Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Berpamitan (Bayu)


__ADS_3

"Bagaimana dengan baksonya?" tanya ustad Zaki membuat Zahra terperanjat, ia baru saja menikmati wajah tampan suaminya bukan mengingat rasa bakso yang baru saja ia makan.


"Hahhh?" karena masih dalam mode terkejut, Zahra sampai tidak fokus dengan apa yang di tanyakan oleh sang suami.


Ustad Zaki pun segera menyolek hidung sang istri dengan lembut, senyumnya selalu berhasil membuat Zahra tak mampu berpaling darinya, lesung pipinya melengkapi kesempurnaan ciptaan sang Khaliq.


"Enak yang ini apa rasa baksonya?" tanya ustad Zaki lagi dengan nada yang begitu halus seolah-olah hanya dirinya dan Zahra saja yang mampu mendengarnya.


"Ini!" jawab Zahra dengan reflek.


Ustad Zaki tersenyum nakal, "Sudah aku duga!"


Melihat senyum nakal sang suami membuat Zahra tersadar,


"Apanya? Jangan berpikir mesum ya!?"


"Mana ada, aku hanya berusaha menyalurkan apa yang tengah dek Zahra pikirkan!"


"Sok tahu banget sih, udah ah ayo pulang!" Zahra segera meraih helm yang sedari tadi di letakkan di atas motor, ia tidak mau terjebak terlalu dalam dengan pertanyaan sang suami yang selalu berhasil membuat Zahra kelabakan.


Sekali lagi ustad Zaki tersenyum dan tangannya segera terulur ke dagu Zahra, dengan lembut ia membantu mengaitkan pengait helm yang di pakai Zahra,


"Manisnya!?" ucap ustad Zaki lagi saat Zahra malah terpaku dengan perlakuan manisnya.


"Apaan sih!" seketika pipi Zahra bersemu merah menahan malu karena selalu saja ketahuan mengagumi sang suami.


Ustad Zaki pun segera memakai helmnya sendiri dan duduk di jok depan,


"Sudah siap?" tanyanya lagi memastikan jika sang istri sudah berada di belakangnya.


"Hmmm!"


Ustad Zaki melirik tangan Zahra yang masih berpegangan pada ujung jaketnya, "Masak begitu tangannya!?"


Bawel banget ....


Walaupun menggerutu, tetap saja tangan Zahra terulur dan melingkar di pinggang sang suami, motor pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka sampai juga di jalan yang ada di depan rumah, tapi ustad Zaki menghentikan motornya di depan pagar saat melihat motor lain terparkir juga di sana,


"Dek, bukankah ini motor_?" ustad Zaki menghentikan ucapannya tapi segera di lanjut oleh Zahra saat melihat pemilik motor tengah berdiri di teras rumah mereka.


"Bayu!?" ucap Zahra dengan suara yang hampir tertahan di dalam tenggorokannya, perasaannya sudah tidak enak saat ia mengingat pertemuan mereka tadi di sekolah. Apalagi dengan kata-kata terakhir Bayu tadi,


Apa yang akan dia lakukan? batin Zahra dengan perasaan was was.


Ustad Zaki pun kembali melajukan motornya hingga sampai di depan rumah.


Setelah melepas helmnya dan memastikan Zahra juga melakukan hal yang sama, ia pun mendekati Bayu,


"Assalamualaikum Bayu, sudah lama?" tanyanya dengan ramah.


"Waalaikum salam, mas_, maksudnya suaminya Zahra!"


Mendengar penuturan Bayu, Zahra begitu terkejut.


Ya Allah, Bayu tahu dari mana? batin Zahra ia sampai pucat pasi mendengarnya.


"Boleh saya bicara berdua saja dengan Zahra?" tanya Bayu pada ustad Zaki, tapi tatapannya tidak pernah beralih dari Zahra.


"Maaf, tapi kalian bukan mahram, saya pikir tidak baik jika kalian bicara hanya berdua saja!"


Hehhhh


Terdengar helaan nafas dari Bayu, mau tidak mau ia harus terima jika apa yang di bicarakan dengan Zahra harus di dengar juga oleh ustad Zaki.


"Baiklah!" Bayu menyerah. Ia kembali menatap Zahra tapi dengan cepat Zahra menundukkan kepalanya begitu melihat tatapan ustad Zaki.


"Zahra, sampai saat ini aku masih mencintaimu, masih sangat-sangat mencintaimu. Jika kamu mengatakan, saat ini kamu bersedia memilih aku, maka aku akan dengan senang hati memperjuangkan mu tidak peduli sesulit apapun itu, walaupun aku harus bersaing dengan_!" Bayu beralih menatap ustad Zaki yang kali ini juga tengah menatapnya, "Dengan dia!"


Bayu memberi jeda lagi pada ucapannya, "Aku akan belajar seperti dia, biar orang tuamu setuju. Jadi aku mohon, saat ini juga katakan kalau kamu masih mencintaiku dan mau untuk aku perjuangkan!"


Zahra terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Bayu seserius itu, selama ini Bayu hanya anak motor yang tidak tahu aturan, tapi nyatanya ia sampai berjuang seperti itu untuk mendapatkannya.


Kini Zahra beralih menatap sang suami yang rupanya suaminya juga tengah menatapnya, tampak di wajahnya jika suaminya juga tengah menunggu keputusannya.

__ADS_1


Apa dek Zahra akan memilih Bayu di bandingkan aku? Mereka sudah kenal lebih lama, pastilah dek zahra masih sangat mencintai Bayu, batin ustad Zaki.


Hehhhhh ...


Zahra memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas kemudian membuka matanya lagi, ia kembali menatap Bayu yang masih menunggu jawabannya.


"Maaf, aku tidak bisa!"


"Kenapa?" tampak Bayu tidak terima dengan keputusan Zahra.


"Karena aku sudah menikah!"


"Tapi pernikahan. kalian bukan karena cinta, kamu menikah dengannya karena terpaksa, karena kamu tidak ingin melihat bapak kamu sakit kan?"


"Kamu salah Bay, kamu salah. Aku menikah dengan mas ustad karena aku ingin. Jadi sekali lagi aku katakan jangan pernah ganggu aku lagi, please!" Zahra menakupkan kedua tangannya di depan dada.


"Pergilah Bay!" usir Zahra lagi dan Bayu hanya tersenyum kecut dan menyambar jaketnya yang ia letakkan di sandaran kursi.


"Selamat tinggal Ra, setelah ini anggap kita tidak saling kenal, aku pergi!"


Bayu benar-benar meninggalkan mereka, tapi baru lima langkah dari tempatnya ia kembali berhenti,


"Assalamualaikum!" ucap ya tanpa menoleh.


"Waalaikum salam!"


Setalah mendapat jawaban ia segera melanjutkan langkahnya menghampiri motornya yang terparkir di luar pagar.


Bersambung


**Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2