Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Mggak marah


__ADS_3

Bu Narsih menepuk keningnya, gara-gara melihat kamar zahra yang berantakan ia sampai lupa dengan tujuan utamanya masuk ke kamar Zahra,


"Ibuk lali, yo wes lah, nanti biar di cek bapakmu! Oh iya ponselmu bunyi terus, cepetan lihat sana siapa tahu ada yang penting!"


"Iyo buk!"


Zahra pun berjalan cepat ke kamarnya. Ia lupa sudah sedari siang tidak mengecek hp nya. Ia melempar begitu saja handuk yang berada di tangannya dan segera melompat ke tempat tidur. Ia duduk di sana sambil melihat ponselnya.


"Ya ampun, banyak sekali panggilan dari mas ustad!?" gumamnya sambil menscroll layar ponselnya.


Selain melakukan panggilan telpon. rupanya ustad zaki juga mengirim banyak pesan untuk Zahra, bahkan di media sosialnya.


//Dek kamu marah ya sama mas?//


//Dek, bales dong pesan mas//


//Atau kalau enggak jawab telpon mas//


//Dek, beneran marah ya sama mas?//


Dan masih banyak lagi pesan serupa yang di kirim oleh ustad Zaki.


Zahra malah tersenyum-senyum sendiri melihat betapa paniknya sang suami, ia tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya sang suami saat ini gara-gara kejadian tadi siang.


"Apa aku biarin aja nggak aku angkat ya, coba deh mau lihat bagaimana usahanya."


Zahra sengaja meletakan ponselnya agak jauh darinya, ia segera melaksanakan sholat magrib dan di lanjut sholat isya', sengaja mengubah mode silent pada ponselnya.


Dan benar saja di tempat lain tampak ustad Zaki terus mondar mandir, sepanjang hari ia hanya sibuk menghubungi sang istri,


"Gimana Zak, tetap belum bisa?" tanya ummi yang sedari tadi mengamati putranya yang tampak gelisah.


"Belum ummi, apa Zaki pulang sekarang aja ya ummi?" tanya ustad Zaki meminta pendapat umminya. Ia benar-benar tidak bisa tenang sebelum sang istri menjawab telponnya atau kalau tidak membalas pesannya.


Ummi pun mengusap punggung ustad Zaki mencoba memberi ketenangan pada putranya itu,


"Coba deh, hubungi sekali lagi siapa tahu mau angkat!"


"Sudah berkali-kali ummi, tapi tetap saja nggak mau angkat." ucap ustad Zaki sambil menunjukan layar ponselnya, di sana sudah terlihat berapa banyak ia melakukan panggilan.


"Kamu juga aneh-aneh Zak, coba kalau kamu kasih tahu dari awal, Zahra pasti nggak akan marah sama kamu, apalagi ini tahunya dari orang lain, kalau ummi jadi Zahra ummi juga akan marah!"


"Ummi kok malah bikin Zaki panik sih!?" gerutu ustad Zaki, pikirannya sudah kemana-mana, ia tidak bisa membayangkan jika sampai zahra mendiamkannya gara-gara hal itu.


"Coba deh kamu hubungi Bu Narsih, siapa tahu emang Zahra lagi sibuk trus nggak sempat angkat telpon kamu!" usul ummi lagi.


"Ummi benar!" tampak ustad Zaki kembali bersemangat, ia sampai tidak kepikiran hal itu. Padahal selain orang tau zahra, ia juga punya nomor kontak milik orang-orang terdekat Zahra seperti nur atau Weni.


Ustad Zaki pun segera melakukan apa yang di sarankan oleh umminya, ia segera menghubungi ibu mertua nya.


"Hallo, assalamualaikum Bu." sapa ustad Zaki.


"Waalaikum salam, siapa ya?" sepertinya nomor ustad Zaki belum tersimpan di kontak hp milik Bu Narsih. Karena memang ponsel milik Bu Narsih belum lama ini kebeli.


"Ini Zaki, buk!" ustad Zaki menjelaskan.


"Ohhh nak Zaki, ada apa nak?" tidak biasanya menantunya itu menelponnya.


"Apa dek Zahra nya ada buk?"


"Zahra? Ada!"


"Bisa minta tolong ya buk, tolong kasih ponselnya ke dek Zahra, Zaki mau bicara sebentar sama dek Zahra!"


"Hahh, kenapa? Apa kalian berdua ada masalah?"


"Hanya kesalah pahaman sedikit buk!"


"Baiklah, sebentar ya!"


Bu Narsih yang baru saja akan pergi tidur segera bangun kembali dan menuju ke kamar Zahra,

__ADS_1


"Zah, Zah ..., sudah tidur belum?" tidak ada sahutan dari dalam, meski Bu Narsih sudah memanggilnya beberapa kali.


Akhirnya Bu Narsih pun memutuskan untuk membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu,


"Ampuuuuun, wes molor bak'e!" gumam Bu Narsih.


Ia pun mendekati Zahra dan menggoyang tubuh putrinya itu agar bangun,


"Zah, zah, bangun. ada telpon ini!"


"Ehmmm?" tampak Zahra begitu malas untuk membuka mata,


"Ada telpon!"


"Suruh telpon besok aja buk!?" jawab Zahra dengan malas, ia malah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh kepala Zahra.


"Ampun deh anak ini!?" keluh Bu Narsih, ia pun kembali mendekatkan benda pipih itu ke daun telinganya,


"Nak Zaki!"


"Iya, bagaimana buk?"


