
"Maaf ya dek aku antar kamu ke sini, nanti aku jemput tepat setelah sholat isya'!" ucap ustad Zaki yang sudah menurunkan Zahra di depan rumah orang tuanya. Ia tidak tega meninggalkan Zahra sendiri di rumah, ia juga harus mengajar mengaji anak-anak ba'dha ashar, karena ia sudah berhari-hari absen. Apalagi saat ini Zahra sedang tidak baik-baik saja, ia juga tidak mungkin meminta Bu Narsih untuk menemaninya di rumah mereka karena pak Warsi juga belum sehat betul.
"Nggak pa pa kok, nggak di jemput juga nggak pa pa." ucap Zahra dengan entengnya, pulang ke rumahnya merupakan surga baginya.
"Jangan kayak gitu dek bicaranya, mas pasti jemput kok, ya udah mas ke.masjid dulu ya kasihan anak-anak nunggu lama. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Sepertinya sekarang Zahra sudah mulai terbiasa mencium tangan ustad Zaki sebelum berpisah.
"Salam.buat bapak dan ibuk, insyaallah nanti malam mampir!" ucap ustad Zaki lagi yang merasa bersalah karena tidak bisa mengantar Zahra sampai ke dalam rumah karena adzan sholat ashar sudah berakhir dari tadi dan sepertinya suara anak-anak yang tengah melantunkan puji-pujian sudah hampir berakhir.
"Hmmm, sampai jumpa!" ucap Zahra sambil melambaikan tangannya dan tersenyum membuat ustad Zaki membalas senyumnya,
Ternyata suara motor ustad Zaki yang berlalu meninggalkan rumah itu di dengar oleh Bu Narsih, wanita paruh baya itu segera berlari ke luar, tapi hanya mendapati putrinya yang berdiri di depan rumah.
"Nduk, kamu?" terlihat Bu Narsih mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang di sekitar putrinya itu.
"Putrinya datang bukannya di sambut kok malah cari-cari yang lain sih!?" gerutu Zahra kesal, karena ibunya bukannya menanyakan kabar dirinya malah mencari-cari yang orang lain.
Bu Narsih lalu menggengam kedua bahu Zahra dan menatapnya dengan tajam,
"Kamu datang sendiri? Ustad Zaki mana? Kalian nggak sedang bertengkar kan?"
"Apaan sih ibuk, ya nggak lah. Ustad Zaki lagi ke masjid, Zahra nggak sholat makanya di titipkan ke sini."
Zahra segera menepis tangan ibunya, "Sudah ah, Zahra mau masuk. lihat bapak, bapak di rumah kan buk?"
Bu Narsih hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat kepergian putrinya itu.
"Bapak!?" panggil Zahra, membuat pria yang baru saja selesai mengambil wudhu itu segera menghampiri putrinya.
"Masih juga belum berubah, kalau masuk rumah itu di biasakan ngucap salam bukan nyonong gitu."
"Ihhh bapak, emang Zahra power ranger yang bisa berubah apa."
"Kebiasaan kalau di nasehati orang tua, ngeles terus."
"Assalamualaikum, bapak!"
"Waalaikum salam, kamu sendiri?" ternyata pertanyaan bapak dengan ibunya sama.
"Iya bapak, tapi tenang putrimu yang cantik ini nggak sedang membuat masalah. Zahra nggak berani di rumah sendiri makanya di titipin di sini sampai nanti sehabis isya'."
"Umur kamu itu betapa to Zah!? Kok Yo sek panggah jereh ae ( kok masih penakut saja)!"
"Memang penakut harus lihat umur apa pak."
"Sudah-sudah, ngomong Karo awakmu ora enek entek e, wes bapak tak sholat disek, Selak entek wektune (bicara sama kamu tidak ada habisnya, sudah bapak mau sholat dulu, keburu habis waktunya)!"
__ADS_1
"Iya iya, Zahra juga sudah kangen sama kasurnya Zahra."
Akhirnya Zahra memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, menikmati tidur di tempat tidur lamanya yang sudah dua hari ini ia tinggalkan.
Tapi baru saja ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering, menunjukkan kalau ada pesan masuk.
