
"Dek, cepetan bangun dek, ini sudah mau masuk waktu subuh." ustad Zaki sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang mengalung di lehernya, tangan kirinya tengah sibuk mengusap rambutnya yang basah. Sepertinya ini untuk pertama kalinya ustad Zaki bangun kepagian hingga ia tidak sempat sholat tahajjud karenanya.
Tapi nyatanya panggilan yang manis itu tidak di respon oleh Zahra, padahal kini sang istri tengah duduk di atas tempat tidur, Zahra sama sekali bergeming di tempatnya.
Ustad Zaki pun menghentikan kegiatannya, ia sepertinya baru menyadari sesuatu, dengan cepat ia menghampiri sang istri dan duduk di tepi tempat tidur.
Zahra menekuk kakinya dan menjadikan lututnya sebagai sandaran kepalanya untuk menutup wajahnya,
"Dek, kamu kenapa?" tanya ustad Zaki sambil mengusap tubuh Zahra yang bergetar, "Dek, kamu nangis ya?" tanyanya lagi memastikan.
"Hiks hiks hiks ...!" dan benar saja, Zahra menangis sambil mendongakkan kepalanya, kini air matanya sudah memenuhi wajahnya.
"Suttt suttt suttt, ada apa dek? Katakan sama mas, ada apa?" ustad Zaki semakin dibuat cemas karena tangis Zahra yang semakin menjadi.
"Hiks hiks hiks, itu_!" Zahra menunjuk sesuatu di tempat tidur dan ustad Zaki pun melihat ke arah telunjuk Zahra.
"Ada apa dek?"
"Itu ada darah, itu pasti punyaku yang sakit_, pasti punyaku robek, hiks hiks hiks!" Zahra terus menangis sambil bicara.
Ustad Zaki pun menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya,
"Memang sobek, dek!"
Srekkkk
Zahra mendorong tubuh ustad Zaki hingga pelukannya terlepas,
"Tuhh kan bener, gimana dong mas? Zahra kalau pipis gimana?"
"Dek, jangan panik. Memang begitu dek, tapi nggak pa pa!?"
"Nggak pa pa gimana, sobek mas!? Mas ustad mah enak nggak ngerasain sakitnya!" protes Zahra masih terus menangis.
Hehhhh ...
Ustad Zaki malah semakin bingung, ia hanya bisa menghela nafas dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Ya maaf deh,"
"Maafnya kok nggak ikhlas gitu!?"
Ya Allah ...., ustad Zaki hanya bisa mengelus dada.
"Ikhlas kok dek, mas minta maaf ya. Sebenarnya sobekan itu biasa dek kalau dek Zahra masih perawan. Semua wanita saat melakukan pertama kali juga mengalami sobekan seperti itu, tidak akan bermasalah saat dek Zahra pipis nanti, mungkin sedikit nyeri, tapi insyaallah nanti juga kembali normal." ustad Zaki berusaha menjelaskan pada istri kecilnya itu dengan bahasa yang mungkin bisa dimengerti oleh sang istri.
Dan benar saja, Zahra terdiam sepertinya dia mengerti dengan perkataan sang suami.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang mandi gihhh. Sudah azan, kita sholat berjamaah di rumah saja ya!"
Zahra pun mengangukkan kepalanya, ustad Zaki merasa lega sekarang akhirnya sang istri bisa mengerti. Selain lega, ia juga merasa bangga pada istrinya, meskipun ia tahu bagaimana pergaulan sang istri tapi nyatanya sang istri mampu menjaga kesuciannya sampai ia menikah.
"Mas pakai baju dulu ya!" ustad Zaki yang hanya memakai celana kolor pun segera beranjak dari duduknya dan hendak berjalan menuju ke lemari pakaian tapi,
"Hiks hiks hiks! Mas ustad!" Zahra kembali menangis dan memanggil namanya.
Langkanya pun kembali terhenti dan dengan cepat kembali menghampiri Zahra, ia kembali duduk di depan Zahra, tangannya dengan sigap memegang kedua bahu Zahra.
"Ada apa dek? Kenapa nangis lagi?"
