Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Aku Zahra


__ADS_3

Zahra memilih berdiam diri di kamarnya, ada yang hilang dalam dirinya. Berada jauh dari sang suami ternyata bukan ide yang bagus.


Hehhhh ....


Entah sudah berapa kali ia menghela nafas, merasakan dada yang sesak dan sulit bernafas.


"Ya Allah, gini amet. Bagaimana kalau memang anak itu milik mas ustad, aku harus apa?" gumamnya pelan menatap segerombolan anak ayam yang tengah digiring oleh induknya di bawah pohon rambutan yang tepat berada di belakang kamarnya, ia duduk di jendela kamarnya sambil menikmati suasana sore.


Hingga pintu kamar di ketuk dari luar membuat Zahra memalingkan wajahnya ke arah pintu, terdengar suara Nur di balik pintu itu.


"Zah, boleh nggak aku masuk?"


Seakan tidak sadar jika pintu itu tengah tertutup rapat, ia mengangukkan kepalanya. Tapi sejurus kemudian ia tersadar dan menyahut pertanyaan Nur.


"Masuk Nur!"


Setelah mendapat ijin dari pemilik kamar, Nur segera membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk, melihat Zahra yang duduk di cendela, ia pun menarik kursi plastik berwarna biru yang ada di depan meja belajar dan membawanya mendekat pada Zahra.


"Dari mana Nur?" tanya Zahra kemudian saat Nur sudah duduk di dekatnya, Nur tertarik untuk melihat apa yang tengah di perhatikan sahabatnya itu.


"Itu ayam bapak kamu? Banyak banget anaknya!?" Nur seperti sengaja mengalihkan pertanyaan Zahra dengan pertanyaan lain.


"Hmmm!"


"Bagus ya!?"


Zahra menoleh pada sahabatnya itu, dan berdecak pelan,


"Nur, aku tidak perlu di khawatirkan. Aku baik-baik saja, kalau kedatangan kamu ke sini karena merasa khawatir padaku, percayalah aku tidak semenyedihkan itu."


"Maksud kamu?" Nur mengerutkan keningnya, jika melihat sikap Zahra saat ini memang ada yang berbeda, ini bukan Zahra banget.


"Kamu pikir aku akan menyerah!?" Zahra menajamkan matanya mencoba memberi pengertian pada sahabatnya itu, "Nggak semudah itu, Nur! Ini Zahra, Nur. Zahra ini masih tetap Zahra yang sama seperti dulu, Zahra yang tidak gampang menyerah dengan keadaan. Aku tahu ada yang tidak beres!"


Nur sekarang faham dengan maksud sahabatnya itu,


"Tapi kenapa kamu pergi dari rumah?"


"Menurutmu?" Zahra malah balik bertanya.


Nur kembali mengerutkan keningnya, "Bukankah jika kamu jauh sama ustad Zaki, ustad Zaki akan merasa sendirian. Hanya kamu yang ia punya di sini, Zah!"


"Kamu salah Nur, coba pikirkan! Kalau aku tetap di rumah, aku nggak akan bisa berbuat apa-apa. Mas ustad pasti akan melarangku ke mana-mana,"


Nur tersenyum, "Jadi apa nih yang bisa aku bantu?"


"Cukup temani aku dan katakan pada ibu dan bapak jika beberapa hari ini kita ada pelajaran tambahan hingga harus pulang terlambat!"


"Beres!?"


****


Kini Zahra dan Nur sudah berada di depan sebuah kampus, ia tengah menunggu seseorang di sana.


"Kamu yakin Zah, dia temannya mbak Imah?" tanya Nur ragu.

__ADS_1


"Kata mbak Wati begitu!"


"Mbak Wati tahu dari mana?"


"Mbak Wati kan memang setiap hari bekerja di rumah kyai Rosyid, jadi dia tahu siapa saja teman Imah!"


Akhirnya Nur memilih diam dan mengikuti apapun yang dilakukan oleh Zahra, ia percaya Zahra tahu apa yang akan ia lakukan, mereka duduk di sebuah bangku yang ada di dekat gerbang masuk kampus.


Hingga akhirnya manik matanya menangkap sosok yang tidak asing tengah keluar dari gedung tempat Imah menuntut ilmu,


"Zah, Zah ...!" panggil Nur sambil menepuk bahu Zahra beberapa kali.


"Apa sih Nur?"


"Bukankah itu ustad Zaki?"


