
"Bukan!?" sekali lagi Zahra mengibaskan tangannya tidak setuju.
"Trus apa dong?"
"Itu mas, yang gold atau yang hitam, kecil, tipis!" Zahra memberi isyarat dengan tangannya menggambarkan apa yang tengah ia harapkan akan di berikan oleh sang suami.
"Apa sih, mas nggak ngerti!?" ustad Zaki sampai menyerah menebak apa yang diinginkan istri kecilnya itu.
"Ihhhh, nggak faham deh." keluh Zahra, "Masak sih nggak pernah baca-baca novel gitu."
"Pernah!"
"Novel apa yang mas baca?"
"Novel-novel Harry Potter, apa lagi ya mas lupa, sudah lama soalnya!"
"Bukan itu, novel romantis mas!?"
"Ada!" ucap ustad Zaki dengan begitu yakin.
"Apa?"
"Ayat-ayat cinta!"
Ya memang romantis sih, tapi nggak ada adegan itunya!?" keluh Zahra lagi.
"Apa sih dek, kenapa jadi bahas novel? Dek Zahra mau mas beliin novel?"
Ya ampun, mas aku harus to the point, kan nggak lucu ..., batin Zahra bingung harus mengatakan bagaimana.
Baiklah, baiklah ... , kayaknya kalau di ambil pekanya, nih orang nggak bakal peka-peka , tak ngomong ae lah bene ora ribet ...
"Gini ya mas," Zahra sengaja memberi jeda pada ucapannya agar sang suami mengerti, "Jadi kalau berdasarkan novel romantis yang Zahra baca, kalau cowok, atau suami kalau udah cinta sama pasangannya pasti bakal kasih kartu_!"
"Kartu keluarga!" potong ustad Zaki.
"Tunggu dulu mas, jangan di potong. Rumasane ayam main potong aja!" protes Zahra dan hal itu malah terlihat lucu di mata ustad Zaki, ia terus tersenyum melihat setiap ekspresi yang keluar dari wajah sang istri.
"kartu kredit yang unlimited, yang warna gold atau yang warna hitam. Gimana? Kan mas ustad pengusaha, masak istri pengusaha nggak punya kartu itu sih!"
Ustad Zaki mengerutkan keningnya, lalu menatap Zahra dengan tatapan yang membuat Zahra sedikit takut,
Salah ya ngomongnya ...., batin Zahra sambil berusaha menghindari tatapan sang suami.
"Memang uang jajan yang mas kasih kurang?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Ya, ya_ enggak sih!?"
"Kalau nggak kurang, ya nggak usah."
"Tapi kan_!"
"Allah aja ngasih yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, kenapa mas harus ngasih yang dek Zahra inginkan? Sekarang beri mas alasan yang masuk akal! agar mas bisa ngasih itu sama kamu!"
Berat banget pertanyaannya ...,
"Nggak jadi deh, lain kali aja!" Zahra memilih menyerah dari pada berdebat dengan sang suami yang nggak akan pernah ia menangkan.
"Tapi jangan khawatir karena mas punya kejutan lain buat dek Zahra!?"
Kartu yang lain ..., seketika mata Zahra berbinar-binar.
"Di mana kejutannya?"
"Tutup mata dulu dong!?" ucap ustad Zaki lalu mengikatkan sebuah kain kecil di mata Zahra,
"Aku nggak bisa jalan mas kalau gelap gini!?"
"Nggak usah jalan, kan mas gendong!" ustad Zaki segera mengangkat tubuh Zahra ke dalam gendongannya dan membawanya ke kamar, ia segera menurunkan sang istri tepat di depan kamar dan menutup kembali pintu kamarnya.
Ustad Zaki segera membuka penutup matanya, seketika Zahra tercengang,
Ya ampun ..., nih taman kota apa kamar ..., batin Zahra saat melihat begitu banyak lilin yang menyala dan beberapa bunga terpajang di sana.
"Mas sengaja siapin ini untuk malam romantis kita!" ucap ustad Zaki lagi.
"Ahhh iya ...!" Zahra malah merasa bingung dengan standart romantis yang ia pikirkan dengan yang di pikirk suaminya jauh berbeda.
