Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 3 (Takdir terindah)


__ADS_3

"Ya udah ibuk tinggal ke belakang dulu ya, ibuk tadi masih ngupas benguk."


(Sedikit penjelasan tentang Kara benguk, kara benguk atau kacang babi (Mucuna pruriens) adalah tumbuhan merambat dengan tinggi 6 m. Daun dan polong yang masih muda dapat dimakan asal direbus terlebih dahulu. Bijinya yang sudah tua, bisa untuk pengganti kacang kedelai untuk membuat tempe. Tumbuhan ini terkenal menghasilkan gatal yang ekstrem ketika disentuh, khususnya pada daun yang masih muda dan bijinya.)


"Iya buk,"


Setelah Bu Narsih ke belakang zahra pun lanjut nonton, meskipun tidak ada acara yang ia sukai dari pada diam tanpa melakukan apapun.


Baru saja lima menit nonton tv, saat Bu Narsih kembali dengan membawakan teh hangat untuk Zahra, putrinya itu sudah terlelap di atas sofa.


"Hehhh, katanya tadi sudah nggak ngantuk." gumam Bu Narsih.


Bu Narsih pun meletakkan gelas yang dia bawa di atas meja kecil di samping sofa yang menjadi tempat tidur Zahra saat ia mendengar salam dari luar.


Bu Narsih pun bergegas ke depan untuk membukakan pintu,


"Waalaikum salam," sahut Bu Narsih saat pintu sudah terbuka,


"Masuk nak."


"Dek Zahra sudah tidur Bu?" tanya ustad Zaki begitu melangkahnya kakinya masuk ke dalam rumah.


"Sudah nak, kasihan di ajak nginep saja di sini. Pulang besok saja."


"Nggeh buk,"


"Yo wes kamu pindahin ke kamar Zahra nya, ibu mau nglanjutin ngupas koro dulu."


Setelah Bu Narsih lanjut jalan ke dapur, ustad Zaki pun segera menghampiri sang istri. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat posisi tidur Zahra.


Meskipun hamil, tetap saja zahra masih bertingkah seperti gadis usia sembilan belas tahun, kakinya ia slempangkan di sandaran sedangkan kepalanya menggantung ke bawah.


Setelah mematikan tv, dengan perlahan ustad Zaki mengangkat tubuh Zahra dan membawanya ke kamar yang pintunya sudah terbuka, pasti Bu Narsih yang melakukannya.


Dengan hati-hati ustad Zaki menurunkan Zahra ke atas tempat tidur agar Zahra tidak terbangun, tapi ternyata salah. Zahra pun terbangun saat tangan ustad Zaki masih berada di bawah tubuhnya,


"Mas, sudah pulang?" tanyanya dengan suara yang serak dan tampak matanya masih sangat mengantuk.


"Hmmm,"

__ADS_1


"Yuk pulang mas," ajaknya dan hendak bangun tapi ustad Zaki segara menahan tubuh Zahra.


"Nggak usah dek, kita malam ini tidur di sini ya, kalau mau pulang besok pagi aja,"


Hehhh ....


Zahra malah menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa dek? Tetap mau pulang? Kalau iya, ya udah nggak pa pa, biar aman bawa motornya bapak aja."


Zahra menggelengkan kepalanya,


"Terus?"


Ia pun akhirnya bangun dan duduk bersila di atas tempat tidur, ia juga mengeser duduknya ke tengah agar ustad Zaki juga bisa naik ke atas tempat tidur.


"Serius banget dek."


"Mas,"


"Iya?" ustad Zaki terlihat was-was menunggu apa yang akan di katakan oleh istrinya.


"Enggak,"


"Ihhhhh, jadi mas nggak Zahra bodoh!?" protes Zahra dengan kesal.


'Ya Allah, salah ngomong lagi.' batin ustad Zaki sambil mengibaskan tangannya dengan cepat.


"Enggak dek, beneran nggak gitu. Tadi kan ku cuma jawab pertanyaan dek Zahra."


"Sama aja mas, mas nganggap kalau istri mas ini bodoh kayak orang, orang-orang yang nganggap Zahra gitu."


"Ya Allah dek, enggak. Memang siapa yang nganggap dek Zahra bodoh? Mereka pasti nggak tahu, kalau setiap orang punya kelebihannya masing-masing."


"Serius kayak gitu?"


"Iya dek, masak nggak percaya sih sama mas. Lagian istri mas ini cerdas dalam banyak hal."


Zahra mulai tersenyum sekarang tapi kembali ia teringat perkataan Ina,

__ADS_1


"Mas malu nggak kalau Zahra nggak kuliah?"


"Dek Zahra pengen kuliah?" tanya ustad Zaki balik.


"Jawab dulu mas? Atau jangan-jangan mas lagi ngincar uhti-uhti kampus ya pas ngisi materi di kampus?"


"Ya Allah dek, enggak dek. Buat mas, yang paling cantik cuma istri mas. Ya dek zahra."


"Kalau Zahra mau kuliah boleh nggak mas?"


"Boleh aja, emang dek Zahra mau kuliah?"


"Memang boleh, wanita hamil kuliah?"


"Boleh dek, beberapa mahasiswa di kampus tempat mas ngajar juga hamil dek, dan mereka masih tetap bisa menikmati masa kehamilannya."


"Ohhhh,"


Melihat jawaban Zahra berhasil membuat ustad Zaki penasaran,


"Dek Zahra tertarik buat kuliah?"


"Hmmmm," Zahra mengangukkan kepalanya, "Tapi malam ini Zahra lagi ngantuk banget, otaknya nggak bisa buat mikir. Zahra mau tidur aja." ucapnya sambil merebahkan tubuhnya.


"Mas pijit ya kakinya." ustad Zaki pun dengan sigap memijit kaki Zahra.


Hanya dalam hitungan detik saja Zahra Aysha tertidur pulas, ustad Zaki pun menyudahi pijitannya. Membetulkan posisi Zahra dan menyelimutinya, meninggalkan kecupan di kening zahra dengan cukup lama.


"Kamu anugrah terindah yang di kirim Allah buat menemani hidup mas, kamu takdir terindah yang mas nanti, insyaallah hanya dek Zahra satu-satunya." ucapnya lirih sambil kembali me mengecup pipi yang mulai tembem Milik Zahra.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2