
Ustadzah Nafis sengaja menghindari dari Zahra dan ustad Zaki, ia tidak mau membuat Zahra merasa curiga dengan perasaannya. Perasaannya biarlah menjadi perasaannya dan ia tidak ingin perasaanya itu menjadi beban bagi orang lain.
Ustadzah Nafis memilih menuju ke balkon kelas, mengusap sisa air matanya yang gagal ia tahan.
Rupanya ustad Farid melihat pertemuan mereka, siapa yang tidak tahu kisah antara ustad Zaki dan ustadzah Nafis . Hampir semua pengelola pesantren tahu dan sebagian santri pun juga ada yaang tahu, atau lebih tepatnya menerka-nerka dari beberapa pembicaraan para pengurus pesantren yang tidak sengaja mereka dengar.
"Assalamualaikum, ustadzah!?" sapa.ustad Farid dan dengan cepat ustadzah Nafis menghapus air matanya, ia segera memasang senyum pada ustad Farid.
"Waalaikum salam, ustad Farid. Ustad Farid belum masuk kelas?" tanya ustadzah Nafis segera mengalihkan perhatian.
"Sudah tadi, ini ambil kapur!?" benar saja, saat ini ustad Farid tengah membawa beberapa batang kapur di tangannya. "Ustadzah tidak ada kelas?" tanyanya balik kemudian.
"Kebetulan hanya mengerjakan beberapa berkas saja."
Mereka pun sejenak saling diam, lalu kembali ustad Farid memulai bicara,
"Ustadzah, tadi tidak sengaja saya melihat ustadzah bersama ustad Zaki dan_!" ustad Farid tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Saya tidak pa pa ustad, sungguh. Mungkin Allah punya rencana lain yang lebih baik buat saya ustad, doakan saja! Biarkan udara Zaki bahagia dengan jodohnya dan saya tengah menanti jodoh yang lain!"
"Amiin, saya doakan ustadzah. Jika memang ustadzah merasa hari ini tidak bisa masuk, biar nanti saya yang mengatakan pada lainnya, sebaiknya ustadzah istirahat di rumah dulu."
"Tidak pa pa ustad, insyaallah semua akan baik-baik saja. Kalau begitu saya pamit ke ruang TU dulu, assalamualaikum!?"
"Waalaikum salam!"
Akhirnya ustadzah Nafis meninggalkan ustad Farid yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.
"Kasihan sekali ustadzah Nafis, sudah baik, Sholehah, lembut, kurang apa coba. Hehhhh, emang ya jodoh tidak ada yang bisa tebak!" gumam ustad Farid sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
***
Sore ini di rumah ustadzah Nafis.
Kyai Ramli rupanya sudah kembali dari luar kota, ia mengetahui jika ustad Zaki pulang dengan istrinya.
Sebagai orang tua, ia cukup khawatir dengan putrinya. Ia tahu bagaimana selama ini putrinya menanti.
"Abi panggil Nafis?" tanya ustadzah Nafis yang baru saja menuruni tangga, ia menghampiri abinya yang tengah duduk di ruang keluarga dengan tangan yang tengah memegang sebuah kitab.
"Duduk nak, Abi ingin bicara!"
__ADS_1
Ustadzah Nafis pun akhirnya memilih duduk di sofa kecil yang berada tepat di depan abinya, mereka hanya terpisahkan sebuah meja.
"Ada apa bi?" tanya ustadzah Nafis.
"Kyai Ramli pun segera meletakkan kitabnya di atas meja, ia menatap putrinya itu.
"Nafis, kamu tahu kalau ustad Zaki datang?"
"Tahu Abi!"
"Kamu tahu kalau dia_!" kyai Ramli menghentikan ucapannya, ia bingung harus merangkai bagaimana lagi untuk bertanya pada putrinya.
"Nafis tahu Abi!" ustadzah Nafis tahu apa yang ingin abinya tanyakan.
"Yang sabar ya nak, insyaallah Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik buat kamu."
"Aamiin Abi."
