
Mengetahui dirinya adalah istri seorang pemilik kedai lalapan sama sekali tidak merubah apapun, ia masih tetap bertugas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Semuanya masih sama, tidak ada yang istimewa.
Siang ini bahkan lebih sibuk dagi biasanya, beberapa karyawan di baw pak Dul untuk melayani sebuah acara hajatan dan hanya tersisa beberapa saja yang di kedai jadi terpaksa Zahra ikut membantu yang lainnya melayani pelanggan.
"Silahkan pesanannya!" ucap Zahra saat mengantarkan pesanan dari seseorang, tapi begitu orang itu mendongakkan kepalanya membuat Zahra tertegun,
"Bayu!?" gumamnya kemudian.
"Zahra," Bayu tersenyum menatap Zahra. "Aku tahu kamu di sini dari Nur!" ucap Bayu lagi.
"Maksudnya?"
"Aku sudah sangat berusaha Zahra, aku berusaha keras untuk melupakan kamu, tapi tidak bisa. Aku mohon lepaskan mas Zaki dan kita bisa menikah!"
"Astaghfirullah hal azim!" Zahra benar-benar terkejut dengan permintaan Bayu, ia pikir kisahnya dengan Bayu sudah benar-benar berhasil tapi nyatanya masih ada lagi kelanjutannya.
"Maaf, sebaiknya segera makan dan pergilah dari sini sebelum ada yang menyadari apa yang kamu lakukan!" ucap Zahra dan dengan cepat ia berbalik hendak meninggalkan Zahra tapi Bayu segera menarik tangannya.
"Lepasin tanganku Bayu!?" Zahra berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Bayu.
"Aku nggak akan melepaskan tangamu kalau kamu nggak bilang iya!"
"Bayu!" bentak Zahra, "Jangan keras kepala!"
Zahra terus meronta, beberapa karyawan yang melihatnya segera mendekati mereka,
"Ini ada apa?" tanya mereka dan zahra tidak bisa menjelaskan apa-apa saat ini, ia hanya terus berusaha melepaskan tangan Bayu, karena kurang hati-hati, tubuh Zahra kehilangan keseimbangannya. Agar tidak sampai terjatuh tanpa sengaja tangannya yang satunya menyambar tepian meja yang agak tajam, karena sambarannya yang terlalu keras hingga menyebabkan tangannya terluka.
Tapi sepertinya Zahra tidak menyadarinya begitu juga dengan Bayu, hingga rekan kerjanya menyadarkannya.
"Zah, itu tanganmu_!" tunjuk rekan kerjanya pada tangannya yang satu.
Zahra pun segera menoleh ke tangannya yang sebelah,
Darah ....
Melihat darah yang mengalir cukup banyak dari lengannya, tiba-tiba mata Zahra berkunang-kunang. Ia paling takut melihat darah,
"Zahra, kenapa tanganmu?" Bayu rupanya tidak kalah panik, ia segera berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Zahra yang sebelah.
tapi terlambat karena Zahra lebih dulu jatuh pingsan.
"Kamu berhenti, jangan mendekat!" teriak pak Dul yang baru saja datang, rupanya pak Dul mendapat laporan dari karyawan yang lain kalau di dalam terjadi keributan saat pak Dul kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di kedai.
Beberapa pelanggan lainnya pun ikut berkerumun,
Karena larangan dari pak Dul, Bayu tidak berani mendekat. Pak Dul pun segera menghampiri Zahra yang sudah jatuh pingsan dan membopong tubuhnya,
"Tolong hubungi ustad Zaki!" ucap pak Dul sambil membawa Zahra ke mobil, ia akan membawa zahra ke klinik terdekat.
***
__ADS_1
Setelah satu jam mendapat perawatan di klinik akhirnya Zahra sadar juga, ia mengamati sekeliling dan ternyata tidak di kedai lagi.
Ia melihat pak Dul yang tengah duduk menungguinya,
"Pak Dul, aku di mana?" tanyanya dan pak Dul pun segera mendekat.
"Mbak Zahra sedang di klinik. Tadi tangan mbak Zahra terluka."
Zahra pun akhirnya kembali mengingat kejadian tadi sebelum ia pingsan, ia pun segera melihat lengannya dan benar saja lengan bajunya sobek sebagian dan ada noda darahnya.
