Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Menginap di hotel (2)


__ADS_3

Setelah memastikan jantungnya baik-baik saja, ustad Zaki segera mencari kembali bajunya, dan mengambil wudhu di tempat lain karena kamar mandi tengah di pakai oleh Zahra.


Zahra yang sudah selesai mandi segera memakai handuknya, tapi sepertinya ia melupakan sesuatu.


"Mana bajuku? Perasaan tadi aku bawa!" gumamnya sambil memperhatikan gantungan baju yang ada di sampingnya, ia tidak menemukan apapun kecuali handuk kecil yang terlipat rapi.


"Aduhhhh, aku lupa lagi!?" gumamnya lagi sambil memukul kepalanya.


"Masak aku harus keluar kayak gini?" Zahra menatap pantulan dirinya di dalam cermin, ia terlihat seksi dengan handuk yang melilit tubuhnya, "Bisa makin mesum mas ustad!"


Zahra bergidik ngeri tapi terlintas di bibirnya ada sebuah senyum,


"Tapi kan kan juga udah nikah, kayaknya kalau orang-orang nikah kalau di hotel, gapain ya!?" Zahra segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menutup wajahnya sendiri merasa malu dengan apa yang ia pikirkan.


"Nggak, nggak! Aku kan masih sekolah, nanti kalau aku hamil gimana?"


"Tapi kalau ciuman aja kayaknya nggak bakal bikin hamil, kita kan sudah pernah ciuman waktu itu, walau hanya pipi sih!"


"Tapi kalau bibir?" ucapnya sambil memegangi bibirnya yang sesekali tanpa ia gigit bagian bawahnya, tiba-tiba membayangkan saja sudah berhasil membuat Zahra keringat dingin.


Zahra terus bermonolog sendiri di kamar mandi, hingga ia lupa sudah hampir satu jam ia di dalam kamar mandi.


Ustad Zaki yang awalnya ingin menunggu Zahra untuk sholat jama'ah isya' berdua, akhirnya ia urungkan karena Zahra tidak kunjung keluar.


Ustad Zaki melipat kembali sajadahnya, begitu juga dengan sarung yang ia kenakan. Ia meletakkan benda itu di atas sofa begitu juga dengan peci yang baru saja ia lepas.


Tatapannya langsung terarah ke kamar mandi, pintu itu tidak juga terbuka,


"Kenapa belum keluar juga? Apa jangan-jangan ada masalah?"


Ustad Zaki pun bergegas menghampiri pintu, punggung tangannya segera mengetuk pintu yang masih tertutup itu,


Tok tok tok


"Dek, kenapa belum keluar? Ini sudah satu jam loh, kamu nggak pa pa kan?" tanyanya begitu khawatir, ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di dalam kamar mandi.


Zahra yang tersadar sudah menghabiskan banyak waktu di kamar mandi hanya untuk memikirkan hal-hal mesum.segera memukul kepalanya sendiri.


"Bodoh!?" gumamnya pelan tapi ia tidak juga menjawab hingga panggilan itu terulang lagi.


"Dek!?"

__ADS_1


"Ahhh, iya! Bentar!" teriak Zahra kemudian. Ia tidak akan membiarkan sang suami sampai mendobrak pintu gara-gara dirinya. Tapi ia juga bingung, ia tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti itu.


"Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana kalau mas ustad langsung nafsu lihat aku kayak gini?" gumamnya pelan.


"Dek, kalau nggak keluar mas dobrak ya pintunya!"


Iya kan ...., Zahra sudah yakin suaminya akan melakukan hal itu.


Dasar nggak sabaran ...


"Jangan," teriak Zahra, "aku keluar!" Zahra dengan cepat menghampiri pintu dan membukanya tapi hanya sedikit hingga ia hanya mengeluarkan kepalanya saja.


"Aku keluar!" ucapnya dan ustad Zaki memundurkan langkahnya hingga berjarak dari pintu kamar mandi.


Tapi melihat kelakuan istrinya yang seperti itu membuat ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Kenapa tidak juga keluar?"