"Jangan terlalu menyesali apapun itu, anggap saja semua yang sudah terjadi sebagai pelajaran agar kelak tidak akan terulang lagi kesalahan yang sama. Mungkin dengan begini Allah ingin menegur kita, sebaik apapun kita berencana, tetaplah Dia yang maha menentukan. Kita sebagai makluk hanya bisa berikhtiar dan berencana, tapi yang harus selalu kita ingat bahwa segala keputusan mutlak milik Allah."
"Iya Abi, Nafis mengerti. Doakan saja ya bi, Nafis bisa melalui semuanya dengan kesabaran dan keimanan!"
"Amin, Abi sungguh bersyukur dengan sikap dewasa yang kamu miliki, Abi bangga padamu, nak!"
***
Di kamar ustad Zaki dan Zahra.
Tampak Zahra begitu kesenengan mendapatkan tanda tangan dari ustadzah Nafis, entah sudah berapa kali ia mengambil foto dan mengunggahnya di berbagai media sosial dengan caption yang berbeda-beda.
"Begitu banget dek!?" ustad Zaki yang sedari tadi berada di sampingnya benar-benar merasa terabaikan.
"Zahra pokoknya seneng banget mas, rasanya bener-bener kayak mimpi bisa ketemu langsung sama.ustadzah Nafis. Pokoknya Zahra besok pengen ketemu ustadzah Nafis lagi, dia orangnya kayaknya sangat baik!?" ucap Zahra panjang lebar dan ustadz Zaki hanya bisa tersenyum.
Tapi kemudian ustad Zaki menarik buku itu saat sudah cukup larut,
"Cukup dek, sudah malam!" ucap ustad Zaki sambil merampas buku milik Zahra dan meletakkannya di atas meja.
"Tapi mas_!"
"Besok lagi dek!" ucapnya sambil menarik pinggang Zahra hingga sama sekali tidak menyisakan jarak di antara mereka,
__ADS_1
"Mas kangen!?" bisiknya di telinga Zahra membuat tubuh Zahra meremang.
Ustad Zaki menggeser bibirnya dari daun telinga Zahra perlahan menuju ke bibir Zahra dan melakukan Lum*tan di sana, menggigit bibir bawah Zahra agar sedikit terbuka, dan langsung mengabsen setiap inci di dalam mulut Zahra.
Ciuman yang awalnya hanya bisa saja itu akhirnya menjadi ciuman yang begitu menuntut hingga tanpa sadar kini tubuh Zahra sudah berada di bawah kungkungan tubuh sang suami.
Dan malam ini ustad Zaki benar-benar tidak bisa menahan lagi, setelah beberapa hari tidak menahannya, akhirnya ia benar-benar kelepasan.
Pagi ini, tepat setelah sholat shubuh ustad Zaki buru-buru pulang. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
"Assalamualaikum!?" ucap ustad Zaki yang membuat pintu kamarnya dengan sangat tidak sabar.
Zahra yang tengah melihat mukenanya sedikit terkejut,
"Waalaikum salam, ada apa sih mas? Kesusu men (Terburu-buru sekali)!"
Ustad Zaki segera menghampiri Zahra, ia ikut berjongkok di lantai dan memegang kedua bahu Zahra,
"Dek, dek Zahra nggak pa pa kan? Nggak merasa ada yang aneh gitu kan?"
"Enggak mas, memang kenapa sih?"
"Misalnya nyeri gitu? Enggak?" ustad Zaki bertanya sambil menggelengkan kepalanya sendiri seperti menyuruh Zahra untuk melakukan hal yang sama.
"Enggak mas, temenan (Sunggu)!"
"Alhamdulillah!?" ustad Zaki mengusap dadanya lega.
"Ada apa sih mas?" tanya Zahra bingung.
"Nggak pa pa, sudah mas ambilkan susu panas dulu ya!?" ustad Zaki pun kembali berdiri, ia segera keluar dari kamarnya.
Memang tingkah ustad Zaki akhir-akhir ini cukup aneh,
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...