
"Painem, Painem ..., memang uang sepuluh ribu kalau di pelototin gitu bisa berubah jadi seratus ribu apa!?"
Zahra cukup terkejut dengan suara itu, ia segera mencari sumber suara. Dan pria yang sama seperti waktu itu,
Zahra pun segera berdiri dan berkacak pinggang"Tahu sopan santun nggak, kalau datang tuh salam disik, Ojo ujug-ujug teko ..., nggak dwe sopan ...( jangan tiba-tiba datang, nggak punya sopan)!"
Dan Farid pun tersenyum, "Assalamualaikum Painem!"
"Waalaikum salam!" jawab Zahra ketus, ia pun segera berbalik dan berjalan meninggalkan Farid, dan Farid pun memilih mengikuti Zahra.
Rupanya Farid yang tengah mencari jajanan untuk oleh-oleh pulang tidak sengaja melihat Zahra, awalnya ia tidak yakin jika itu Zahra tapi saat didekati ternyata itu memang Zahra, sebelum itu ia juga menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan pada ustad Zaki dan memastikan jika itu benar istrinya.
"Ngapain sendiri? Mana ustad Zaki?" tanya Farid sambil terus berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Zahra yang masih sibuk memilih jajanan yang mungkin sangat ia inginkan.
"Sebenarnya ingin beli apa sih, dari tadi keliling terus nggak beli-beli!?" tanya Farid lagi dan Zahra masih terus saja mengabaikan Farid.
"Ampun deh, nih Painem. Orang dari planet mana sih di ajak bicara orang kok nggak bisa!?" keluh Farid dan kali ini langsung berhasil membuat Zahra berhenti dan berbalik padanya.
Zahra berkacak pinggang,
"Bisa diam tidak sih, aku lagi pusing ini. Pertama ya, mas ustad lagi sibuk di pesantren jadi aku jalan-jalan sendiri, kedua aku pengen beli semuanya, tapi tahu kan uangku hanya sepuluh ribu dan yang terakhir, ingat nama aku bukan Painem, bukan PAINEM! Jadi jangan panggil aku Painem lagi!?" ucapnya panjang lebar lalu kembali berbalik menatap begitu banyak warung tenda yang menjajakan jajanan.
Hehhh ...., gimana ini ..., batinnya. Ia ingin rasanya memakan semuanya tapi apa daya uangnya tidak sampai.
"Ohhh, jadi begitu masalahnya!?" ucap Farid sambil mengangukkan kepalanya.
Oh iya, kan ada nih orang, kenapa nggak kepikiran ya ..., batin Zahra lagi, ia pun kembali berbalik dan tersenyum pada Farid membuat Farid memundurkan tubuhnya.
"Kenapa tersenyum seperti itu padaku?"
"Jangan PD dulu,"
"Abis gimana lagi, kamu tadi judes tiba-tiba senyum gitu!"
"Jadi begini ya, kamu kenal sama mas ustad kan?"
"Iya!"
"Kalian temenan sejak kecil kan?"
"Iya!"
"Kalian pasti sangat akrab kan?"
"Iya!"
"Jadi_!" ucap Zahra sambil tersenyum mencurigakan.
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadi pinjami aku uang seratus ribu,"
"Seratus ribu!?" Farid begitu terkejut, "Banyak banget, buat apa?"
"Kamu tahu kan, uang aku cuma sepuluh ribu. Nggak cukup buat beli semuanya. Pumpung aku di Bandung, aku kan pengen makan jajanan khas Bandung. Ada beberapa jajanan yang belum pernah aku temui di Blitar, makannya aku pengen beli."
"Tapi Painem_!"
"Hustttt, stop. Namaku bukan Painem ya, aku Zahra, ZAHRA!" Zahra sampai mengeja setiap huruf dari namannya agar Farid tidak memanggilnya Painem lagi.
"Baiklah Painem, ehhh maksudku Zahra, uang seratus ribu itu banyak. Seratus ribu memang mau kamu habiskan buat jajan saja?"
"Pelit banget jadi orang!" gerutu Zahra lirih, "Aku kan minjem Paijo, nggak minta!?"
