
Kini semua karyawan yang tidak bertugas pun akhirnya duduk di ruangan yang katanya adalah ruang owner kedai ini, dan Zahra tengah berdiri mengitari mereka.
Wahhh, wahhh, wahhhh, ini keren ..., rasanya kayak Bu bos beneran ...., batin Zahra, yang sebenarnya tengah menahan tawa melihat wajah-wajah tegang dari sekitar lima orang yang tengah berkumpul di depannya.
"Jadi, siapa yang mau cerita duluan?" tanya Zahra sambil menatap satu per satu karyawan.
Terlihat mereka saling melempar tanggung jawab untuk menjawabnya. Wajah mereka semakin tegang mendapat tatapan yang aneh dari Zahra.
"Baiklah, aku ganti deh konsepnya." Zahra tampak kembali berpikir,
" Jadi apa benar kedai ini milik mas ustad?" tanyanya, tapi segera Zahra meralat pertanyaannya, "Maksudnya ustad Zaki?"
Mereka masih saling berpandangan, saling menyudutkan satu sama lain dengan saling tunjuk siapa diantara mereka yang akan menjawab.
Melihat perdebatan mereka, membuat kepala Zahra semakin pusing, ia sampai memegangi kepalanya.
"Wes, wes, gini aja." Zahra segera melerai perdebatan mereka, "Kalau kalian terus berdebat kayak gitu nggak bakal kelar urusannya. Gini aja deh kalian harus jawab semua!" ucap Zahra sok bijak,
"Apa bener ini kedainya mas ustad?" tanya Zahra dengan tegas dan semuanya pun hanya bisa mengangguk.
Jadi bener ini punyanya mas ustad? Lalu kenapa harus di sembunyikan?
Brakkk
Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan pak Dul muncul dari balik pintu itu dengan nafas yang tersengal-sengal "Mbak Zahra!?"
Panggil pak Dul yang tampak baru saja berlari. Zahra pun segera menoleh ke pintu, wajah pak Dul tampak panik.
"Mbak Zahra, saya bisa jelaskan!" ucap pak Dul.
"Ya memang itu yang Zahra tunggu dari tadi!" Zahra merasa lega akhirnya yang di tunggu dari tadi datang juga, Zahra kembalienolej pada kelima karyawan kedai,
"Baiklah kalian boleh keluar, saya mau bicara berdua saja sama pak Dul!"
Akhirnya mereka merasa lega, mereka pun begitu bersemangat untuk bangun dari duduknya,
"Baik!"
kelima orang itu pun segera beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan.
"Tunggu sebentar!" cegah pak Dul membuat Zahra maupun kelima karyawan itu menoleh padanya.
"Ada apa lagi pak Dul?" tanya Zahra yang sudah jengkel.
"Biar Desi di sini!" ucap pak Abdul dan seketika wajah Desi yang mulai sumringah kembali di tekuk.
"Buat apa?" tanya Zahra.
"Rasanya tidak baik antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua di dalam satu ruangan!" jelas pak Dul, selain itu pak Dul merasa Desi lah uang paling bertanggung jawab atas kejadian hari ini, karena kelalaian Desi, hingga membuat Zahra mengetahui semuanya.
Hehhhh ...
Zahra hanya bisa menghela nafas,
Lagi pula aku juga bukan pecinta bapak-bapak kali pak Dul ...., batin Zahra.
"Baiklah, baiklah ...!"
Akhirnya di ruangan itu tinggal tiga orang, Zahra, pak Dul dan Desi. Desi berdiri di belakang pak Dul Sedangkan Zahra duduk di sofa kecil yang di pisahkan meja yanga ada di depan sofa panjang yang tengah di duduki oleh pak Dul.
"Sekarang pak Dul sudah bisa mulai cerita!" ucap Zahra yang telah siap mendengarkan semuanya dari pak Dul.
"Dari mana mbak?" tanya pak Dul bingung harus memulai ceritanya dari mana.
