paling mujabah!"
"Rasul menjawab, Wahai Tsa’labah, sesungguhnya sedikit jasa sesuatu yang bisa engkau syukuri jauh lebih baik daripada yang banyak namun tidak mampu engkau syukuri. Bukankah engkau memiliki suri tauladan dari Rasulullah (yang tidak hidup dengan harta berlimpah?) Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, jika aku menginginkan gunung berubah menjadi emas dan perak maka semua itu akan terjadi."
"Terus Tsa'labah masih ngotot?" tanya Zahra yang semakin penasaran saja.
"Mendapat jawaban demikian, Tsa’labah kecewa, namun tetap tidak mengurungkan niatnya. Tsa’labah terus mendesak Rasulullah agar mendoakannya menjadi orang kaya."
"Sudah aku duga, pasti begitu! Pasti Rasulullah nggak ngasih kan?"
"Rasulullah paham benar bahwa seseorang bisa lalai karena harta dunia sehingga jika Rasul mendoakannya, ditakutkan Tsa’labah akan ingkar kepada Allah.
Tsa’labah yang saat itu sangat berambisi menjadi orang kaya akhirnya mampu meluluhkan hati Rasulullah dengan sebuah janji bahwa ia akan tetap istikamah di jalan Allah."
"Jadi, di doakan?"
Ustad Zaki pun menganggukkan kepalanya,
"Iya! Akhirnya Rasulullah saw mendoakannya dan dimilikilah seekor kambing oleh Tsa’labah."
"Kok cuma seekor kambing? Kalau kambing aja bapak juga punya!" protes Zahra.
"Di lanjut ngajak ceritanya?" tanya ustad Zaki saat Zahra memotong ceritanya.
"Iya, iya! Zahra diam!"
"Hari demi hari kemudian dilalui Tsa’labah dengan kesibukan merawat dan mengembangbiakkan kambingnya. Berkat keuletannya, kambingnya pun bertambah banyak hingga membuat kota Madinah sesak dipenuhi kambing. Menyikapi keadaan tersebut, Tsa’labah memindahkan tempat gembala kambing-kambingnya di sebuah lembah luar kota Madinah.
Tsa’labah yang semakin sibuk mengurus kambing-kambingnya akhirnya perlahan mulai meninggalkan salat. Bahkan ketika salah seorang utusan Rasulullah mendatanginya untuk meminta zakat dari Tsa’labah, ia menolaknya dengan dalih zakat hanyalah pajak belaka."
Kok gitu sih? Pasti dia dapat balasan kan dari Allah?" tanya Zahra lagi dan ustad Zaki pun mengangukkan kepalanya.
"Utusan Rasulullah itu lalu menyampaikan apa yang dikatakan Tsa’labah hingga membuat Rasulullah saw geram. Rasul berkata, Sungguh celaka Tsa’labah. Sungguh celaka dia."
"Lalu beneran celaka?"
Ustad Zaki pun menganggukkan kepalanya, " Kisah itu menjadi penyebab turunnya surah at-Taubah ayat 75-77 yang berisi sindiran kepada orang-orang yang sebelumnya berikrar akan menyedekahkan sebagian hartanya jika dikaruniai oleh Allah berupa kekayaan, tetapi setelah diberi kekayaan mereka justru menjadi kikir dan berpaling. Karena sikap seperti itu, Allah kemudian menanamkan kemunafikan pada hati mereka sampai tiba ajal sebab mereka telah memungkiri ikrar dan berdusta."
Ustad Zaki pun mengakhiri ceritanya dan kembali menatap Zahra yang tercengang dengan cerita dari sang suami,
"Sekarang bagaimana? Masih mau minta mobil dan kartu ATM?"
Zahra dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Nggak deh, nanti kalau Zahra mas kasih semuanya trus jadi sombong, gimana?"
"Mas pasti akan memarahi mas sendiri dan meminta ampunan atas dosa mas!"
"Kenapa mas ustad sendiri yang di marahi?"
"Karena mas yang sudah tidak pecus mendidik istri mas hingga menjadikan dia sombong dan lalai dengan agamanya!"
Masyaallah ademnya ...., Zahra semakin kagum dengan kepribadian suaminya itu.
visual Zahra kalau pakek hijab ya
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...