Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Nggak peka


__ADS_3

Kedatangan ustad Zaki, Zahra dan Imron rupanya sudah langsung di sambut oleh Bu Narsih dan pak Warsi, rupanya Imron sudah menceritakan semuanya lewat telpon pada kedua orang tuanya itu.


Setelah menurunkan mereka, pak Abdul pun langsung berpamitan untuk pulang.


Kini mereka sudah duduk di rumah tamu, Bu Narsih juga sudah menyiapkan minuman untuk mereka,


"Maafkan saya pak, buk sudah membuat kalian cemas!?" ustad Zaki terlihat begitu menyesal.


"Tidak nak, justru kami berterimakasih karena lagi-lagi nak Zaki sudah menjaga Zahra dengan baik!"


"Itu sudah menjadi tugas Zaki, pak buk!"


"Lalu bagaimana sekarang? Apa semuanya sudah baik-baik saja!"


"Insyaallah, semoga saja mas Anwar terbuka hatinya!"


"Semoga!"


Setelah larut akhirnya kedua orang taun Zahra dan Imron pun berpamitan untuk pulang, mereka sengaja pulang untuk memberi kesempatan pada putri dan menantunya saling melepas rindu.


Kini di rumah itu hanya tinggal Zahra dan ustad Zaki.


Zahra segera membawa gelas kotor ke dapur setelah orang tuanya pergi.


"Dek,"


Rupanya ustad Zaki sudah mengikutinya di belakang, ia segera memeluk tubuh istrinya dari belakangan,


"Mas, lepasin nggak Zahra?"


Bukannya melepaskan pelukannya, ustad Zaki malah menyandarkan dagunya di bahu Zahra,


"Mas merindukanmu!?"


Zahra pun menghentikan kegiatannya, ia segara mematikan kram dan mengelap tangannya yang basah dengan handuk kecil,


"Mas, Zahra belum benar-benar memaafkan mas ustad ya!?"


"Memang dek Zahra marah sama mas?" tanya ustad Zaki dengan nada manjanya.


"Iya!?"

__ADS_1


"Tapi kayaknya enggak!"


"Kenapa mas ustad yang ngeyel, yang marah Zahra!" ucap Zahra sambil melepaskan tangan ustad Zaki yang berada di pinggang Zahra,


Zahra pun dengan cepat berbalik hingga kini ia bisa menatap sang suami, ia mendongakkan kepalanya agar bisa menjangkau wajah sang suami, kedua tangannya juga berkacak pinggang,


"Jangan ganggu Zahra, mengerti!" ucapnya sambil menajamkan matanya, "Zahra mau tidur nyenyak, kalau mau tidur di kamar sebelah saja!"


"Serius?" tanya ustad Zaki sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ya!" jawab Zahra dengan begitu yakin, "Husss Husss Husss!" Zahra mengibas-kibaskan tangannya hingga membuat ustad Zaki menggeser tubuhnya memberi jalan pada Zahra untuk lewat.


Zahra pun akhirnya berlalu dari tempatnya menuju ke kamar,


"Emang dia pikir aku akan merindukannya, enggan ya. Dia yang sudah buat aku kesal, kenapa juga dekat-dekat sama si Imah, bikin kesal aja, sekali-kali harus di kasih pelajaran tuh orang. Memang akan ada asap kalau nggak ada api!?" gerutu Zahra sambil menutup kembali pintu kamarnya, ia segera naik ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Ustad Zaki hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan labil sang istri.


Ia pun akhirnya melanjutkan pekerjaan sang istri yang tertunda dan segera mematikan lampu dapur, seperti yang di minta istrinya akhirnya ia memutuskan untuk tidur di kamar sebelah.


Zahra yang sudah berada di bawah selimut tampak beberapa kali membuka dan menutup selimutnya,


"Dia beneran nggak ke sini?" gumamnya sambil menatap ke arah jam dinding, ini sudah lebih dari satu jam tapi suaminya itu tidak juga menghampirinya.


"Dia keterlaluan! Kalau aku bilang enggak itu artinya iya!?"


Di kamar lain, ustad Zaki tengah merebahkan tubuhnya, ia juga sudah menutup tubuhnya dengan selimut, wajahnya tampan tenang dan memandang jam dinding, seperti tengah menunggu sesuatu.


"Sekarang saatnya, satu_, dua_" ustad Zaki mengacungkan jarinya tengah menghitung sesuatu, hingga tiga jari ya sudah berdiri sempurna, "Ti_, ga_!"


Dengan cepat ustad Zaki memejamkan matanya,


Ceklek


Suara pintu terbuka, dan benar saja Zahra berdiri di balik pintu itu,


"Mas, mas ustad!" panggil Zahra pelan, "Sudah tidur ya?"


Zahra pun perlahan menutup kembali pintunya dan berjalan mendekati tempat tidur, ia begitu berhati-hati naik ke tempat tidur dan melambai-lambaikan tangannya di atas wajah ustad Zaki, memastikan jika pria itu benar-benar sudah tidur.


"Dia benar-benar sudah tidur! Bagus deh!?" Zahra pun menarik selimut yang di pakai sang suami dan merebahkan tubuhnya di samping sang suami.

__ADS_1


Srekkkk


Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya,


"Mas ustaddddd!" teriak Zahra, "Bohong ya, pura-pura tidur ya?" protes Zahra.


"Siapa suruh diam-diam menyelinap di kamar mas!?" ucap ustad Zaki tanpa membuka matanya.


"Aku_, aku_, aku hanya nggak bisa tidur!"


"Yakin hanya itu?"


"Iya, memang apa lagi!?"


"Bagaimana kalau ini?" ustad Zaki segera mendekati wajah Zahra dan mengecup bibirnya membuat Zahra terpaku dibuatnya.


Kecupan ini akhirnya berubah menjadi ciuman, ciuman yang dalam antara dua insan yang saling meluapkan rasa rindunya.


Cup sebuah kecupan terakhir di kening mengakhirinya,


"Tidurlah, besok harus sekolah kan!?"


Kecewa, sedikit. Itulah yang di rasakan oleh Zahra. Ia sepertinya sudah mulai mengharapkan hal yang lebih dari pria itu tapi sepertinya sang suami selalu mengakhirinya lebih cepat.


Kenapa mas ustad tidak menyentuhku? Apa aku tidak cukup baik untuknya, atau aku tidak cukup pantas untuknya hingga dia tidak mau menyentuhku , semua pertanyaan itu hanya berkecamuk di dalam batinnya tanpa berani mengutarakannya.


Zahra kini hanya sibuk memandangi wajah ustad Zaki yang sudah memejamkan matanya, ia tidak berani meminta haknya tapi ia juga tidak bisa terus bertahan dalam keadaan yang seperti ini.


...



"Cintai itu sederhana ..., yang sulit itu kamu" @aidar_rofiqq...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2