Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kedatangan Bu chusna


__ADS_3

"Bu Chusna?, kenapa bu Chusna ke sini?" tanyanya sambil berusaha untuk bangun di bantu oleh ustad Zaki.


Bu Chusna tersenyum dengan begitu lembut benar-benar keibuan, "Sebenarnya ibu ke sini ada perlu sama mas ustad, untung tadi tanya-tanya warga ketemu rumah kalian!"


Tanya warga?


Zahra sampai menelan Salivanya mendengan ucapan Bu Chusna.


Jangan-jangan bu Chusna tahu hubungan ku sama mas ustad ...


"Memang warga bilang apa Bu?" tanya Zahra penasaran. Zahra sudah panik sendiri tanpa sebab Sedangkan ustad Zaki masih dengan santainya menggandeng tangan Zahra.


"Ya ngasih tahu rumah kalian. Ternyata benar di sini! Takut nyasar soalnya." tampak sekali jika saat ini Bu Chusna tengah mencari perhatian ustad Zaki tapi ustad Zaki malah asyik memainkan tangan Zahra.


Mas ustad apa-apaan sih, sengaja ya bikin Bu Chusna tahu ...., Zahra berusaha melepaskan tangannya dari sang suami tapi ustad Zaki malah semakin menjadi, ia mencium punggung Zahra membuatnya menarik tangannya dengan kasar dan melotot pada suaminya.


"Awas ya!" ucapnya hanya dengan menggerakkan bibirnya saja tanpa mengeluarkan suara.


"Mereka bilang tentang sesuatu nggak Bu, sama ibu?"


Bu Chusna malah di buat bingung dengan pertanyaan Zahra,


"Misalnya apa gitu?"


"Ya apa gitu, pernikahan atau jodoh gitu?"


Bu Chusna tersenyum , ia mengira Zahra tengah memberi lampu hijau jika dia mendekati ustad Zaki, "Enggak, hanya bilang kalau kalian tinggal berdua."


Ustad Zaki kembali berulah dengan menarik kepala Zahra dan mengecup puncak kepalanya, "Mas ustad penyayang adiknya ya!" ucap Bu Chusna sambil tersenyum pada ustad Zaki.


"Ahhh, ini_!" belum sampai ustad Zaki melanjutkan ucapannya Zahra segera menyambar ucapannya.


"Ya beginilah Bu, mas ustad memang orangnya penyayang banget, iya kan mas?" Zahra mengeratkan gigi-giginya sambil tersenyum.


Ustad Zaki hanya bisa tersenyum sambil melirik sang istri,


"Ahhhh, iya Bu. Silahkan masuk Bu! Rasanya tidak sopan kalau bicara di sini!"


Ustad Zaki segera mempersilahkan Bu Chusna untuk masuk, ia berjalan di depan untuk membuka pintu rumah mereka dan di ikuti Zahra dan Bu Chusna.


"Silahkan masuk Bu!" ucap ustad Zaki mempersilahkan Bu Chusna.


"Terimakasih, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki pun mempersilahkan Bu chusna untuk duduk,


"Silahkan duduk Bu, maaf rumahnya kotor!"


"Nggak pa pa mas ustad, saya maklum baru juga di tinggal pergi!"


"Biar aku buatkan minum dulu ya Bu!" ucap Zahra yang hendak pergi meninggalkan mereka, tapi tangannya segera di tahan oleh ustad Zaki.


"Biar mas saja!" ucap ustad Zaki dan bergantian ia yang berdiri dan meminta Zahra untuk duduk.


"Hahhh?" Zahra malah di buat bingung, biasanya kalau bersama kedua orang tuanya dia yang di minta untuk mengambilkan minum ke tamu, tapi kali ini kebalik.

__ADS_1


"Kamu duduk saja temani Bu Chusna!"


Ustad Zaki sudah hampir berbalik tapi Zahra kembali bangun dari duduknya,


"Tapi_!"


Sekali lagi ustad zaki meminta Zahra untuk duduk,


"Nggak baik meninggalkan mas berdua saja dengan Bu Chusna, karena kami bukan mahram!"


Sekarang Zahra mengerti alasan sang suami melakukan hal itu, ia pun tersenyum dan mengangukkan kepala.


"Baiklah!"


Akhrinya ustad Zaki yang beranjak, ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dari pada timbul fitnah karena hal ini, ia memilih untuk dirinya sendiri yang membuatkan minum untuk tamunya.


