Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Alat kontrasepsi


__ADS_3

Ternyata kata-kata Nur terus saja terngiang, ia benar-benar tidak bisa fokus melakukan sesuatu, bahkan sepanjang hari ia terus saja bengong hingga membuat semuanya heran.


"Zahra kenapa sih?" tanya Heni pada Weni yang kebetulan melintas di depannya.


"Nggak tahu mbak, sudah dari tadi pagi kayak gitu."


"Apa Zahra sakit ya?" Heni tampak kembali mengamati wajah Zahra yang di tekuk.


"Tapi nggak pucet mbak!"


"Coba deh Wen kamu tanyain. Takutnya sakit, bisa kena semprot kita sama pak Dul!"


"Kenapa nggak mbak Heni aja, Weni belum selesai nih pekerjaannya!" ucap Weni sambil menunjukan sapu yang ada di tangannya.


"Sini sapunya!" Heni memilih mengambil sapu yang ada di tangan Weni, "Kamu kan lebih dekat sama Zahra, jadi kamu ya yang nanyain, kalau dia sakit suruh istirahat aja!"


Weni pun hanya bisa pasrah, ia berjalan mendekati Zahra yang tengah duduk di samping meja kasir seperti biasanya.


"Mbak Zahra!" sapa Weni dan Zahra hanya menatap Weni sebentar lalu kembali menyandarkan kepalanya di meja.


"Mbak Zahra sakit ya?" tanya nya dan Zahra hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau mbak Zahra sakit, lebih baik mbak Zahra istirahat di mes aja ya, biar Weni anter!"


Zahra kembali mengangkat kepalanya, ia menoleh pada Weni dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Aku nggak sakit Wen, hanya nggak mood aja. Sudah jangan khawatir, kamu kerja lagi gih, tuh ada pelanggan datang!"


Zahra segera berdiri dari duduknya karena kebetulan ada pelanggan yang datang, ia segera menghampiri meja pelanggan yang baru datang itu.


Ternyata sikap Zahra yang murung itu berlanjut hingga sore, saat mereka pulang.


Bahkan Zahra mengabaikan sapaan dari pak Dul, hal itu benar-benar membuat pak Dul khawatir.


Bahkan pak Dul sampai menanyai Weni tentang keadaan Zahra.


"Katanya tidak pa pa, pak Dul."


"Tapi_!" pak Dul tidak lagi melanjutkan perkataannya,


Mungkin Weni juga tidak tahu, aku harus tanya langsung sama mbak Zahra ....


Pak Dul pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil setelah lebih dulu Zahra dan Weni yang masuk.


Zahra tidak lagi duduk di bangku belakang, ia sengaja duduk di samping pak Dul karena takut orang-orang mengira pak Dul adalah sopirnya, meskipun pak Dul sudah mengatakan tidak pa pa, tapi Zahra tetap memaksa untuk duduk di depan sedangkan weni duduk di belakang sendiri.


"Mbak Zahra benar tidak pa pa?" tanya pak Dul setelah mobil melaju.


"Nggak pa pa, pak Dul. Serius!?"


"Kalau memang nggak enak badan, lebih baik mbak Zahra besok ijin saja biar pak Dul yang mengatakan pada bos!"


"Nggak usah pak!"


"Kalau mabk Zahra berubah pikiran, mbak Zahra bisa mengatakannya pada ustad Zaki, biar beliau yang mengatakan ke pak Dul!"


"Iya!" Zahra menjawab pak Dul singkat, ia sengaja tengah malas untuk berdebat, "Oh iya pak Dul, nanti sampai di apotek depan berhenti dulu ya!?"


"Mau beli apa mbak, biar pak Dul yang belikan!?"


"Nggak perlu pak Dul, Zahra cuma mau beli vitamin!"


"Baiklah!"


Akhirnya benar saja, setelah sampai di apotek Zahra pun pamit turun sebentar.


"Tunggu sebentar ya, pak!"

__ADS_1


"Iya mbak!"


Zahra turun sendiri, ia berjalan cepat masuk ke apotek. Tapi sampai di dalam ia malah terlihat bingung.


"Mau cari obat apa dek?" tanya salah satu pegawai apotek, kebetulan apotek cukup ramai.


"Saya_, saya mau cari pil kontrasepsi yang paling bagus ada?" tanyanya, ia tadi sempat browsing di internet tentang jenis-jenis kontrasepsi. Ia tidak mungkin datang ke dokter untuk pasang IUD atau spiral atau juga suntik KB, yang paling masuk akal untuk pelajar sepertinya hanya pil KB.


Seketika Zahra langsung mendapat tatapan aneh dari pelanggan apotek lainnya.


"Saya cari pil kontrasepsi untuk ibuk saya, iya, untuk ibuk!" Zahra segera menjelaskan pada orang-orang meskipun tidak dimintai penjelasan, karena tatapan mereka sudah cukup menjelaskan apa yang tengah mereka pikirkan.


"Tunggu sebentar ya dek!" akhrinya karyawan apotek pun mulai mencarikan beberapa merk dari pil kontrasepsi dan meletakkan secar berjejer di atas etalase.


"Mau pilih ya mana, dek?"