"Itu!" kali ini Zahra menatap tubuh ustad Zaki yang terbuka, tubuh putihnya itu tampak berbagai luka cakaran dan gigitan di berbagai tempat. "Itu ulahku ya?" tanyanya dengan merasa bersalah.
Ustad Zaki pun tersenyum, "Tidak pa pa dek, ini tanda cinta namanya!"
"Tanda cinta apanya?!" Zahra tahu itu pasti terasa perih apalagi saat terkena air. Bahkan beberapa lukanya ada yang terbuka tidak hanya memar saja.
"Hanya mas yang bisa menggambarkan tanda cinta ini, kalau saja bisa, mas malah ingin memperlihatkan betapa indah karya dek Zahra ini ke semua orang!"
Zahra langsung melotot dibuatnya, "Awas ya sampai dilihatin ke orang-orang." Zahra tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia jika hal itu sampai terjadi.
"Enggak dek, kan mas cuma bilang seandainya. Ya sudah mas cari baju dulu ya."
Akhirnya ustad Zaki benar-benar beranjak juga, ia segera menuju ke lemari pakaian dan mencari kemejanya.
"Dek, kenapa?" rupanya ustad Zaki menyadari apa yang terjadi pada istrinya, setelah memakai kemejanya ia kembali menghampiri sang istri, ia sampai belum sempat mengancingkan kemejanya itu.
"Rasanya begini ya mas!?" ucap Zahra sambil menahan sakit.
"Begini bagaimana, dek?" tanya ustad Zaki memastikan.
"Sakit, aku sampai susah jalannya!"
Ustad Zaki tersenyum, "Baiklah, biar mas bantu ke kamar mandi ya!" ustad Zaki kembali menyingsing lengan kemejanya dan menggendong Zahra hingga ke kamar mandi, ia mendudukinya Zahra di atas kloset duduk,
"Biar mas bantu sekalian ya mandinya!"
Zahra menatap sang suami dengan penuh penasaran, "Hanya mandi aja kan?" tanyanya memastikan.
"Insyaallah!"
"Kok gitu sihhh!" protes Zahra.
"Berdoa saja dek, mas bisa tahan godaan!"
"Dasar mesum!?"
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, kan mas masih pria normal dek."
Akhrinya tidak ada pilihan lain selain membiarkan sang suami memandikannya. Beruntung kelakuan mesum sang suami tidak muncul,
"Sekarang, biar Zahra sendiri yang wudhu. Mas keluar gihhh!"
"Yakin?"
"Yakin mas!"
Ustad Zaki pun akhirnya meninggalkan Zahra sendiri di kamar mandi dengan meninggalkan handuk bersih.
Setelah selesai wudhu, Zahra pun berusaha untuk keluar kamar mandi sendiri, walaupun masih terasa sakit tapi tidak sesakit tadi.
"Sudah?" tanya ustad Zaki yang melihat Zahra keluar dari kamar mandi, ia juga sudah menyiapkan baju sekaligus mukena untuk sang istri. "Mau mas pakekin bajunya?"
"Nggak! Zahra bisa sendiri! Sudah sana mas keluar dulu!"
"Nggak usah lah dek, mas di sini aja ya!"
"Nggak bisa!?"
Akhirnya ustad Zaki menyerah, ia terpaksa keluar kamar dulu menungu hingga Zahra selesai ganti baju. Setelah selesai ganti baju, mereka pun sholat subuh berjamaah.
"Memang nggak pa pa mas ustad sholat subuh di rumah?" tanya Zahra setelah melipat kembali mukenanya.
"Insyaallah tidak pa pa, hari ini mas tidak akan kemana-mana sampai rasa nyeri yang dek Zahra rasakan sembuh, mas akan jagain dek Zahra!"
"Zahra kan sekolah!"
"Hari ini mas sudah minta ijin sama Bu Chusna kalau kamu kurang enak badan, jadi_!"
"Tapi aku lusa kan mau magang!"
"Nggak pa pa, cuma ijin satu hari kan!?"
Yessss ..., akhirnya bisa bolos gratis nggak pakek ditanya macam-macam ..., ternyata Zahra hanya acting saja keberatan bolos. Hal yang paling Zahra sukai adalah bolos sekolah dan sekarang mendapatkan kesempatannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1