Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Terjebak


__ADS_3

"Turunin, turunin!" Zahra terus menepuk dada ustad Zaki saat mereka sudah hampir berada di depan rumah.


"Tunggu bentar, kan belum Sampek di rumah!"


"Nanti Abi sama umi lihat!" keluh Zahra sambil berusaha melepaskan diri dari ustad Zaki.


"Memang kenapa kalau mereka lihat?" tanya ustad Zaki yang pura-pura tidak tahu kalau saat ini Abi sedang duduk di teras rumah karena cemas menantu serta putranya tidak kunjung pulang.


Melihat pemandangan itu, Abi segera berdiri sambil tersenyum, tidak lupa ia juga menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan putranya itu.


Ustad Zaki hanya tersenyum melihat ekspresi abinya, sedang Zahra yang masih memunggungi keberadaan Abi masih tetap berusaha memenangkan perdebatan dengan sang suami.


"Nanti malu mas dilihatin Abi sama umi,"


"Sekarang aja Abi sudah lihat!" ucap ustad Zaki dengan santainya.


"Hahhhh? Yang benar?" dengan cepat Zahra memutar kepalanya hampir sembilan puluh derajat demi bisa melihat ke belakang.


Ya ampuh malunya ...., dengan cepat Zahra menyusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami.


"Mi, umi!" panggil Abi pada sang istri, karena yang umi tidak kalah cemasnya menunggu kepulangan mereka, "Lihat nih kelakuan anak jaman sekarang, bikin iri saja!" ucap Abi lagi masih sambil menggelengkan kepalanya.


"Assalamualaikum!" sapa ustad Zaki sambil berjalan mendekati abinya bersamaan dengan.keluarnya sang umi.


"Waalaikum salam!" jawab abi dan umi bersamaan.


"Masih tetap mau di gendong?" bisik.ustad Zaki pada Zahra.


"Aduhhhhh!" seketika ustad Zaki mendapat cubitan dari Zahra di bagian dadanya dan dengan reflek ustad Zaki menurunkan Zahra.

__ADS_1


"Zahra masuk dulu!" tanpa berani menatap Abi dan uminya, Zahra segera berlari ke kamarnya meninggalkan sang suami.


"Zaki, Zaki!" umi terlihat menggelengkan kepalanya pada putranya itu, "Jahilnya nggak ketulungan, tuh Zahra nya jadi malu kan!"


Ustad Zaki tersenyum mendengarkan protes dari sang umi.


"Kok pulangnya malam sekali, mampir ke mana dulu?" tanya Abi karena selisih mereka pulang dengan kepulangan ustad Zaki hampir dua jam.


"Tadi Zaki harus bahas soal pengajian di kampung sebelah bi."


"Tahu gitu kan Zahra, Abi susulin!"


Ustad Zaki hanya bisa menggaruk kepalanya karena merasa bersalah,


"Iya, Zak! Zahra pasti Sampek jenuh nunguin kamu!"


"Maaf bi, umi! Zaki lupa tadi!"


Akhirnya ustad Zaki pun masuk ke dalam kamar, ia melihat Zahra yang sudah tertidur pulas tanpa melepaskan hijabnya, sepertinya ia benar-benar ngantuk hingga tidak sempat mengganti bajunya.


Ustad Zaki mendekati istrinya, ia duduk di samping Zahra, melepaskan pecinya dan meletakkannya di meja kecil yang ada di samping tempat tidur hingga membuat rambut depan ustad Zaki jatuh bebas mengenai dahinya, dengan jari-jari tangan kanannya ia menyisir rambutnya itu agar sedikit menyingkir dari dahinya. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum ketikan menyadari sesuatu,


"Dia cantik sekali, ya Allah!" gumamnya, rasanya tidak pernah puas memandang wajah istrinya.


"Ya Allah, Engkau yang mempertemukan kami dalam ikatan suci ini, maka akan aku serahkan pada-Mu untuk menjaga hubungan ini!" ucapnya sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Zahra.


Melihat Zahra yang kurang nyaman tidur menggunakan hijab, ustad Zaki pun kembali mendekatkan tubuhnya, ia menselonjorkan kakinya tepat di samping Zahra, bahkan kaki mereka berdekatan.


Tangannya dengan begitu pelan mencoba membuka kancing yang mengaitkan dua bagian jilbab segi empat yang ada di bawah dagu Zahra,

__ADS_1


Dengan penuh kesabaran akhirnya terlepas juga, ustad Zaki mengangkat kepala Zahra dengan begitu lembut agar bisa mengambil jilbab yang ada di bawah kepala Zahra.


"Ehhhhmmmm!" tapi ternyata hal yang di lakukan ustad Zaki itu berhasil membuat Zahra terusik tidurnya, Zahra menggerakkan tubuhnya hingga tanpa sadar roknya tersingkap hingga ke atas lutut dan kaki mulus Zahra menimpa pangkuan ustad Zaki.


"Astaghfirullah hal azim!" ustad Zaki begitu terkejut, sepertinya ia lupa jika yang ada di depannya sudah halal.


Seketika keringat dingin membasahi dahi ustad Zaki, tangannya segera mengusap keringat yang ada di keningnya itu.


Bukannya semakin turun, rok itu malah semakin naik saat ustad Zaki berusaha untuk menyingkirkan kaki Zahra dari atas pahanya.


"Ya Allah, godaan apa lagi ini." ustad Zaki untuk kesekian kalinya mengusap keningnya yang berkeringat.


"Ehhhhmmmm!" lagi dan lagi, bukannya semakin menjauhkan tubuhnya, Zahra tanpa sadar semakin memeluk perut ustad Zaki hingga membuat pria itu tidak bisa berkutik lagi.


Akhirnya yang bisa di lakukan ustad Zaki saat ini hanya mengambil selimut yang ada di bagian bawah kaki Zahra dengan kakinya, dengan susah payah akhirnya selimut bisa juga berada di tangannya.


Ustad Zaki pun mengurut tubuh mereka dengan satu selimut agar ia bisa terhindar dari paha mulus Zahra. Ini pertama kalinya Zahra tidur dengan rok, dan hal itu berhasil membuat sang suami gagal fokus.


Apalagi saat ini, saat ustad Zaki ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping ia tidur, Zahra semakin agresif saja, bukan hanya kaki tapi tangannya juga menimpa tubuh sang suami, apalagi kini ia sepertinya tengah mencari kenyamanan dengan menyusupkan wajahnya ke atas dada sang suami membuat ustad Zaki benar-benar tidak bisa bergerak lagi.


"Ini cobaan apa berkah ya!?" gumam ustad Zaki lagi, jika Zahra melakukan itu dalam keadaan sadar mungkin ia tidak akan ragu untuk membalas pelukan itu, tapi sekarang benar-benar membuatnya tersiksa apalagi saat ia merasakan ada yang meronta di bawah sana.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2