Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pemilik rumah makan


__ADS_3

Zahra berdiri sambil menyandarkan dagunya di atas meja kasir, ia tengah mengamati para pelanggan yang tengah asyik menikmati makanannya,


"Hehhhh, jadi ingat mas ustad. Lagi ngapain ya dia?" gumamnya pelan, rasanya begitu lama, hari-hari nya terasa sunyi tanpa bisa berdebat langsung dengan suaminya itu.


"Enak ya bisa makan bareng sama pasangan kayak gitu!" gumamnya lagi saat melihat pasangan yang bisa bercengkrama sambil menikmati makanannya.


Tapi tiba-tiba fokus matanya tertuju pada seseorang yang tengah sibuk mengeluarkan barang belanjaan dari dalam mobil. Pria itu di bantu beberapa karyawan yang lainnya, lebih tepatnya memberi komando pada karyawan lainnya. Kalau tidak begitu mengenalnya mungkin akan mengira jika pria itu adalah seorang bos, begitu juga yang di pikirkan Zahra beberapa hari lalu.


"Itu pak Dul, pasti dia sibuk banget sampai aku nggak pernah lihat dia." gumamnya, karena selama lima hari magang di tempat itu baru kali ini ia melihat pak Dul selain pas waktu berangkat dan pulang. Pak Dul tidak pernah terlihat lalu lalang di warung makan, ia hanya muncul sekilas lalu pergi lagi.


Kemudian Zahra menyadari sesuatu lagi, beberapa karyawan bahkan tidak ia kenal dan masih terlihat asing.


"Banyak juga karyawan di sini." gumamnya lagi.


"Lagi lihatin apa, Zah?" ternyata tanpa ia sadari sedari tadi ia juga tengah di amati oleh seseorang, dia adalah gadis yang tengah duduk di belakang meja kasir. Namanya Desi, terlihat dari tag name yang melekat di dadanya.


Zahra pun segera menoleh pada gadis itu dan kembali menoleh pada pak Dul yang sudah hampir selesai dengan pekerjaannya.


"Itu mbak, pak Dul!"


"Ada apa sama pak Dul?" tanya gadis itu yang juga tertarik menatap ke arah pak Dul.


"Emang kerjaannya apa sih pak Dul di sini? Kayaknya orang kepercayaan banget!?" tanyanya penasaran, karena ia merasa pak Dul cukup di segani di tempat itu.


"Ohhh pak Dul, ya jelas lah dia di segani!" ucap gadis itu dengan pasti.


"Kenapa?" tanya Zahra semakin penasaran.


"Pak Dul itu sopir pribadi ustad Zaki, selain itu pak Dul juga orang kepercayaan ustad Zaki!"


"Hahhh?"


Zahra benar-benar terkejut dengan ucapan gadis itu, "Kayaknya kamu keliru deh, mbak! Mas ustad itu hanya ustad kampung, nggak mungkin sampai punya sopir pribadi segala! Pak Dul itu temannya mas ustad aja!"


Gadis itu pun tampak mengedarkan pandangannya, ia melihat situasi di sekitar mereka,


"Sini, mendekatkan!" ucapnya dengan sedikit berbisik, setelah memastikan semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Ada apa?" Zahra pun ikut melihat situasi, ia ragu untuk mendekat.


"Sini!" ucapnya lagi sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Akhirnya Zahra pun mendekat,


"Ada apa?"


"Kamu serius nggak tahu siapa pemilik rumah makan ini?" tanyanya terlihat serius.


"Ya enggak lah, aku kan cuma anak magang. Ada apa memangnya?"


"Kamu nggak penasaran?"


Zahra memang sedikit penasaran, karena di awal Heni sudah mengatakan jika pemilik rumah makan itu adalah orang yang satu kampung dengannya. Tapi sejauh ia tahu, orang-orang di kampungnya tidak ada yang memiliki rumah makan.


Mungkin ...., Zahra menggelengkan kepalanya sendiri tidak yakin.


