Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pil KB


__ADS_3

Zahra pun segera duduk di tepi tempat tidur, lalu ia memiringkan tubuhnya hingga menghadap sang suami yang awalnya berada di belakangnya,


"Tapi janji ya, mas jangan marah!?" ucap Zahra lagi dan ustad Zaki pun mengangukkan kepalanya.


"Mas tidak mungkin bisa marah sama kamu, dek!"


Semoga benar ....


Zahra pun akhirnya menaikkan sebelah kakinya agar lebih nyaman duduknya, ustad Zaki pun menggeser duduknya agar lebih dekat.


"Mas, sebenarnya beberapa hari ini Zahra telah meminum sesuatu!" ucapnya tampak ragu, ia bahkan tidak berani menatap suaminya.


"Minum apa dek?" tanya ustad Zaki lagi, walaupun begitu penasaran tapi iya tidak begitu berani memaksa sang istri untuk berbicara.


"Bentar ya, aku ambil dulu!" Zahra pun perlahan kembali turun, ia membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur dan mengambil sebuah kap kecil lebih mirip dengan botol yang bertuliskan botol vitamin.


Zahra pun kembali lagi dan menunjukkan botol itu,


"Ini mas!?" ucap Zahra sambil memegang botol itu dengan kedua jarinya.


"Ada apa dek dengan botol vitamin itu? Apa ada masalah?" tanya ustad Zaki lagi.


"Di botol vitamin ini sebenarnya isinya_!"


Belum selesai Zahra mengatakannya, ustad Zaki sudah lebih dulu memotongnya.


"Ohhh itu, maaf ya dek. Sebenernya kemarin pas mas cari-cari staples, mas nggak sengaja numpahin botol vitamin dek Zahra," ucap ustad Zaki dan di sini Zahra terlihat mulai khawatir.


Jadi mas ustad sudah tahu dari awal ..., batin Zahra, ia sampai menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa khawatirnya.


"Lalu?" tanya Zahra, melihat ekspresi suaminya yang biasa saja ia ingin memastikan jika sang suami tidak marah padanya atas tindakannya yang tidak kompromi dengan sang suami.


"Karena tumpah, jadi mas pikir pasti kotor, jadi mas buang sekalian!"


Di buang???? trus ....


Batin Zahra semakin tidak enak, keringat dingin mulai keluar, sepertinya hawa dingin malam itu tidak verpengeruh baginya.


"Lalu ini?" tanya Zahra sambil kembali menunjukkan botol vitamin yang ada di tangannya yang masih terisi penuh dan setiap hari ia juga meminum isinya. Tapi memang seperti ada yang beda dari yang ia minum di awal.

__ADS_1


"Jadi, gini ceritanya!?" ustad Zaki pun memegang kedua bahu Zahra hingga Zahra dan dia saling berhadapan, "Mas bawa botol vitaminnya ke apotik,"


Tiba-tiba ustad Zaki tersenyum,


"Lalu?" tanya Zahra lagi masih dengan ekspresi yang tidak menentu.


"Lalu mas tanya sama petugas apoteknya, mereka bilang vitamin ini sebagai penyubur kandungan!"


"Hahhhh?" Zahra benar-benar dibuat terkejut, tapi kejutan yang sebenarnya belum selesai.


Kenapa harus penyubur kandungan, ini sebuah kebetulan atau apa? Dari sekian banyak vitamin yang aku beli di apotek, kenapa botol vitamin penyubur kandungan yang harus Zahra jadiin tempat pil KB? tubuh Zahra semakin Tremor, ia sudah bisa menebak sesuatu sekarang. Meskipun begitu ia masih berharap tebakannya salah.


"Iya dek, kata petugasnya begitu. Mas benar-benar nggak nyangka dek Zahra bisa berpikir seperti itu."


Zahra semakin tidak sabar, "Lalu, ini isinya apa mas?" tanya Zahra dengan suara yang sudah mulai bergetar.


"Mas sengaja belikan yang baru!"