"Kenapa jadi pak Dul yang tanya Zahra!?" Zahra sendiri bahkan tidak tahu dari mana ia harus mendengarkan ceritanya, karena menurutnya ini sudah terlalu jauh. Bahkan untuk marah pun ia tidak tahu bagaimana cara untuk memulai marah, atau mungkin dia harus senang karena nyatanya sang suami bukan hanya seorang ustad yang bayarannya tidak seberapa jika di hitung dari materi, tapi dia juga seorang pengusaha.
Pak Dul pun akhirnya mulai bercerita,
"Awalnya ustad dan saya tidak tahu kalau mbak Zahra magang di tempatnya ustad Zaki, mbak!"
__ADS_1
"Lalu?"
"Karena sudah terlanjur, akhirnya ustad Zaki meminta kita semua untuk menyembunyikan jati dirinya di depan mbak Zahra."
"Berarti mas ustad memang sengaja dong menyembunyikan ini dari Zahra?" tanya Zahra dengan wajah tidak terima.
"Mungkin belum waktunya, mbak!"
"Trus kapan dong waktunya?"
"Kalau Mbak Zahra tanya saya, saya mau tanya siapa!?" jawab pak Dul yang tidak mau kalah.
"Ya tanya mas ustad lah,"
"Ahhh iya, kenapa nggak kepikiran ya mbak!" jawab pak Dul sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hhhhh, tunggu deh. Kalau tanya mas ustad nanti malah tambah runyam urusannya, jangan deh,
"Eitsss ..., nggak usah tanya deng, biarin aja." Zahra pun segera meralatnya.
"Lalu,?"
"Ya udahlah, kerja lagi. Aku juga mau kerja!" ucap Zahra sambil berdiri dari duduknya dan berjalan mendahului mereka hendak keluar ruangan, hal itu malah membuat pak Dul dan Desi bingung.
"Tunggu Zahra!?" Desi berusaha menghentikannya.
"Apa lagi?"
"Kamu yakin mau kerja?" tanya Desi sambil menoleh ke pak Dul meminta persetujuannya,
"Maksudnya?" tanya Zahra lagi yang tidak mengerti.
"Memang mbak Zahra tetap mau kerja? Kan ini punya suaminya mbak Zahra?" tanya pak Dul mempertegas pertanyaan Desi.
Benar juga ya..., eh tunggu. Yakin begitu? Kemari. aja pas bolos sekolah, di rumah masih di kasih tugas, kalau aku nggak selesaikan magangku bisa-bisa aku nggak dapat nilai dong trus suruh ngulang satu tahun lagi, nggak ah ...., batin Zahra sambil menggelengkan kepalanya, ngeri sendiri membayangkannya.
"Emang pak Dul yakin, kalau aku nggak kerja aku tetap dapat nilai?" tanya Zahra memastikan. Jika pak Dul sampai mengatakan iya, mungkin Zahra akan mempertimbangkannya untuk tidak kembali bekerja.
Hehhhh, sudah ku duga ..., batin Zahra kesal.
"Nah itu tahu!" jawabnya kemudian dan Zahra pun melanjutkan langkahnya.
Akhirnya Zahra maupun pak Dul kembali bekerja seperti tidak terjadi sesuatu, hanya saja beberapa karyawan nampak saling berbisik tentunya menggosipkan tentang Zahra, beberapa dari mereka memang ada yang belum tahu jika Zahra istri dari pemilik kedai ini, termasuk Heni.
Weni pun juga baru tahu kalau ustad Zaki adalah pemilik kedai itu.
"Wen, janji ya nggak usah cerita-cerita sama orang kampung kalau kedua itu milik mas ustad ya!" ucap Zahra saat berada di dalam mobil ketika pulang.
"Termasuk ibuku?" tanya Weni. Zahra pun tampak berpikir,
Kayaknya kalau Bu Marni sudah tahu dari awal deh, aku aja yang nggak sadar ...
"Kalau ibuk kamu boleh deh," jawab Zahra memberikan pengecualian.
"Baik mbak!"