",Kok bisa pingsan ya pak?" tanya Zahra bingung sendiri, menurutnya lukanya tidak begitu parah.
Jangan-jangan aku hamil lagi, gimana kalau benar aku hamil,, batinhya sudah mulai panik sendiri.
"Kata dokter, mbak Zahra mengalami anemia jadi gampang pingsan!"
"Ohhh!?"
Syukurlah ...., Zahra mengusap dadanya lega.
"Trus kapan aku boleh pulang?"
"Kata dokter nunggu cairan infusnya habis, mbak!"
"Ohhh," jawab Zahra singkat, "Oh iya, pak Dul jangan kasih tahu ibuk atau bapak ya. Kan lagi pula nanti sudah boleh pulang!"
"Iya mbak!"
"Berenan mbak?"
"Iya, di sini kan ada dokter!"
Akhirnya setelah mendapat bujukan dari Zahra, pak Dul pun bersedia untuk meninggalkan Zahra.
Setelah pak Dul pergi, akhirnya Zahra pun memilih untuk kembali tidur. Itung-itung ia dapat libur gratis.
***
"Astaghfirullah hal azim!?" Zahra begitu terkejut begitu membuka matanya, perasaan ia sudah cukup tidur hari ini,
Tapi kenapa masih mimpi ...
Zahra berkali-kali mengucek matanya dan memastikan kalau ia sudah bangun.
"Dek, bagaimana keadaan dek Zahra?"
Dia juga bisa bersuara, ini sebenarnya ilusi macam apa?
"Ini Zahra masih mimpi ya?" tanyanya lagi.
"Enggak dek, ini emang mas!" jawab ustad Zaki.
__ADS_1
Ustad Zaki akhrinya benar-benar pulang hari ini, bukan karena Zahra marah padanya tapi ia mendapat kabar dari pak Dul kalau Zahra terluka dan di larikan ke klinik.
Meskipun sudah mendapat kabar lagi dari pak Dul kalau Zahra sudah baik-baik saja, tetap saja ia merasa tidak tenang, ia pun memutuskan untuk pulang hari ini juga dan memastikan kalau zahra benar-benar baik-baik saja.
"Mas ustad kenapa pulang?" Zahra mengedarkan pandangannya, ia mencari-cari kalender , "Sekarang masih hari Kamis kan, itu tandanya masih kurang tiga hari lagi kan?"
"Iya!" jawab ustad Zaki singkat.
"Lalu, kenapa sudah di sini?"
"Sini aku kasih tahu!" ucap ustad Zaki sambil meminta Zahra untuk mendekat dan Zahra pun melakukan apa yang di minta, ia mendekatkan wajahnya berharap sang suami membisikkan alasan kepulangannya.
Cup
Tapi ternyata sebuah kecupan mendarat di bibirnya membuat Zahra tercengang.
Ya ampun ..., bibir ini ...
Belum sempat Zahra menjauhkan bibirnya, ustad Zaki lebih dulu menarik tengkuk Zahra dan memperdalam ciumannya.
Tapi segera ustad Zaki teringat sesuatu, ia segera melepaskan ciumannya,
"Kenapa mas?" tanya Zahra sedikit kecewa.
"Tangan kamu masih sakit dek, takut nanti mas malah menyakitimu!"
Zahra hanya bisa mengerucutkan bibirny kurang suka dengan jawaban sang suami.
"Ya udah deh, kalau gitu aku mau peluk aja!"
Ustad Zaki pun tersenyum, ia berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping Zahra dan dengan cepat Zahra memeluk tubuh pria yang begitu ia rindukan itu.
"Bagaimana hari-hari dek Zahra tanpa mas?" tanyanya sambil mengusap kepala Zahra yang tertutup jilbab dengan lembut.
"Berat mas, seberat rindu Zahra buat mas ustad!"
"Aduhhhh, sudah pinter gombal ya sekarang," ucap ustad Zaki sambil mencubit hidung sang istri.
"Loro mas." keluh Zahra sambil mengusap hidungnya yang memerah.
...Cinta adalah perasaan yang harus diungkapkan karena cinta adalah kebahagiaan yang harus dimenangkan. Nikmatilah prosesnya di mulai dari hal-hal kecil, pada suatu hari mungkin kamu akan melihat ke belakang lalu menyadari bahwa itu merupakan hal yang besar....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.an85249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1