Zahra segera menyambar ponselnya, dan melihat siapa yang tengah mengirimkan pesan padanya.
"Nur!?" dengan cepat Zahra membuka laman pesan itu.
Nur
15.15
//zah dimana? Gimana keadaanmu? Aku mau jenguk kamu//
"Kebiasaan banget kalau kirim pesan, kayak kereta api!" akhirnya Zahra pun mengetikkan balasan untuk Nur.
Anda
15.17
//Di rumah bapak, sudah lebih baik. Kalau ke sini jangan lupa bawa camilan, aku bosan//
"Kirim!" ucapnya sambil menekan tombol kirim.
Benar saja, selang beberapa menit terdengar suara sepeda motor Nur, sepertinya di luar sudah berbicara dengan Bu Narsih dan di persiapkan masuk oleh Bu Narsih.
"Assalamualaikum, Zah. Aku masuk ya!?"
"Waalaikum salam, masuk aja!"
Zahra sedang duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada bantal yang ia letakkan di tembok atas tempat tidur,
"Ya Allah Zahra, kamu benar-benar buat aku khawatir!?" ucap Nur sambil berjalan mendekat dan duduk tepat di depan Zahra.
"Biasa aja."
"Kamu kenapa sih sampek pingsan?"
"Biasa, tamu bulanan datang. Di tambah lagi belum sarapan."
"Kamu tahu nggak, kamu sudah menggegerkan satu sekolah tahu."
"Benarkah? Kenapa?"
"Gara-gara pak ustadz, biasalah cewek-cewek satu sekolah dapat idola baru."
"Idola baru? Maksudnya?"
__ADS_1
"Mereka kira pak ustad itu mas kamu,"
Memang ganteng sih, nggak heran kalau mas ustad jadi idola. Tapi kan dia suami aku, nggak boleh gitu dong ....
"Bayu juga nanya sama aku!?" ucap Nur lagi, kali ini berhasil membuat Zahra mengerutkan keningnya,
"Bayu?" Zahra tahu pasti Bayu sedikit banyak akan curiga, apalagi ia sudah pernah melihat mas Imron.
"Hmmm!" jawab Nur sambil menganggukkan kepalanya.
"Dia tanya apa?"
"Apa ustad Zaki itu saudara kamu!"
Dia benar-benar curiga, batin Zahra, ia kembali menatap Nur. Ia penasaran bagaimana sahabatnya itu memberi jawaban.
"Trus kamu jawabnya bagaimana?"
"Ya aku suruh tanya kamu aja." sedikit lega sekaligus kecewa dengan jawaban nur, Ia lega setidaknya Bayu belum tahu tentang hubungan mereka. Tapi ia juga kecewa, karena Nur tidak mengiyakan saja, padahal kalau di jawab iya, masalahnya pasti sudah beres.
"Kok nggak kamu iya kan aja sih!?"
"Ogah ahhh, nggak mau aku bohong."
Hehhhhh .....
Zahra hanya bisa menghela nafas, ia hampir lupa jika Nur memang hampir tidak pernah berbohong.
"Issstttt, kan jadi ribet. Besok kalau aku masuk pasti Bayu Bakal tanya macam-macam sama aku."
"Itu urusan kamu, tapi kalau menurut aku sih sebaiknya kamu segera memutuskan hubunganmu sama Bayu, kasihan kalau pak ustad sampai tahu."
"Aku belum tahu, Nur."
"Kalau sampai pak ustad tahu dari orang lain, bakal tambah nyakitin pak ustad. Kan kamu sendiri yang mutusin buat nikah sama pak ustad, jadi kamu juga harus bisa ambil sikap. Itu sih menurut aku,"
Zahra terdiam, ia bingung harus memutuskan apa. Pada dasarnya pernikahan ini masih begitu mendadak baginya, ia juga rasanya belum siap untuk melepaskan Bayu, karena hubungan mereka sudah terjalin hampir dua tahun dan harus melepasnya demi hubungan yang masih dua hari. Rasanya tidak adil.
"Mana camilannya?" Zahra segera mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap membahasnya terlalu jauh.
"Astaghfirullah, aku lupa zah. Tadi keburu-buru soalnya."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...