"Dek Zahra suka?"
Zahra pun segera mengangukkan kepalanya, "Suka!?"
Padahal lebih romantis kalau langsung ...., batin Zahra sambil menatap bibir sang suami yang terlihat lebih menggoda di bandingkan dengan lilin-lilin itu.
Srekkk
Tapi sepertinya mereka sepemikiran karena kini sang suami sudah menarik tubuhnya hingga begitu dekat dengannya, ia bisa mendengar detak jantung sang suami yang memburu itu,
Mas ustad juga deg deg an ya .... batinnya, hampir saja ia mendekatkan telinganya ke dada sang suami tapi tiba-tiba tangan ustad Zaki sudah lebih dulu menarik dagunya hingga kini kepalanya mendongak,
Cup sebuah kecupan langsung mendarat di bibirnya, seketika mata Zahra terbelalak, tapi sentuhan di bibirnya membuat semua urat nadinya seperti terlepas satu per satu dari tubuhnya hingga ia tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya, beruntung tangan sang suami sudah sigap menopang tubuhnya membawanya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Satu belaian saja sudah berhasil menarik lepas gamis rumahan yang tengah ia kenakan, dengan penuh kerakusan sang suami menjamah tubuhnya.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang panjang bagi sepasang makluknya yang tengah melepas rindu, menjadi lama yang penuh dengan keintiman, melepaskan rasa yang sudah menahannya beberapa hari ini,
Sepetinya semua rasa itu telah membuat mereka kalut dalam malam yang dingin itu, menikmati setiap detik waktu yang mereka lewati bersama, menikmati setiap nada indah yang keluar dari pergulatan mereka.
Malam yang telah bersahabat dengan dingin, seperti rembulan yang datang bersama kemerlapnya bintang, embun yang mulai membasahi pucuk dedaunan, seperti itulah rindu yang tertanam di hati ustad Zaki untuk sang istri.
"Astaghfirullah hal azim!?" ustad Zaki terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya yang masih belum mengenakan sehelai benang pun begitu juga sang istri yang tengah tidur terlelap di sampingnya, ia melihat kembali jam yang menggantung di dinding, jarum sudah menunjuk ke angka tiga. Rasanya tidak tega membangunkan sang istri, wajahnya tampak begitu lelah karena ulahnya semalam.
Ia pun segera menyambar celana pendek yang berada tidak jauh dari tempatnya, dengan cepat memakainya kemudian mendekat pada sang istri, meninggalkan kecupan di keningnya, bukan membangunkannya, ia memilih untuk menarik selimut dan menutupi tubuh sang istri dengan selimut tebal itu agar tidak kedinginan lalu meninggalkannya ke kamar mandi.
Setelah mandi dan bersuci, ia pun segara melaksanakan sholat tahajud seperti biasa sembari menunggu waktu shubuh,
Tepat pukul empat, ustad Zaki pun segera menghampiri sang istri,
"Dek, bangun sudah subuh!"
Terlihat Zahra begitu malas untuk membuka matanya, tapi sebuah kecupan di bibirnya seketika membangunkan,
"Ya Allah , ternyata baru mau bangun kalau mas cium,!?" ucap ustad Zaki sambil tersenyum setelah ia menjauhkan bibirnya.
"Capek mas!?" keluh Zahra sambil meregangkan tubuhnya.
"Mandi trus sholat dulu, habis sholat boleh tidur lagi. Biar mas yang siapin sarapan, berangkat magang agar siangan nanti mas yang ijinkan!"
Dia bos nya, mau ijin sama siapa ..., batin Zahra sambil menatap tidak percaya pada suaminya.
"Ayo deeeekkkk, mas sudah siapin air hangat di kamar mandi, tinggal mandi!"
"Iya, iya ..., sabar!?" Zahra terlihat begitu berat bangun dari tempatnya, "Dia itu tenaganya baja apa, bisa sesegar itu habis ituan semalaman, aku aja badan kayak remuk!" gerutu Zahra sambil berjalan ke kamar mandi.
...Mencintai memang butuh proses tapi mempertahankan itu butuh usaha...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1