Mendengar pertanyaan Nur, Zahra pun segera menoleh ke arah tatapan Nur,


"Gawat, sembunyi!" dengan cepat Zahra menarik Nur dan membawanya ke belakang pohon beringin.


"Kenapa sembunyi Zah?" tanya Nur dengan suara lirih.


"Kamu mau, aku di ajak pulang. Sudah diam dulu!" Zahra memperhatikan suaminya dari balik pohon.


Mas ustad ngapain ke sini? Apa dia juga punya tujuan yang sama dengan ku ke sini ..., batin Zahra.


Ustad Zaki berhenti tepat di samping pohon, bukan karena melihat keberadaan Zahra dan Nur tapi sebuah motor yang terparkir di samping pohon itu,


"Ini_, sepertinya ini motor_!" ustad Zaki tampak berpikir, "Ahhh tidak mungkin, ini mungkin hanya mirip saja. Banyak motor yang seperti ini kan!"


"Hahhhh, akhirnya!" Zahra bernafas lega dan keluar dari persembunyiannya.


"Lama banget Zah, memang kamu sudah tahu orangnya?"


"Ya be_lum!?" Zahra menggaruk kepalanya.


"Hehhhh, gimana sih Zah!" keluh Nur.


"Ya aku kan cuma tahu namanya!" jawab Zahra tanpa dosa.


"Astaghfirullah ...., jadi kita nungguin di sini, nggak tahu siapa yang di tunggu!"


"Ya tahu, kan sudah aku bilang. Aku sudah tahu namanya!"


Nur pun mengusap dadanya, Zahra kadang memang pinter tapi ia sedikit grusa-grusu membuat Nur memakluminya.


"Baiklah, gini aja deh. Kita cari di kelasnya aja!"


"Tapi kita kan nggak tahu kelasnya!?"


"Kita bisa tanya scurity, dia pasti satu kelas dengan mbak Imah, ayo_!" Nur berbalik menarik Zahra, mengajaknya masuk ke area kampus.


Setelah bertanya pada scurity, akhirnya mereka menemukan kelas Imah, beruntung Imah termasuk mahasiswa yang aktif di segala kegiatan kampus hingga tidak sulit untuk menemukan kelasnya. Banyak mahasiswa yang mengenalnya.


"Kayaknya masih ada kelas, Zah. Kita tunggu di sini dulu deh!" Nur mengajak Zahra duduk di depan kelas yang masih berlangsung perkuliahan.

__ADS_1


Hingga setengah jam kemudian, barulah dosen keluar dan beberapa dari mahasiswa itu tampak mulai meninggalkan kelas.


Nur dengan cepat menghentikan seorang mahasiswa yang keluar dari kelas itu,


"Maaf mas, boleh tanya nggak?" tanya Nur,


"Mau tanya apa dek?" pria itu balik bertanya.


"Yang mana ya mas yang namanya Indah?"


"Indah?" tanyanya balik.


"Iya mas!"


Pria itu pun kembali menoleh ke dalam kelas dan tengah mencari-cari seseorang,


"Ahhh itu!" ucapnya sambil mengulurkan telunjuknya, "Itu yang pakek kerudung biru muda!"


Nur tersenyum, "Terimakasih ya mas!"


"Sama-sama!"


"Boleh minta tolong satu lagi nggak mas!?"


"Apa ya?"


"Minta tolong panggilkan!"


"Baiklah!" pria itu pun akhirnya kembali masuk dan menghampiri gadis berjilbab biru muda itu. Gadis itu tampak menatap ke arah Nur dan Zahra, entah apa yang di bicarakan pria itu hingga gadis itu berdiri dan menghampiri Nur dan Zahra.


"Kalian siapa ya? Apa kita kenal?" tanyanya.


Kali ini Zahra yang maju, sudah cukup bagi Nur membantu Zahra,


"Kenalkan mbak, saya Zahra dan ini teman saya Nur!" Zahra terlebih dulu memperkenalkan diri.


"Zahra, apa kita punya urusan?" tanyanya pada Zahra.


"Mbak beneran mbak Indah kan?"


"Iya benar, ada apa ya?"


"Saya ingin menanyakan tentang mbak Imah!" ucap Zahra dan tampak gadis bernama Indah itu tampak terkejut.


"Ada apa ya dengan Imah? Dia sudah beberapa hari ini nggak kuliah loh!?"


"Bagaimana kalau kita bicaranya di kantin aja mbak, soalnya banyak yang ingin Zahra tanyakan sama mbak!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2