"Nggak, lagi pula juga nggak ada hubungannya dengan aku!?" jawab Zahra dengan entengnya.


"Kalau aku bilang ada hubungannya sama kamu gimana?"


"Maksudnya?"


"Gini deh, kamu lihat kan itu mereka!" ucap gadis itu sambil menunjuk beberapa anak magang lain termasuk Weni.


"Ada apa dengan mereka?"


Benar juga ..., batin Zahra. Selama empat hari di tempat itu kerjaannya hanya mengantar secarik kertas berisi total makanan yang mereka pesan sedangkan temannya mengerjakan ini itu.


Kalau pagi, lainnya mengepel, nyapu, membersihkan kaca dan lain-lain, ia hanya di minta mengelap meja selebihnya tidak ada tidak seperti yang lain masih harus mengerjakan pekerjaan lainnya.


"Iya sih!?" akhirnya Zahra mengakuinya. "Trus apa hubungan pemilik rumah makan ini sama aku?"


"Jangan katakan pada siapapun kalau aku yang kasih tahu ya!" ucap gadis itu dan Zahra pun mengangukkan kepalanya kemudian gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Zahra.


Tapi baru saja akan berbisik, tiba-tiba salah satu pelanggan melambaikan tangan,


"Bentar ya, itu ada pelanggan yang panggil!" ucap Zahra kembali menjauhkan telinganya, ia segera membawa papan dada yang berisi catatan kecil dan juga buku menu karena pelanggan itu sepertinya baru datang.


Zahra pun dengan cepat menghampiri meja pelanggan yang baru datang itu,


"Selamat siang mas, mbak. Silahkan tuliskan pesanan di sini ya!" ucap Zahra sambil menyerahkan buku menu dan juga secarik kerta sayang berisi list pesanan.


"Tunggu dulu ya mbak, kami nggak lama kok!" ucap pria berkumis itu, meminta Zahra agar tidak meninggalkan mejanya, memang beberapa pelanggan malas untuk memanggil lagi.

__ADS_1


"Baik mas!"


Akhrinya setelah menunggu sekitar lima menit, list pesanan pun kembali di serahkan pada Zahra,


"Tunggu sebentar ya mbak, mas. Kami akan segera mempersiapkannya.


Zahra pun dengan cepat kembali, tapi ia tidak menemukan gadis yang sama di balik meja kasir itu,


"Ini mbak, pesanannya!" ucap Zahra sambil menyerahkan kertas itu, dan wanita yang lebih tua dari gadis yang tadi pun menerimanya dan segera meneruskan pada tukan masak di belakang.


Zahra kembali duduk di tempatnya, ia mengamati sekitar mencari gadis tadi. Ia masih begitu penasaran dengan siapa pemilik warung makan itu, tapi nyatanya ia tidak menemukan batang hidungnya,


Kemana ya dia tadi? batinnya bertanya-tanya.


Dan akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada wanita yang juga tengah menunggu meja kasir menggantikan gadis yang tadi,


"Mbak,"


"Iya?" wanita itu menoleh dan tersenyum pada Zahra, senyumnya tampak begitu manis dengan gigi gingsul nya.


"Emmm, mbak yang tadi dimana ya?" tanyanya dan wanita itu mengerutkan keningnya tidak mengerti,


"Mbak kasir tadi?" tanya Zahra lagi memperjelas.


"Ohhhh Desi?"


Zahra belum tahu namanya, tapi ia memutuskan untuk mengangukkan kepalanya. "Iya mbak!"


"Desi dapat tugas buat nganter pesenan sama pak Dul."


Yahhhh, jadi bersambung kan ceritanya ...., keluh Zahra di dalam hati, ia padahal sudah sangat penasaran dengan ceritanya gadis tadi.



..."Pada saat dirimu mencintai seseorang tanpa sebab, saat itu pula yakinlah bahwa seribu sebab sekalipun tidak akan bisa mencabutnya dari hatimu."...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2