Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 17


__ADS_3

Nur pun mengangukkan kepalanya dengan ragu, memang benar uang sejumlah itu bisa ia gunakan untuk naik angkot sampai tempat kos. Tapi yang ia inginkan bukan itu.


"Bagus!" ucap Wahid lagi sambil menarik tangan Nur dan meletakkan uang itu diatas telapak tangan Nur.


Flashback off


"Trus gimana kelanjutannya?" tanya Zahra penasaran saat Nur tiba-tiba menghentikan ceritanya begitu mendengar ponselnya berdering.


"Bentar, ada telpon."


Nur pun tidak mengindahkan ucapan Zahra saat melihat siapa yang tengah menghubunginya. Ternyata itu salah satu dosennya.


"Bentar ya, ini gawat."


Nur pun dengan cepat menjauh dari Zahra dan menerima telpon itu, tampak wajah Nur begitu serius mendengarkan seseorang yang tengah bicara di seberang sana.


Hingga beberapa menit kemudian barulah Nur kembali setalah mematikan sambungan telponnya,


"Ada apa?"


"Kayaknya aku harus kembali ke Tulung agung deh, Jah."


"Cepet banget? Katanya masih besok?"


"Dosen ku telpon Jah, katanya besok harus ke luar kota kalau bisa nanti sore diminta untuk masuk."


"Bolos aja lah Nur, cuma sekali aja."


"Masalahnya aku yang bawa tugas kelompok dan kebetulan kelompokku yang harus presentasi."


"Ihhh, cepet banget sih. Padahal masih pengen denger cerita banyak."


"Minggu depan aja ya, ya udah makasih sarapannya. Aku harus buru-buru berangkat. Assalamualaikum, nanti kalau telpon begitu sampai di Tulung agung."


"Waalaikum salam,"

__ADS_1


Nur pun segera meninggalkan Zahra, sedangkan Zahra hanya bisa pasrah dan membiarkan sahabatnya pergi.


Hehhhhh ....


Zahra menghela nafas, "Jadi begitu ya rasanya di kejar tugas." gunanya menyertai helaan nafas panjangnya itu. Pasalnya selama ia kuliah, suaminya selalu menuntunnya. Hingga ia jarang merasa tugasnya membebaninya.


"Assalamualaikum,"


Tiba-tiba budhe Yati muncul dari luar membuyarkan lamunan Zahra.


"Waalaikum salam, cepet banget budhe?" tanyanya sambil melirik tentengan kresek di tangan kanan budhe Yati.


"Iya kebetulan yang budhe cari dikit."


"Yang di cari dikit atau yang di ajak gosip dikiiiit?" goda Zahra membuat budhe Yati tergelak. Ia sudah tahu bagaimana kebiasaan ibu-ibu saat berkumpul.


"Ya gitu deh." jawab budhe malu-malu, "Nur kenapa buru-buru?" tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Dapat telpon dari dosennya budhe."


"Katanya libur, kok di telpon dosen?"


Karena Zahra tidak merespon ucapannya dengan baik, kemudian budhe Yati teringat oleh sesuatu,


"Oh iya budhe hampir lupa, di depan tadi ada Imron loh." ucapnya sambil menunjuk ke arah depan seolah jarinya bisa menembus tembok hingga sampai ke teras atau bahkan jalanan di depan.


"Ngapain mas Imron ke sini? Ini kan hari libur?"


"Nggak tahu, katanya kamu di suruh siap-siap sama Nur juga. Tapi nur nya kan sudah pergi,"


"Ya udah berarti aku sendiri," jawab Zahra mantap sambil berdiri dari duduknya dengan perlahan karena perutnya yang lumayan berisi cukup menghambat geraknya, dengan tangan yang berpegangan pada sandaran kursi dan meja ia mulai berdiri.


Saat hendak melangkahnya kakinya, ia kembali berbalik empat puluh derajat menatap budhe Yati, "Memang mau ke mana sih budhe? Budhe nggak tanya?"


"Budhe lupa tanya,"

__ADS_1


"Trus sekarang mas Imron nya ke mana?"


"Katanya mau beli solar sebentar."


Akhirnya Zahra pun memilih berlalu meninggalkan budhe Yati untuk siap-siap.


Hingga setengah jam kemudian, Zahra sudah siap di depan rumah dan mobil yang di kendarai Imron kembali terlihat, Imron turun dari mobil dan menghampiri Zahra.


"Bajunya nggak kurang gimana gitu, dek?" tanyanya begitu melihat penampilan Zahra yang hanya memakai long dress panjang sederhana.


"Emangnya kurang gimana, mas?"


"Ya gimana gitu? Itu kan gamis harian kamu untuk kuliah."


"La mas nggak ngomong kita mau ke mana," protes Zahra.


"Ya ada deh, nggak niat ganti nih?"


"Nggak ah ini aja, Zahra nyaman sama ini. Kainnya adem."


"Yo wes lah, terserah kamu. Ayo tak bantu masuk."


Akhirnya Zahra pun ikut saja kakak laki-lakinya itu, tapi Zahra di buat terkejut saat kedua orang tuanya juga ada di dalam mobil itu,


"Loohhh, bapak sama ibuk juga?" tanya Zahra saat masih di ambang pintu.


"Iyo nduk, ayo masuk. lungguh Karo ibuk," ucap Bu Narsih sambil menepuk bangku kosong di sampingnya sedangkan pak Warsi duduk di depan di samping kemudi.


Walaupun begitu penasaran, Zahra pun akhirnya setuju saja untuk masuk dan duduk di samping Bu Narsih hingga akhirnya mobil pun kembali melaju meninggalkan rumah Zahra dan ustad Zaki.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2