Setelah mengantar Weni, pak Dul pun lanjut mengantar Zahra hingga ke rumahnya,
"Nggak mampir pak Dul?" tawar zahra saat akan turun.
"Nggak usah mbak, saya lanjut saja!"
"Baiklah, Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Zahra berjalan cepat masuk ke dalam rumah, setelah memastikan Zahra benar-benar masuk barulah pak Dul melajukan mobilnya.
"Assalamualaikum, buk, pak!" sapanya begitu melewati bapak dan ibuknya yang tengah menonton tv.
__ADS_1
"Waalaikum salam!"
"Santai banget pak, nggak ke masjid?" tanya Zahra, biasanya jam segini bapaknya sudah siap-siap pergi ke masjid.
"Bentar lagi, tumben sampek sore. Rame ya kedainya?" tanya pak Warsi.
Zahra cerita nggak ya sama mereka, batin Zahra bingung.
Nggak ah, lain waktu aja ...
"Iya pak, agak rame! Ya udah Zahra masuk dulu, gerah mau mandi!"
"Iya sana!"
Zahra pun segera masuk ke dalam kamar, ia meletakkan begitu saja tasnya di atas tempat tidur lalu menyambar handuk yang tergantung di jendela kamarnya yang terbuka,
"Buk, klambiku isuk mau Nek endi?" teriaknya sambil mencari-cari baju yang ia pakai semalam.
"Ibuk cuci," jawab Bu Narsih dari ruang tengah.
"La Iyo, Nek endi saiki?"
"Nek mburi, Zah! Durung ibuk angkat jemurane!"
"Isstttt, ibuk kebiasaan!" gerutu Zahra, ia pun kembali keluar kamar dan melewati ibuknya yang masih duduk sendiri menonton tv, sedangkan pak Warsi sudah berangkat ke masjid.
"Zahra manis Nek belakang AE Yo buk, kamar mandi Zahra krannya rusak!"
"Mosok sih?"
"Nggak percoyo, Yo cek'en buk!" ucap Zahra sambil berlalu meninggalkan ibuknya.
Bu Narsih hanya menggelengkan kepalanya menanggapi sikap putrinya yang masih suka bar bar itu, Bu Narsih pun segera mematikan tv nya, ia menuju ke kamar putrinya.
"Astaghfirullah hal azim, nih anak wedok! wes dwe bojo barang kelakuane jan nggilani!" gerutunya sambil membereskan kamar Zahra yang begitu berantakan, sepatu, baju, jilbab bertebaran tidak pada tempatnya.
"Untung ustad Zaki orangnya sabar, kalau enggak bisa darah tinggi dia ngurusin Zahra!"
Kring kring kring
Berkali-kali ponsel Zahra berbunyi, tapi Bu Narsih tampak ragu untuk mengeceknya.
"Nanti aja lah, nunggu Zahra kembali!" Bu Narsih pun memilih kembali keluar sambil membawa baju kotor Zahra,
"Arep gowo nek endi buk, bajune Zahra?" tanya Zahra yang baru saja keluar dari kamar mandi belakang.
"Di cuci, Zah!"
"Ohhh, o iya, wes di cek durung buk kran kamar mandi Zahra?"
Bu Narsih menepuk keningnya, gara-gara melihat kamar zahra yang berantakan ia sampai lupa dengan tujuan utamanya masuk ke kamar Zahra,
"Ibuk lali, yo wes lah, nanti biar di cek bapakmu! Oh iya ponselmu bunyi terus, cepetan lihat sana siapa tahu ada yang penting!"
"Iyo buk!"
Zahra pun berjalan cepat ke kamarnya.
...Jangan pernah menyesali masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupmu, karena masa lalu adalah pelajaran yang nyata. Ada begitu banyak cara agar kita bisa maju, akan tetapi hanya ada satu cara untuk tetap diam. Jangan pernah berharap bahwa jalan hidup mu akan seperti jalan hidup orang lain. karena setiap jalan yang kita pilih merupakan sesuatu yang unik, seperti kita....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...