Jadi benar, beberapa hari ini aku meminum vitamin penyubur kandungan ...., jadi benar ....


Melihat wajah Zahra yang berubah pucat membuat ustad Zaki berubah khawatir,


Srekkkk


Dengan cepat Zahra berdiri dari duduknya, ia masih memegangi botol vitamin itu dengan tangan yang bergetar, wajahnya juga pucat pasi. Ustad Zaki semakin khawatir, ia pun menyusul Zahra berdiri dan kembali memegangi kedua bahunya,


"Dek, kamu kenapa? kamu sakit ya? Kita ke dokter ya, sekarang? Atau perut kamu sakit gara-gara makan banyak tadi?" tanya ustad Zaki panik.


"STOP mas!?" teriak Zahra dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya membuat ustad Zaki terdiam, ia menatap wajah istrinya,


"Kenapa?" tanya ustad Zaki dengan suara lemah. "Istighfar dek,"


"Astaghfirullah hal azim!?" dengan cepat Zahra beristighfar, ia benar-benar tidak bermaksud membentak suaminya, Zahra mengusap dadanya, mencoba menenangkan kemelut dalam dadanya.


"Sekarang cerita sama mas, sebenarnya ada apa?" tanya ustad Zaki masih dengan nada lembutnya.


"Mas tahu? Sebenarnya Zahra mengganti isi botol vitamin ini dengan pil KB, mas!" ucap Zahra seketika membuat tubuh ustad Zaki kehilangan kekuatannya, ia sampai jatuh dan terduduk di tempat tidur.


"Astaghfirullah hal azim, dek!?" gumamnya pelan sambil beberapa kali mengucapkan istighfar.

__ADS_1


Melihat ekspresi suaminya yang seperti itu, sepertinya kekhawatir Zahra yang tadi berubah menjadi perasaan bersalah,


"Maafin Zahra mas, tapi Zahra belum siap punya anak. Zahra masih terlalu muda, Zahra masih ingin melanjutkan kuliah, masih ingin bebas seperti temen-temen Zahra yang lain, maafin keegoisan Zahra."


Ustad Zaki sama sekali tidak menjawab apapun ucapan Zahra, sepertinya ia juga tengah menata hatinya, ia juga tengah memberi kesempatan untuk Zahra supanya menata hatinya juga.


Zahra pun ikut duduk di samping sang suami.


Setelah sekian lama saling diam, akhirnya ustad Zaki mulai membuka suara,


"Lalu sekarang bagaimana?" tanyanya setelah keadaan mulai tenang.


"Bagaimana lagi mas, semua sudah terlanjur, Zahra juga tidak jadi minum pil KB!!" tampak Zahra frustasi, ia yakin jika melihat ekspresi kaget suaminya, suami ya tidak mengijinkannya meminum pil KB.


"Kalau dek Zahra belum siap untuk hamil, lebih baik kita konsultasi ke dokter,"


"Buat apa?" tanya Zahra terkejut, ia sampai menoleh pada suaminya.


"Tanya sama dokter, alat kontrasepsi apa yang paling pas buat dek Zahra, apalagi dek Zahra masih muda, mas takut jika salah bisa berbahaya buat dek Zahra!?"


"Jadi mas tidak marah, mas setuju?" tanya Zahra yang langsung mendapatkan kekuatannya kembali, padahal sebelumnya ia sudah takut jika sampai suaminya kelepasan dan memilih melepaskannya karena ia sudah berani bertindak sendiri, berani berbohong.


"Mas nggak mungkin seegoia itu dek, jika dek Zahra belum siap, mas juga nggak mungkin maksa meskipun mas begitu menginginkannya, tapi kebahagiaan dek Zahra lebih dari keinginan mas!"


Srekkk


Dengan cepat zahra memeluk suaminya,


"Terimakasih mas!?"


Ya Allah ..., terimakasih sudah mengirimkan jodoh sebaik mas ustad, ehhh tidak...., terimakasih sudah menerima pemaksaan Zahra karena meminta jodoh laki-laki Sholeh seperti dia ....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2