Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 6 (Ngambeknya Zahra )


__ADS_3

"Mas ngeyel sih, sudah aku bilang kan dari tadi, zahra tidak kenapa-kenapa. Kesemangaten banget sih ke klinik." gerutu Zahra sepanjang jalan menuju ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Blitar.


"Ya kan mas cuma mau mastiin kalau dek Zahra baik-baik saja."


Zahra terus saja menggerutu, tapi ustad Zaki malah tersenyum melihat wajah kesal sang istri yang ia rasa begitu menggemaskan, apalagi tubuhnya yang sedikit berisi semejak hamil membuat Zahra semakin terlihat imut.


Tidak terasa setelah setengah jam akhirnya mereka sampai juga, ustad Zaki segera memarkirkan mobilnya.


"Kalau bisa nggak usah banyak jalan ya dek." sebelum masuk, ustad Zaki sudah lebih dulu mewanti-wanti Zahra.


"Trus milihnya gimana?"


"Biar mas aja yang milihin."


"Mana enaaak!?" ucap Zahra dengan di buat-buat.


Melihat tingkah sang istri, ustad Zaki malah mencubit hidungnya hingga membuat Zahra mengeluh kesakitan.


"Hidung Zahra sudah pesek, masih di tarikin lagi." keluh Zahra sambil memegangi hidungnya yang panas.


"Jangan banyak protes, ayo masuk." seolah tidak peduli dengan protes yang di lontarkan Zahra, ustad Zaki malah menggandeng tangan zahra dan mengajaknya masuk.


Sepanjang di toko, ustad Zaki benar-benar tidak melepaskan tangan Zahra,


"Kalau kayak gini gimana milihnya?" protes Zahra.


"Itu, tangan sebelahnya kan bisa." ucap ustad Zaki sambil menunjuk tangan sebelah kanan Zahra yang tidak di gandeng olehnya.


"Tetak aja mas, ini nggak nyaman."


"Baiklah, kalau nggak mau di gandeng. Berarti dek zahra cukup duduk dan mas yang akan pilih buat dek Zahra."


'Ahhhh, sama aja bo'ong,' batin Zahra kesal dan memilih untuk menyerah. Ia melanjutkan memilih keperluannya dengan tangan yang di gandeng suaminya.


***


"Dari mana, ustad?" tanya Amir yang entah sejak kapan menunggui mereka di depan rumah.


Zahra nylonong saja membuka pintu dan masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Amir membuat Amir keheranan.


'Ada yang salah,' batin Amir serba salah.

__ADS_1


"Sudah lama, Mir?"


Segera pertanyaan dari ustad Zaki mengalihkan perhatiannya, Amir pun kembali menoleh pada ustad Zaki yang masih berdiri di depannya.


"Lumayan, ustad."


"Duduk Mir." ucap ustad Zaki lagi sambil menunjuk pada kursi kosong yang ada di belakang Amir yang memang tadi menjadi tempat duduk Amir.


"Iya, ustad."


Setelah Amir duduk, ustad Zaki pun ikut duduk. Ia sejenak mengabaikan istrinya yang ngambek.


"Ada apa, Mir?"


"Ini ustad, jadi kemarin Amir ke Tulung agung. Kata mas Iyan, ustad Farid sudah benar-benar lepas dari kedai, jadi mas Iyan suruh saya serahkan beberapa berkas ini ke ustad." ucap Amir sambil menyerahkan beberapa map di tangannya.


"Oh iya, Terimakasih ya Mir. Sebenarnya ustad Farid sudah mengatakannya padaku, syukur deh kalau sudah kamu bawain jadi aku nggak harus ke Tulungagung dalam waktu dekat."


"Sibuk ya ustad?"


"Ya begitulah."


Amir kembali menoleh ke arah pintu yang terbuka, Zahra tidak kembali keluar untuk membawakan mereka minuman, Amir menelan Salivanya.