Apa yang di lakukan ustad Zaki malah membuat Bu Chusna semakin mengagumi pria itu,


"Ya Allah Zahra, mas Zaki benar-benar pria Sholeh. Beruntung sekali yang jadi istrinya!"


"Memang!" jawab Zahra dengan reflek karena ia juga begitu, walaupu awalnya begitu berat tapi semakin ke sini ia merasa begitu beruntung dengan kecerobohannya.


"Bantu ibu dong buat dekat dengan sama mas kamu itu!"


Enak aja, dia suamiku ..., batin Zahra tidak suka.


"Kok malah diem sih zah!?" Bu Chusna tengah menunggu jawaban dari Zahra.


"Heeee, lebih baik ibu nggak usah deh berharap!" ucap zahra dengan begitu mantap sambil mendekatkan wajahnya pada Bu Chusna.


"Kenapa? Apa ustad Zaki sudah punya calon?" terlihat sekali saat ini Bu Chusna tengah kecewa.


"Jadi benar, tapi baru calon kan? memang calonnya bagaimana?"


"Calonnya ya? Dia itu menarik, bahkan sangat cantik. Lebih cantik dari ibu segala-galanya deh, lebih muda, imut, dan tentunya menarik!"


"Kamu nih ya, bukannya mendukung ibu malah membuat mood ibu rusak!"


Rasain, siapa suruh genit-genit sama suami orang ....


Belum sampai Zahra menjawab lagi, ustad Zaki sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi minuman.


Zahra pun segera membantu suaminya untuk mengambil gelas dan meletakkannya di meja depan Bu Chusna.


"Silahkan di minum Bu!" ucap Zahra.


"Ya Allah, jadi ngerepotin mas ustad!"


Ye yang naruh kan aku, matanya di sekolahin Bu ...., Zahra kesal karena Bu Chusna terus menatap suaminya meskipun sang suami tampak menundukkan pandangannya.


"Nggak pa pa Bu. silahkan!"


Akhrinya Bu Chusna pun mengambil gelas miliknya yang berisi teh hangat dan meneguknya.


"Oh iya Bu, kalau boleh tahu Bu Chusna ke sini ada apa ya?" tanya ustad zakis telah berbasa-basi.


"Begini ustad, tiga hari lagi kan acara maulid nabi. Jadi saya di beri tugas dari pihak sekolah untuk mencarikan ustad untuk mengisi acara, saya harap ustad Zaki bisa mengisi!"

__ADS_1


Ustad Zaki tampak menoleh pada Zahra dan Zahra menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak setuju jika sampai suaminya ketemu dengan Bu Chusna.


"Baik, insyaallah saya bisa. Kebetulan saya tidak ada acara di hari ini!"


Ini apa-apaan sih, sengaja ya mau dekat-dekat sama Bu Chusna...


Zahra benar-benar kesal dengan keputusan ustad Zaki.


"Alhamdulillah, terimakasih mas Zaki!"


"Sama-sama!"


Setelah hampir satu jam bertamu, akhirnya Bu Chusna pun berpamitan pulang.


"Mas! Mas sengaja ya?" hardik Zahra begitu Bu Chusna pergi. Ia menatap tajam pada suaminya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"


"Apa coba maksudnya menerima tawaran Bu Chusna!"


Ustad Zaki sekarang tahu maksud dari istri kecilnya itu, ia pun mengusap puncak kepala sang istri yang berada tepat sejajar dengan dagunya,


"Kapan lagi mas bisa ngaji sambil mengawasi istri kecilku ini!"


"Nggak lucu ya!" Zahra berusaha menepis tangan ustad Zaki tapi ustad Zaki malah memeluk tubuh mungil Zahra.


"Memang mas nggak ngelucu!" ucapnya sambil menggoda sang istri.


"Lepasin ya!"


"Kalau nggak mau?"


"Zahra teriak ya!"


"Teriak aja, memang mas takut!"


"Lepasin mas!" ucap Zahra pasrah,


"Aaaaa!?" teriak Zahra karena bukan di lepaskan, sang suami malah mengangkat tubuhnya dan membawanya ke sofa,


"Mas, mau ngapain?" Zahra terlihat panik saat bibir sang suami sudah begitu dekat dengan tubuh yang berada di bawah kungkungannya.


"Mau menagih janji!"


"Janji apa?"


"Jangan pura-pura lupa!?"


..."Siapapun yang menjadi sebab bahagiaku walau hanya sebentar saja, bahagiakan dia sepanjang hidupnya" @aidar.rofiqq...



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2