"Maaf, Zahra nya sudah tidur. Tahu sendiri kan kalau terlanjut tidur susah di bangunin, Pye kalau besok saja nak Zaki telponnya!"


"Baiklah Bu, kalau begitu Zaki telpon besok saja, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Zaki pun segera mematikan sambungan telponnya,


"Bagaimana Zak?" tanya ummi yang masih menungguinya.


"Dek Zahra nya sudah tidur, ummi!"


"Ya sudah, jangan di pakai. Sekarang kan juga sudah malam, nggak akan ada kendaraan kalau malam-malam gini, di lihat dulu besok siapa tahu Zahra mau angkat telpon kamu!"


"Iya ummi, kalau gitu Zaki istirahat dulu!"


***


Zahra sudah siap dengan penampilan magangnya, seperti biasa ia menghampiri Bu Narsih yang sibuk di dapur, tangannya selalu saja cekatan untuk mengambil apapun yang di masak sang ibu dan di masukkan ke dalam mulutnya.


"Aduh panas, panas ...!" keluhnya sambil menjulurkan lidahnya yang kepanasan dan mengibas-kibaskan tangannya di depan lidahnya.


Bu Narsih hanya menoleh dan tersenyum, "Sudah tahu tahunya masih panas, langsung di lebokne cangkem!"


"Koyok wes adem e buk!" ucap Zahra yang masih berusaha mendinginkan lidahnya.


"Gimana, sudah telpon suamimu?" tanya Bu Narsih.


Astaghfirullah hal azim, aku Sampek lupa ..., batin Zahra sambil menepuk keningnya.


Zahra pun segera berlari kembali ke kamarnya, ia lupa belum mengubah mode silent nya hingga ia tidak mendengar telpon sama sekali,


"Ya Allah, Sampek seakeh Iki!?" gumamnya, ia segera duduk dan melakukan panggilan pada sang suami.


Di tempat lain, ustad Zaki tampak sudah mulai berkemas dan bersiap untuk pulang.


"Kamu yakin Zak? Bukankah seminarnya masih belum selesai?" tanya ummi mengingatkan, acaranya masih tiga hari lagi.


"Yakin ummi, dek Zahra sampai sekarang nggak mau jawab telpon Zaki, ummi!"


Kring kriiiiiing kriiiiiing kriiiiiing


Tiba-tiba ponsel ustad Zaki berdering, ustad Zaki menatap malas pada ponselnya yang masih berada di atas meja,


"Coba di lihat Zak, siapa tahu Zahra!" ucap ummi dan ustad Zaki pun menghentikan mengemasi barang-barang nya, ia menghampiri ponselnya.


Senyumnya langsung mengembang begitu melihat nama yang tertera di sana,


"Siapa Zak?" tanya ummi lagi DNA ustad Zaki pun menoleh sambil tersenyum,

__ADS_1


"Dek Zahra, ummi!"


Ummi pun tersenyum lega, "Ya sudah, ummi keluar dulu ya!"


Ummi pun akhrinya meninggalkan kamar ustad Zaki, ustad Zaki dengan begitu bersemangat menggeser tombol terima,


"Assalamualaikum, dek. Dek Zahra nggak pa pa kan?" tanyanya begitu tergesa-gesa.


"Waalaikum salam, apaan sih mas. Heboh banget!" jawab Zahra dengan santainya.


"Dek, mas nggak maksud bohongi dek Zahra sungguh, mas memang nggak cerita sama dek Zahra bukan karena mas nggak mau cerita, memang waktunya saja belum tepat."


"Zahra tahu!"


Setelah penjelasan panjang lebar dari sang suami, Zahra hanya menanggapinya dengan begitu santai membuat ustad Zaki tercengang,


"Dek Zahra serius nggak marah sama mas?"


Zahra menggelengkan kepalanya, "Enggak!"


"Kenapa?" ustad Zaki malah terlihat bingung melihat wajah tenang sang istri.


"Ya nggak pa pa, memang wajib ya Zahra marah?"


"Ya enggak!"


"Trus?"


"Trus kenapa tidak angkat telpon mas? Tidak bales pesan mas?"


"He ....!" Zahra malah tersenyum dan menunjukkan gigi ratanya, "Pengen menguji mas ustad aja."


Hehhhh ....


Ustad Zaki tampak menghela nafas lega,


"Lain kali jangan lagi ya, dek Zahra sudah berhasil membuat mas khawatir setengah mati!"


"Iya!" Zahra mengerutkan keningnya begitu melihat tas ransel yang berada di belakang sang suami, "Mas mau pulang hari ini ya?"


Ustad Zaki pun ikut menoleh ke belakang dan tersenyum, "Tadinya iya, tapi sekarang enggak!"


"Kenapa?"


"Karena dek Zahra nggak marah lagi."


"Tapi aku kan kangen!?"


"Biar kangennya tambah banyak kalau gitu!"


"Yo wes lah, tak tahanne, aku mau berangkat. Walaupun aku istrinya mas ustad pasti nggak boleh kan Zahra bolos magang?"


"Nah itu tahu!"


"Kejam," keluh Zahra, "Pak Dul dah nunggu di depan, Zahra berangkat dulu, assalamualaikum!"


"Ciumnya mana?" tanya ustad Zaki sambil mendekatkan bibirnya ke layar ponsel.


"Di tunggu lusa aja, assalamualaikum!"


Zahra segera mematikan sambungan telpon video nya bahkan sebelum sempat sang suami menjawab salamnya.


..."Dalam hidup ini, jika kamu tak mampu melihat hal yang salah, kamu tak akan mampu mengetahui bagaimana cara membuatnya benar.”...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2