Yang mana ya yang paling bagus ..., Zahra tampak ragu memilihnya.


"Aku ambil semuanya deh kak!" ucap Zahra sambil menggeser semuanya pil kontrasepsi itu pada karyawan apotek.


"Yakin dek?"


"Iya!"


"Baiklah, tunggu sebentar ya!" ucap apoteker itu, ia tampak menghitung jumlah belanjaan Zahra.


"Total semuanya seratus lima belas ribu, mau tambah lagi?"


Kalau aku nggak beli vitamin, pak Dul pasti curiga ...., batin Zahra.


"Aku mau vitamin juga mbak!"


"Berapa dek?"


Zahra mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan, "Ini sisanya semuanya vitamin ya mbak!" ucap Zahra.


"Tablet!"


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Akhirnya sang apoteker kembali mengambilkan beberapa tablet vitamin untuk Zahra dan memasukkan ke dalam kantong plastik yang sama dengan yang menjadi tempat pil kontrasepsi.


"Terimakasih, mbak!" ucap Zahra yang kemudian pergi meninggalkan apotek.


"Maaf ya pak nungguin lama!" ucap Zahra setelah sampai di dalam mobil.


"Iya mbak, banyak sekali beli vitaminnya?" tanya pak Dul.


"Ahhh ini, untuk stok aja pak. Kan ini lagi musimnya panca roba pasti bakal rawan sakit!" ucap Zahra beralasan, ia segera menoleh ke belakang menanyakan pada Nur, "Nur, kamu mau vitamin? Aku beli banyak!"


"Nggak usah mbak. Biasanya ibuk buatkan jamu untuk menjaga daya tahan tubuh!"


"Ohhh gitu!"


Akhrinya pak Dul melajukan mobilnya meninggalkan halaman apotek.


***


Waktu yang paling di tunggu Zahra adalah badha isya', di saat itu ia bisa melihat wajah sang suami, bisa mendengar suaranya dan yang paling membuatnya rindu adalah bisa berdebat dengannya.


"Assalamualaikum, mas!" sapa Zahra dengan senyum manisnya yang sudah memenuhi layar ponsel snag suami.


"Waalaikum salam, istriku!" jawab ustad Zaki yang tidak kalah manis. "Lagi ngapain?"


"Lagi telponan sama suamiku!"


"Akhirnya!"

__ADS_1


"Akhirnya kenapa??" tanya Zahra bingung.


"Akhirnya wanita cantik ini bisa mengakuiku sebagai suaminya!?"


"Ihhhh, apaan sih!?" Zahra terlihat malu-malu.


"Bagaimana keadaan dek Zahra? Dek Zahra baik-baik saja kan?"


"Iya, baik-baik saja!"


"Kata pak Dul kamu beli vitamin banyak buat apa?"


Jadi pak Dul bilang sama mas ustad ..., batin Zahra. Ia tidak menyangka pak Dul akan laporan pada sang suami.


"Nggak pa pa mas, Zahra kan harus jaga kesehatan biar magangnya nggak keganggu gara-gara Zahra sakit!"


"Tapi kamu nggak suka minum vitamin kan?"


"Hahhh, enggak! Maksudnya suka, siapa bilang nggak suka!?"


"Ohhh, mungkin mas yang salah!"


"Ya memang begitu, mas suka sok tahu sihhh!"


"Ya sudah, mas lagi nggak mau berdebat. Bagaimana kalau kita romantis-romantisan?"


Zahra tersenyum dan menganggukkan kepalanya cepat.


"Terimakasih ya dek!"


"Terimakasih buat apa mas?"


"Karena keberanian dek Zahra melamar, mas! Mas tahu bagaimana caranya mencintai!"


"Mas nggak menyesal karena kelakuanku itu?"


"Mas tidak pernah menyesali apapun yang terjadi dalam hidup mas, jika kamu tahu bagaimana aku di masa lalu, mungkin kamu akan mempertimbangkan untuk mencintaiku!"


"Memang kenapa masa lalu mas ustad?"


"Nanti saat sudah waktunya, dek Zahra pasti akan mengetahui semuanya. Insyaallah mas yang akan mengatakan semuanya sendiri."


"Ihhhh, bikin penasaran saja!"


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Sama seperti rindu, rasa penasaran itu juga akan menyiksa. Dan aku tidak mau membuat dek Zahra tersiksa, jalani saja apa yang ada hari ini, biarlah kedepannya menjadi ketentuan Tuhan!"


"Lalu bagaimana dengan rindu ini? Jika menurut mas ustad rindu ini menyiksa, kenapa mas biarkan Zahra menderita karena terlalu lama merindu?"


Ustad Zaki tersenyum, "Sejak kapan dek Zahra pandai berkata-kata seperti itu?"


"Sejak seseorang mengenalkan aku tentang bagaimana sakitnya rasa rindu, bagaimana manisnya pertemuan dan bagaimana hangatnya mencintai!"



...Jika memang cinta itu butuh syarat, maka biarkan yang menjadi syaratnya adalah aku. Ya, kamu mencintaiku karena adanya aku di dunia ini dan aku juga mencintaimu karena itu aku, bukan orang lain ataupun hal yang lain...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2