"Siapa Paijo?"
"Kamu Paijo!?"
"Enak aja ganti ganti nama orang, sudah bagus Farid di ganti Paijo!"
"Baiklah Parid_!"
"Farid, FARID, pakek F bukan P!" ternyata Farid bisa juga kesal mengahadapi Zahra.
"Terserah lah, Parid!"
"Astaghfirullah, Farid, Farid bukan Parid. Emang aku pematang sawah apa ada Parid!"
"Enak aja, Nggak sopan tahu!?"
"Ya udah, tunjukin, uang kamu berapa!?"
Karena Zahra terus memaksa, Farid pun terpaksa mengeluarkan uang dari dompetnya,
"Aku cuma punya ini yang tunai, kalau mau lebih tunggu aku ambil dulu di ATM!?" ucap Farid sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan, selembar dua puluh ribuan, dan beberapa lembar uang lima ribuan.
"Memang mesin ATM nya di mana?" tanya Zahra sambil mengedarkan pandangannya.
"Dekat halte, aku harus naik angkot sekitar lima menit dari sini!?"
"Enggak, enggak, entar kamu kabur lagi. Lagi pula aku juga lupa jalan pulang, sekalian ya nanti barengan pulangnya!?"
"Ya Allah, bisa-bisanya aku ketemu makluk yang kayak gini!?" keluh Farid sambil mengusap pecinya.
"Memang aku gimana!?" protes Zahra.
"Sudah lah, ayok. Ya udah aku ngalah nggak usah beli oleh-oleh, sekarang kamu jajan sepuasnya sampai uangku habis. Itung-itung kamu istri temenku!?"
"Nah gitu kek dari tadi!"
__ADS_1
Akhirnya Farid menuruti setiap apa yang di inginkan Zahra, ia persis seperti kakak yang tengah menemani adiknya jajan, hanya terus mengekor tanpa berniat membeli untuk dirinya sendiri.
Di tempat lain, setelah selesai kelasnya, ustad Zaki buru-buru keluar. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di ruang guru agar bisa konsentrasi mengajar,
"Ustad, tadi ponsel ustad terus bunyi, siapa tahu penting!?" salah satu ustad Zaki sedari tadi sibuk di dalam ruang guru memebritahu ustad Zaki saat ustad Zaki hendak duduk.
"Iya ustad, terimakasih!?" ucap ustad Zaki.
Setelah berbasa-basi dengan ustad-ustad yang lainnya, ia pun segera mengambil ponselnya yang ia sembunyikan di dalam laci.
Dan benar saja, ada pesan dari Zahra,
//Mas, Zahra pergi jalan-jalan sebentar ya, nggak jauh//
Melihat pesan itu, ustad zaki segera kembali berdiri dari duduknya. Ia segera meninggalkan ruang guru dan memilih tempat sepi untuk melakukan panggilan telpon.
Sudah berkali-kali ia menghubungi Zahra, tapi tidak juga di angkat meskipun terhubung.
"Astaghfirullah, di mana kamu dek!?" gumamnya sambil terlihat cemas, kemudian ia melihat ada satu lagi pesan, itu pesan dari ustad Farid.
//Assalamualaikum bro, aku kayaknya lihat istri kamu di taman, sama kamu ya?//
"Di taman!?"
Ustad Zaki pun segera menghubungi ustad Farid, dan hanya dengan satu kali panggilan saja langsung tersambung,
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
"Kamu masih sama dek Zahra?"
"Iya!?"
"Tetap di situ ya, saya akan nyusul. Assalamualaikum!?" ucapnya tanpa menunggu jawaban salam dari seberang sana, ia segera menutup telponnya.
Tanpa berpamitan pada ustad-ustad yang lain, ia segera pergi. Tapi saat hendak ke parkiran langkahnya sejenak terhenti saat berpapasan dengan ustadzah Nafis,
"Assalamualaikum ustad!"
"Waalaikum salam, maaf ustadzah saya buru-buru!"
Ustad Zaki memilih berlalu meninggalkan ustadzah Nafis yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap kepergian ustad Zaki.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...