Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Saatnya jujur


__ADS_3

"Mas, mas berhenti!?" teriak Zahra saat mereka melintasi sebuah taman kecil yang berada di sudut kota, taman yang biasa di gunakan oleh pasangan muda atau para muda mudi sekedar nongkrong dan menikmati jajanan kaki lima.


"Ada apa dek?" tanya ustad Zaki yang mulai memelankan laju mobilnya, meminggirkan di salah satu bahu jalan.


"Mas, itu ada tukang bakso!?" ucap Zahra sambil menunjuk ke arah penjual bakso yang mendirikan tenda di trotoar.


"Tadi kan sudah makan! Masih lapar?"


"Mas ustad bencanda atau gimana? Lihat sendiri kan tadi porsinya seberapa, enak sih tapi cuma dikit, mana kenyang. Itu mah cuma nylempit di perut Zahra!" keluh Zahra panjang lebar.


"Tadi kenapa nggak minta tambah kalau kurang dek?"


"Ya malu lah, kan kesannya makan malam elegan, nggak ada mas kisah romantis yang saat makan malam romantis tiba-tiba si cewek minta nambah, kan malu-maluin."


"Siapa bilang!? Mas nggak malu tuh! Mas malah seneng kalau istri mas yang cantik ini doyan makan!"


"Isssttt," keluh Zahra, ia hampir saja membuka pintu mobil tapi dengan cepat ustad Zaki menahan tangannya,


"Tunggu dulu dek!"


"Ada apa?" tanya Zahra,


"Tunggu bentar!" ustad Zaki pun bergegas keluar dari mobil dan berlari mengitarinya, membuka pintu mobil yang ada di samping Zahra,


"Silahkan!" ucap ustad Zaki tapi ia sama sekali bergeming di tempatnya membuat Zahra mengerutkan keningnya.


"Bagaimana aku bisa turun kalau mas tetap di situ!?" tanya Zahra lagi.


Hehhhh ...


Ustad Zaki malah menghela nafasnya,


"Sebenarnya mas ingin sekali segera sampai di rumah!"


"Kenapa?"


"Pengen menghabiskan waktu bersama lebih banyak lagi, berdua saja!" ucap ustad Zaki dengan nada manja.

__ADS_1


"Ucu ucu ucu ...., manjanya suamiku! Tapi sayangnya perutku ini tidak terpengaruh dengan sikap manja mas ustad, gimana dong?"


"Ya mau bagaimana lagi, yahhh memang sebaiknya dek Zahra segera makan yang banyak biar nanti punya tenaga ekstra!"


"Hahhh ...,"


Maksudnya apa ya, aku kok jadi blank ya ....


"Ayo!?" belum selesai Zahra mencoba menerjemahkan makna tersirat dari sang suami, sang suami sudah lebih dulu menarik tangannya mengajaknya turun.


"Mau berapa mangkuk?" tanya ustad Zaki saat mereka sudah berada di dalam warung tenda bakso.


"Serius boleh makan sebanyak yang aku mau?"


"Hmmm!"


"Baiklah!" Zahra begitu bersemangat, ia memesan bebarapa porsi bakso untuk dirinya sendiri dan ustad Zaki hanya sibuk memandangi sang istri.


"Bagaimana? Sudah kenyang?" tanya ustad Zaki saat Zahra sudah menyelesaikan makannya.


"Kenyang mas!"


"Sekarang apa lagi?" Zahra sampai terdiam menatap suaminya tidak percaya.


"Ingat nggak sama Sunnah Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,”


Zahra menelan dengan begitu susah Salivanya, ia seperti tengah menyesali apa yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutnya,


"Kenapa ngingetinnya baru sekarang? Aku kan jadi nggak enak mas!"


"Tidak pa pa, mas hanya ingin dek Zahra tahu aja. Semoga di kesempatan lain, dek Zahra bisa lebih bijak dalam mengatur pola makan, selain menjalankan Sunnah juga untuk menjaga kesehatan. Makan terlalu berlebihan kan juga nggak baik buat kesehatan!?"


"Iya, maaf deh!?"


"Maafnya bukan sama mas, tapi sama tubuh dek Zahra sendiri!"


***

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai juga di rumah, Zahra sudah mengganti pakaiannya dengan baju rumahan yang lebih nyaman. Setelah membersihkan diri, ia pun segera menyusul sang suami yang sudah lebih dulu duduk di atas tempat tidur,


"Sudah selesai?" tanya ustad Zaki dan Zahra pun mengangukkan kepalanya, "Duduk sini!" ucapnya lagi sambil menepuk tempat kosong yang berada di sampingnya.


Tapi Zahra malah terlihat ragu,


Apa aku jujur sekarang ya? Benar kata Bu Chusna, aku yakin mas ustad tidak akan memaksakan kehendaknya, selama ini dia selalu bisa ngertiin aku, yang ini pasti juga bisa ...


"Ada apa dek? Mas punya salah ya sama kamu?" tanya ustad Zaki saat melihat Zahra yang malah terdiam di tempatnya.


"Enggak kok mas, sebenarnya Zahra_, Zahra mau ngomong sama mas, ini penting!?"


Ustad Zaki pun mengerutkan keningnya, ia menggeser duduknya hendak mendekati Zahra tapi segera di tahan oleh Zahra dengan gerakan tangannya,


"Di situ aja mas, biar Zahra yang ke situ!?"


Untuk pertama kalinya Zahra terlihat serius, membuat ustad Zaki merasa tidak nyaman,


"Dek, jangan buat mas takut!?"


Zahra pun segera duduk di tepi tempat tidur, lalu ia memiringkan tubuhnya hingga menghadap sang suami yang awalnya berada di belakangnya,


"Tapi janji ya, mas jangan marah!?" ucap Zahra lagi dan ustad Zaki pun mengangukkan kepalanya.


"Mas tidak mungkin bisa marah sama kamu, dek!"


Semoga benar ....


Zahra pun akhirnya menaikkan sebelah kakinya agar lebih nyaman duduknya, ustad Zaki pun menggeser duduknya agar lebih dekat.


..."Ada saatnya dalam hidup ketika kamu harus memilih untuk membalikkan halaman, menulis buku lain, atau hanya menutupnya." - Shannon L Alder...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2