"Ya Allah mir, maaf ya hampir lupa. Sebentar!" ustad Zaki segera berdiri dan masuk ke rumah meninggalkan Amir.


Selang bebagai menit ustad Zaki kembali keluar dengan membawa dua gelas deh.


"Minum mir?"


"Iya ustad." Amir pun segera mengambil gelasnya dan mulai meminumnya, "Zahra marah ya ustad?" tanya Amir setelah kembali meletakkan gelasnya.


"Biasa, perempuan." ucap ustad Zaki sambil tersenyum teduh seperti biasa.


"Bukan karena Amir datang ke sini kan ustad?"


Ustad Zaki melebarkan senyumnya, "ya bukan lah Mir."


'Syukurlah.' batin Amir lega, ia ingat terakhir kali saat Zahra marah padanya, Zahra benar-benar membuatnya repot.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, ustad."

__ADS_1


"Iya, terimakasih ya Mir."


"Iya ustad, jangan sungkan. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah Amir pergi, ustad Zaki segera menyusul istrinya yang masih ngambek gara-gara ia larang pakek sambel pas beli bakso.


"Dek, mas masuk ya." ustad Zaki yang sudah tahu tidak akan mendapat jawaban pun segera masuk. Dan ia mendapati istrinya yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Beruntung tadi di jalan ia sempatkan mampir ke masjid untuk sholat ashar jadi ia bisa membiarkan sang istri tidur sampai menjelang magrib nanti. Walaupun tidak baik tidur menjelang magrib, tapi lebih tidak baik jika istrinya yang seharian tidak istirahat.


Ustad Zaki mengusap rambut Zahra yang tergerai tanpa terikat. Jilbabnya sudah terlempar ke atas kursi tidak jauh dari tempat tidur. Ustad Zaki tersenyum sambil memandangi wajah polos Zahra, wajah khas gadis berusia delapan belas tahun.


"Mas tahu, mungkin selanjutnya akan berat tapi insyaallah mas akan selalu ada buat dek Zahra."


***


"Awas ya kalau mas ustad ikut masuk!" ancam Zahra saat keluar dari dalam mobil.


"Tapi dek, mas_," ucap ustad Zaki tapi belum sampai selesai Zahra sudah lebih dulu menempelkan jari telunjuknya di bibir ustad Zaki.


"Nggak ada tapi ya, assalamualaikum." Zahra berlalu begitu saja meninggalkan ustad Zaki yang masih duduk di dalam mobil.


"Waalaikum salam." ustad Zaki menatap punggung gamis Zahra yang semakin menghilang, meskipun perutnya sudah mulai buncit karena postur tubuh Zahra yang mungil dan gamis yang longgar membuat perutnya tidak terlihat. Jika berpapasan dengannya, tidak akan ada yang mengira kalau Zahra tengah hamil.


Zahra sudah tahu dimana kelasnya karena ini hari keduanya, di tangannya juga sudah membawa setumpuk makalah yang siap di kumpulkan pada beberapa dosen untuk menutup keterlambatannya dalam beberapa materi.


Di kelas, Zahra juga mendapatkan teman baru, dasar Zahra yang mudah akrab membuatkan mudah mendapatkan teman.


Baru beberapa menit ia masuk, Zahra harus di kejutkan dengan dosen yang mengajar mata kuliah sejarah kebudayaan Islam kali ini, seorang dosen baru yang menjadi idola banyak mahasiswi.


'Mas ustad.' Zahra benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini, meskipun menjelaskan sang suami alias dosen barunya itu begitu enak tapi ia sama sekali tidak mengerti dengan yang di jelaskan karena sepanjang jam ia sibuk menatap sang suami dan beberapa mahasiswi yang menatap kagum pada suaminya.


'Dia sengaja ya mau buah aku cemburu , dasar .' umpat Zahra dalam hati kesal saat melihat suaminya terus melontarkan senyum sepanjang kelas.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig@ tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2