"Aku lupa membawa baju," ucap Zahra dengan wajah di buat sedih, "bisa minta tolong nggak ambilkan baju?"


Sebuah senyum tipis keluar dari bibir ustad Zaki dengan memalingkan wajahnya dari Zahra agar istrinya itu tidak melihat senyumnya,


"Hmmm, hemmm!" ustad Zaki sedikit berdehem untuk menormalkan suaranya baru kembali menatap ke arah sang istri,


"Masak seperti itu cara minta tolong?"


"Trus caranya gimana?" tanyanya dengan begitu polos.


"Ya gimana gitu!?" ustad Zaki malah melipat kedua tangannya di depan dada, enggan untuk beranjak dari tempatnya.


"Aku biasanya gitu kalau minta tolong!" Zahra semakin di buat bingung,


Perasaan aku mintanya sudah dengan bahasa yang sopan, masih kurang sopan juga rupanya ..., batin Zahra sambil mencari kata-kata yang menurut sang suami sopan di gunakan.


"Ya gimana gitu misalnya!" ucap ustad Zaki sambil mencondongkan pipinya ke arah Zahra sambil mengetuk pipinya dengan ujung jarinya sendiri.


"Kenapa dengan pipi mas ustad?" zahra menyentuh pipi itu tapi tidak ada apa-apa, "Nggak ada apa gitu yang nempel!"


Nggak peka ..., batin ustad Zaki kesal.


Hehhhh ....


Ia pun menghela nafas, ia harus super sabar karena menikah dengan anak sekolah,

__ADS_1


"Baiklah tunggu di situ, mas ambilkan baju!" akhirnya menyerah juga, mau bagaimana lagi Zahra masih anak sekolah walaupun berstatus istri.


Ustad Zaki segera beranjak dari tempatnya dan mengambil baju milik Zahra.


"Ini!" ucapnya sambil mengulurkan baju Zahra tanpa senyum atau embel-embel kata ramah seperti biasanya,


Masih marah ya, atau marah lagi karena hal lain? Dasar tukang marah, ngambekan, batin Zahra.


Zahra pun dengan cepat mengambilnya dan kembali menutup pintu kamar mandi.


"Dia kenapa lagi, aku kan nggak bikin kesalahan!" gumam Zahra sambil memakai satu per satu pakaiannya, "Belakangan ini mudah sekali kesal."


Setelah menyelesaikan memakai baju, Zahra pun segera keluar dari kamar mandi, ia melihat sang suami sudah duduk di sofa sambil menonton acara tv.


Zahra segera mendekati sang suami dan duduk di sampingnya,


"Mas ustad marah lagi ya?" tanya Zahra setelah ia duduk.


Bukannya menjawab, ustad Zaki malah sibuk mencari sesuatu di dalam tas, sebuah tas kecil ia keluarkan, rupanya berisi tentang perlengkapan pribadi Zahra, sisir, body lotion, serum, pelembab, bedak, skin care dan sebagainya.


"Itu punya siapa?" tanya Zahra sedikit curiga, karena memang selama ini ia tidak pernah memakai semua itu kecuali body lotion dan pelembab.


"Punya kamu!"


Kapan aku belinya? batin Zahra, tapi belum selesai dengan kebingungannya tiba-tiba ustad Zaki memutar tubuh Zahra hingga duduk membelakangi ustad Zaki, tangan ustad Zaki dengan begitu cekatan mulai menyisir rambut Zahra.


"Kalau habis mandi, sebaiknya rambutnya di sisir, biar lebih rapi!" ucap ustad Zaki dengan begitu lembut menyisir rambut Zahra, bahkan ia menagangi pangkal rambut saat merasa ada yang nyangkut dan memastikan Zahra tidak kesakitan karena sisirannya.


Ya ampun, kenapa dia lembut sekali ..., Zahra sampai tertegun di buatnya.


"Biar aku sendiri, aku bisa sendiri!" ucap Zahra yang hendak mengambil sisir dari tangan ustad Zaki tapi segera di cegah, ustad Zaki memegang tangan Zahra yang sudah terulur ke belakang.


"Aku juga bisa!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2